
aiotrade.appHarga cabai di Kota Malang kembali menanjak tajam, menimbulkan keresahan di kalangan pedagang maupun masyarakat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Bunul, harga cabai keriting dan cabai besar kini berada di kisaran Rp 55.000 hingga Rp 60.000 per kilogram.
Bahkan, beberapa jenis cabai rawit dilaporkan telah menembus angka Rp 100.000 per kilogram.
Kenaikan drastis ini menandakan adanya permasalahan serius dalam rantai pasokan dan pengelolaan lahan pertanian di wilayah tersebut.
Menurut para pedagang, stok cabai yang masuk ke pasar kini jauh lebih sedikit dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Nasir, salah satu pedagang sayur di Pasar Bunul, mengaku bahwa pasokan cabai yang ia terima hanya sekitar setengah dari jumlah biasanya.
“Kalau dulu saya bisa jual 10 kilogram per hari, sekarang paling 4 atau 5 kilogram saja. Karena stoknya minim, harganya otomatis naik,” ujarnya.
Kondisi ini diperkuat oleh data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga (Siskaperbapo) Jawa Timur yang menunjukkan adanya tren kenaikan signifikan.
Pada 6 Oktober 2025, harga cabai merah keriting tercatat mencapai Rp 47.560 per kilogram, sedangkan cabai merah besar menyentuh Rp 45.009 per kilogram.
Sebelumnya, cabai rawit sempat mencetak rekor hingga Rp 110.000 per kilogram pada awal tahun.
Namun, masalah kali ini tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca atau gangguan pasokan biasa.
Salah satu penyebab utama yang mulai disorot adalah kebijakan pemerintah dalam program swasembada jagung.
Program ini mendorong petani di berbagai daerah untuk mengalihkan lahan hortikultura, termasuk lahan cabai, menjadi ladang jagung.
Pemerintah pusat diketahui menargetkan pengembangan lahan jagung hingga 1 juta hektare di 19 provinsi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Program ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor pakan ternak dan memperkuat sektor pertanian lahan kering.
Namun, dampak tidak langsungnya mulai terasa di sektor hortikultura seperti cabai dan sayuran lain.
Banyak petani di Jawa Timur, termasuk sebagian di Malang Raya, memilih beralih menanam jagung karena insentif dan jaminan pasar yang lebih jelas.
Akibatnya, lahan yang sebelumnya menjadi sumber pasokan cabai kini menyusut drastis.
“Petani lebih memilih jagung karena hasilnya lebih stabil. Sementara harga cabai sering naik turun dan resikonya besar,” ungkap salah satu pengepul cabai di wilayah Pakis.
Kebijakan ini memang disambut positif oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menilai program tanam jagung turut mendukung ketahanan pangan nasional.
Bahkan, beberapa pihak seperti aparat kepolisian turut membantu dalam program penanaman jagung sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor.
Namun, di sisi lain, sejumlah pengamat dan anggota DPRD Jawa Timur memperingatkan adanya risiko besar dari alih fungsi lahan yang terlalu masif.
Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan petani hortikultura dan mengancam stabilitas harga bahan pokok lain seperti cabai, tomat, dan bawang.
“Jika lahan hortikultura terus menyusut, maka kita akan menghadapi krisis pasokan yang membuat harga pangan melonjak seperti sekarang,” ujar salah satu anggota dewan dalam rapat evaluasi pertanian daerah.
Turunnya pasokan cabai juga berdampak langsung pada perilaku konsumsi masyarakat.
Nasir, pedagang Pasar Bunul, mengaku bahwa pelanggan kini membeli cabai dalam jumlah lebih sedikit.
“Biasanya orang beli setengah kilo atau satu kilo, sekarang cuma beli seperempat atau segenggam buat sekali masak. Mereka bilang uang belanja sudah tidak cukup,” tuturnya.
Daya beli masyarakat yang melemah di tengah kenaikan harga pangan menambah tekanan ekonomi lokal, terutama di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah.
Bagi pelaku usaha kuliner di Malang, lonjakan harga cabai juga menjadi tantangan berat karena bahan baku utama masakan pedas menjadi semakin mahal.
Melihat kondisi ini, sejumlah pakar pertanian menilai pemerintah perlu meninjau kembali arah kebijakan alih fungsi lahan.
Perlu adanya keseimbangan antara peningkatan produksi jagung dan perlindungan terhadap tanaman hortikultura strategis.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah pemberian insentif kepada petani cabai, baik berupa subsidi benih, dukungan distribusi pupuk, maupun jaminan harga minimal.
Selain itu, pemerintah daerah diharapkan dapat menetapkan zona pertanian hortikultura yang tidak boleh dialihfungsikan demi menjaga stabilitas pasokan.
Pengawasan penggunaan lahan juga harus diperkuat agar program tanam jagung tidak mengorbankan sektor pertanian lain.
Lonjakan harga cabai di Kota Malang menjadi peringatan bahwa kebijakan pangan nasional harus dirancang secara menyeluruh, bukan sektoral.
Program swasembada jagung memang penting, tetapi tanpa perlindungan terhadap petani cabai dan sayuran, masyarakat justru akan menanggung akibatnya melalui harga pangan yang semakin tidak terjangkau.***
Komentar
Kirim Komentar