Bulan Kesadaran Kanker Darah 2025: Kenali Tanda-Tanda Multiple Myeloma

Bulan Kesadaran Kanker Darah 2025: Kenali Tanda-Tanda Multiple Myeloma

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Bulan Kesadaran Kanker Darah 2025: Kenali Tanda-Tanda Multiple Myeloma, banyak fakta menarik yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.
Featured Image

Pentingnya Deteksi Dini dalam Menghadapi Multiple Myeloma

Dalam memperingati Bulan Kesadaran Kanker Darah September, salah satu jenis kanker darah yang sering terabaikan adalah Multiple Myeloma. Meskipun tidak sepopuler kanker lainnya, kondisi ini tetap menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Di Indonesia, terdapat lebih dari 3.000 kasus baru Multiple Myeloma setiap tahun. Sayangnya, banyak pasien hanya mengetahui kondisinya ketika kerusakan organ telah terjadi atau pada stadium akhir. Hal ini menyebabkan pengobatan menjadi lebih sulit dan mengurangi peluang kesembuhan.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, Multiple Myeloma menempati peringkat ke-19 dari semua jenis kanker di Indonesia, dengan estimasi sekitar 3.289 kasus baru per tahun. Angka ini mencerminkan bahwa penyakit ini masih menjadi beban kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan.

Apa Itu Multiple Myeloma?

Multiple Myeloma adalah jenis kanker darah yang berkembang pada sel plasma di sumsum tulang. Sel plasma bertugas menghasilkan antibodi untuk melindungi tubuh dari infeksi. Namun, pada kondisi ini, sel plasma abnormal atau sel myeloma mulai tumbuh secara berlebihan dan menghasilkan antibodi yang tidak efektif.

Pertumbuhan sel myeloma biasanya terjadi di banyak area pada sumsum tulang, sehingga disebut "multiple" myeloma. Penyakit ini juga dikenal sebagai plasma cell myeloma. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada produksi sel darah sehat dan menekan fungsi organ penting seperti ginjal dan sistem imun.

Faktor Risiko yang Perlu Diperhatikan

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena Multiple Myeloma antara lain:

  • Usia lanjut
  • Riwayat keluarga
  • Jenis kelamin laki-laki
  • Paparan radiasi atau bahan kimia tertentu secara berulang
  • Berat badan berlebih
  • Riwayat kelainan sel plasma

Penyakit ini sering disalahartikan karena gejalanya mirip dengan osteoporosis. Kerusakan tulang dapat terjadi pada area sumsum tulang aktif seperti tulang belakang, tengkorak, panggul, dan tulang rusuk. Hal ini dapat menyebabkan patah tulang serta kadar kalsium tinggi dalam darah.

Selain itu, produksi sel darah merah juga akan terganggu, sehingga pasien sering mengalami anemia, infeksi berulang, atau perdarahan. Komplikasi serius juga bisa muncul pada ginjal dan melemahnya sistem imun.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala Multiple Myeloma sering tidak dikenali sejak awal karena terlalu umum. Beberapa gejala yang mungkin dialami meliputi:

  • Sering merasa haus, dehidrasi
  • Sering buang air kecil
  • Gangguan ginjal
  • Sembelit, sakit perut
  • Badan lemah, sering mengantuk
  • Sesak napas berkepanjangan
  • Gatal-gatal
  • Kaki bengkak
  • Pusing
  • Mudah berdarah, sering infeksi
  • Anemia
  • Nyeri pada tulang pinggul, punggung, atau kepala
  • Tulang rapuh hingga patah tulang
  • Kerusakan saraf atau sumsum tulang belakang

Karena gejala yang tidak spesifik, deteksi dini menjadi tantangan terbesar dalam pengobatan Multiple Myeloma.

Peran Edukasi dan Deteksi Dini

Menurut Prof. Ikhwan Rinaldi, konsultan Hematologi-Onkologi Medik, literasi dan pemahaman masyarakat di Indonesia masih rendah terhadap Multiple Myeloma. Oleh karena itu, edukasi dan penyebaran informasi melalui media sangat penting agar masyarakat lebih waspada.

Saat ini, tersedia berbagai pilihan terapi untuk pasien Multiple Myeloma di Indonesia, baik secara oral maupun infus. Mulai dari kemoterapi, kortikosteroid, imunomodulator, hingga terapi inovatif seperti proteasome inhibitor.

Seiring perkembangan terapi, peluang pasien untuk mempertahankan kualitas hidup semakin besar. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk segera bertindak jika merasakan gejala yang mencurigakan. Semakin cepat diagnosis dilakukan, semakin cepat pengobatan bisa diberikan.

Kesimpulan: Semoga informasi ini berguna bagi kesehatan Anda dan keluarga. Utamakan kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar