Kapal Perang AS Dekat Venezuela, Berlabuh di Trinidad dan Tobago

Kapal Perang AS Dekat Venezuela, Berlabuh di Trinidad dan Tobago

Kabar dunia hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Kapal Perang AS Dekat Venezuela, Berlabuh di Trinidad dan Tobago tengah menjadi perhatian global. Berikut laporan selengkapnya.


PORT OF SPAIN, aiotrade.app
- Sebuah kapal perang Amerika Serikat (AS) berlabuh di ibu kota Trinidad dan Tobago pada Minggu (26/10/2025), di tengah meningkatnya tekanan "Negeri Paman Sam" kepada Venezuela.
Kapal perusak berpeluru kendali USS Gravely itu tiba di Port of Spain, bersamaan dengan kapal induk USS Gerald R Ford yang bergerak mendekati wilayah Venezuela.
Pengerahan kapal tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dengan Caracas. Washington menuding adanya pengiriman narkoba melalui jalur laut dari Venezuela.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Trinidad dan Tobago merupakan tetangga dekat dan berbatasan langsung dengan Venezuela, sebagaimana dilansir.
Dua negara ini hanya dipisahkan oleh Selat Paria dan Kanal Columbus yang sempit. Istilahnya, jarak antara Trinidad dan Tobago hanyalah "sejengkal" karena hanya bertaut beberapa kilometer saja lewat jalur laut.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengecam langkah tersebut dan menyebutnya sebagai upaya AS untuk menciptakan perang abadi baru terhadap negaranya.
Pejabat pemerintah AS dan Trinidad dan Tobago mengatakan, kapal perang tersebut akan berada di negara itu hingga Kamis (30/10/2025) mendatang untuk melakukan latihan bersama dan pelatihan kemanusiaan.
Seorang pejabat militer Trinidad dan Tobago mengatakan kepada bahwa kedatangan kapal itu baru dijadwalkan beberapa waktu lalu.
Dia enggan disebutkan namanya karena tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada publik.

Perdana Menteri Trinidad dan Tobago Kamla Persad-Bissessar dikenal sebagai pendukung kuat kehadiran militer AS serta operasi serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkoba di perairan Venezuela.

Kapal narkoba
Pasukan AS diketahui telah menenggelamkan sedikitnya 10 kapal yang diklaim sebagai kapal penyelundup narkoba, menewaskan lebih dari 40 orang.
Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan melakukan serangan darat terhadap kartel narkoba di wilayah Venezuela.
Dua warga Trinidad dilaporkan tewas dalam salah satu serangan terhadap kapal yang berangkat dari Venezuela pada pertengahan Oktober.
Ibu salah satu korban menegaskan bahwa putranya adalah seorang nelayan, bukan penyelundup narkoba.

Pejabat sementara Kedutaan Besar AS di Trinidad dan Tobago, Jenifer Neidhart de Ortiz, menyatakan bahwa latihan bersama tersebut bertujuan menghadapi ancaman lintas negara dan memperkuat ketahanan melalui pelatihan, misi kemanusiaan, dan kerja sama keamanan.
Kedatangan kapal perang itu terjadi sepekan setelah Kedutaan Besar AS memperingatkan warganya untuk menjauhi fasilitas pemerintah AS di Trinidad dan Tobago, menyusul laporan adanya ancaman terhadap warga Amerika.

Warga menolak
Namun, sebagian warga setempat mengkritik kehadiran kapal perang AS tersebut.
"Kalau terjadi sesuatu antara Venezuela dan Amerika, kami yang tinggal di dekatnya bisa saja terkena dampaknya," ujar Daniel Holder (64) salah satu warga Trinidad Tobago.
"Saya menolak negara saya terlibat dalam hal ini," tambahnya.

Dalam aksi protes di depan Kedutaan Besar AS, pemimpin partai Movement for Social Justice David Abdulah menilai pemerintah tidak seharusnya mengizinkan kapal perang asing berlabuh di wilayahnya.
"Ini kapal perang yang berlabuh di Trinidad, hanya beberapa kilometer dari Venezuela, saat ancaman perang meningkat," kata Abdulah.

Sementara itu, blok perdagangan kawasan Karibia, Caricom, yang beranggotakan 15 negara, menyerukan dialog dan penyelesaian damai.
Trinidad dan Tobago merupakan salah satu anggota Caricom, namun Persad-Bissessar menilai kawasan itu tidak bisa disebut zona damai karena masih tingginya angka kejahatan dan pembunuhan.

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Ikuti terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar