Mengapa Perasaan Menurun Saat Langit Mendung

Mengapa Perasaan Menurun Saat Langit Mendung

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Mengapa Perasaan Menurun Saat Langit Mendung, banyak fakta menarik yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pengaruh Cuaca terhadap Emosi dan Kesehatan Mental

Pernahkah Anda merasa sedih atau murung saat langit gelap dan hujan turun terus-menerus? Ternyata, ada dasar ilmiah di balik perasaan tersebut. Sebuah jurnal yang ditulis oleh Weida Zhang dari Huaibei Normal University di Tiongkok menjelaskan bahwa kondisi cuaca memang berdampak pada emosi dan kesehatan mental manusia.

Dalam jurnal berjudul How Weather Conditions Affect Well-Being: An Explanation from the Perspective of Environmental Psychology, Zhang bersama Wenzhang Li dari Jiangxi Normal University mengungkapkan bahwa kesejahteraan psikologis seseorang dapat berubah sesuai dengan kondisi cuaca di sekitarnya. Mereka menganalisis 91 penelitian ilmiah yang diterbitkan selama lebih dari satu abad, mulai dari tahun 1900 hingga 2023.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perasaan

Peneliti menemukan bahwa cahaya matahari, suhu, kelembapan, dan kualitas udara menjadi faktor utama yang memengaruhi suasana hati. Saat sinar matahari berkurang, tubuh memproduksi lebih banyak melatonin (hormon pengatur tidur), sehingga seseorang mudah lelah dan cenderung murung. Sebaliknya, paparan cahaya alami membantu menekan produksi melatonin dan meningkatkan serotonin (zat kimia otak yang mengatur rasa bahagia).

Zhang juga menyebutkan bahwa paparan sinar matahari yang cukup meningkatkan produksi vitamin D, nutrisi penting yang membantu mencegah depresi. Cuaca gelap dan lembap menurunkan kadar vitamin D dalam tubuh, yang kemudian berdampak pada kestabilan mood seseorang.

Suhu dan Kelembapan yang Berpengaruh

Selain itu, suhu ekstrem dan kelembapan tinggi juga memengaruhi kenyamanan fisik dan psikologis. Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa suhu ideal yang paling mendukung kebahagiaan berada di kisaran 10–21 derajat Celsius. Suhu terlalu panas atau dingin menurunkan kenyamanan dan memicu stres. “Cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko depresi, terutama pada orang tua dan remaja,” tulis Zhang dalam laporannya.

Kualitas Udara yang Memengaruhi Kesehatan Mental

Faktor lingkungan lain yang berpengaruh adalah kualitas udara. Peneliti menemukan bahwa polusi udara dengan kadar PM2.5 (partikel debu halus berukuran di bawah 2,5 mikrometer) dapat menurunkan kebahagiaan dan meningkatkan tekanan psikologis. Udara bersih dan paparan alam terbuka berperan besar dalam menjaga keseimbangan mental.

Perbedaan Respons terhadap Cuaca

Meski begitu, dampak cuaca tidak sama pada setiap individu. Efeknya tergantung pada usia, jenis kelamin, serta gaya hidup. Orang yang rutin berolahraga, sering beraktivitas di luar ruangan, dan menjaga asupan nutrisi lebih tahan terhadap pengaruh cuaca terhadap suasana hati.

Kesimpulan dan Saran

Zhang dan Li menyimpulkan bahwa memahami hubungan antara cuaca dan emosi penting bagi kesehatan publik. Mereka menyarankan agar masyarakat tetap aktif bergerak dan mencari paparan cahaya alami, bahkan di hari mendung. Peningkatan pencahayaan di ruang kerja dan rumah juga dapat membantu menjaga kestabilan suasana hati.

Cuaca memang tidak bisa dikendalikan, tetapi respons tubuh terhadapnya bisa dikelola. Menurut penelitian ini, menjaga keseimbangan antara aktivitas, paparan cahaya, dan udara segar bisa menjadi kunci agar suasana hati tetap stabil di segala musim.

Kesimpulan: Semoga informasi ini berguna bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar