
Kehilangan Segalanya di Usia Senja
Di atas lantai dingin yang masih berlumur lumpur, dua perempuan lanjut usia duduk berdampingan. Tidak ada dinding, tidak ada atap, hanya sisa pertapakan rumah yang menjadi saksi bahwa di tempat itulah dulu mereka menjalani hidup. Nafsiah (65) dan Salbiah (70), merupakan dua lansia sekandung yang kehilangan segalanya di usia senja.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Nafsiah (65), dengan kerudung merah yang mulai pudar warnanya, menatap lurus ke depan. Di sampingnya, sang kakak, Salbiah (70), terdiam lebih lama, seolah mencoba mengingat kembali bentuk rumah yang kini lenyap ditelan banjir.
Sabtu (20/12/2025) siang itu, keduanya kembali ke Desa Pante Baro Gle Siblah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen. Mereka datang bukan untuk membangun, melainkan sekadar berharap, siapa tahu masih ada barang yang tersisa, sesuatu yang bisa diselamatkan dari reruntuhan. Harapan yang sederhana, tapi berat bagi dua nenek yang saat bencana hanya mampu menyelamatkan diri dengan pakaian di badan.
“Rumah kami sudah tidak ada lagi. Habis dihantam banjir,” ucap Nafsiah lirih, nyaris tenggelam oleh suara warga lain yang masih sibuk membersihkan lumpur.
Menatap Hidup dengan Hampa
Malam itu, Rabu (26/11/2025), sekitar pukul 20.00 WIB, hujan turun deras. Gemuruh air terdengar semakin dekat, semakin mengancam. Air naik dengan cepat. Tanpa sempat berpikir panjang, Nafsiah dan Salbiah bergegas keluar rumah. Tak ada waktu mengambil kain, apalagi barang berharga. Mereka hanya berpegangan satu sama lain, lalu duduk menumpang di sebuah rumah permanen milik warga lain.
Malam terasa panjang. Air tak kunjung surut. Hingga pagi menjelang, ketinggian air sudah mencapai leher. Dengan sisa tenaga yang ada, keduanya berenang menuju tempat yang lebih aman. “Kami keluar hanya dengan baju di badan. Tidak sempat ambil apa-apa,” kenang Nafsiah.
Sejak saat itu, mereka mengungsi bersama warga lain di salah satu dayah di desa. Hari-hari dilalui dengan satu tas kecil berisi beberapa barang seadanya.
Kini, saat kembali ke lokasi rumah, yang tersisa hanyalah lantai. Atap rumah mereka masih tersangkut di dahan pohon, sementara piring, kendi air, dan perabot rumah tangga bercampur dengan tumpukan kayu bawaan banjir. Pandangan mata kedua lansia itu tampak kosong. Duduk berdekatan, mereka lebih banyak diam, seakan kehilangan kata-kata untuk menggambarkan perasaan melihat rumah yang dibangun bertahun-tahun lenyap dalam semalam.
Di sekitar mereka, Desa Pante Baro Gle Siblah masih dipenuhi lumpur tebal. Sejumlah rumah rusak parah. Warga terlihat bergotong royong membersihkan sisa-sisa banjir. Badan jalan memang sudah bisa dilalui, namun di kiri dan kanan, lumpur setinggi lebih dari satu meter masih menggunung.
Dampak Banjir yang Luar Biasa
Camat Peusangan Siblah Krueng, Afrizal, menyebutkan dampak banjir kali ini sangat besar. Di kecamatan tersebut, sebanyak 33 rumah hilang, 758 unit rusak berat, dan 127 rumah rusak ringan. Jumlah pengungsi mencapai 1.647 jiwa yang tersebar di berbagai lokasi—mulai dari meunasah, dayah, balai pengajian, kantor keuchik, hingga saung tani.
Di antara angka-angka itu, kisah Nafsiah dan Salbiah menjadi potret paling sunyi dari bencana. Dua kakak beradik yang di usia senja harus kembali belajar bertahan, tanpa rumah, tanpa harta, hanya berbekal satu sama lain dan harapan akan uluran tangan sesama.
Kehidupan yang Berubah Sepenuhnya
Setiap hari, Nafsiah dan Salbiah berusaha tetap kuat meski hidup mereka telah berubah sepenuhnya. Mereka tidak memiliki tempat tinggal yang pasti, hanya mengandalkan bantuan dari warga sekitar. Namun, meskipun begitu, keduanya tetap saling mendukung satu sama lain. Mereka berharap suatu hari nanti, kehidupan mereka bisa kembali normal, meski hanya sedikit.
Dalam situasi seperti ini, kekuatan mental dan rasa solidaritas sesama manusia menjadi hal yang sangat penting. Nafsiah dan Salbiah adalah contoh nyata betapa pentingnya dukungan sosial dalam menghadapi bencana alam. Mereka mungkin kehilangan rumah, tetapi tidak kehilangan harapan.
Komentar
Kirim Komentar