
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Sejarah dan Keberadaan Pondok Boro di Semarang
Pondok Boro adalah salah satu tempat tinggal murah yang telah bertahan sejak sebelum masa kemerdekaan, berada di tengah perkampungan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah. Tempat ini menawarkan tarif menginap yang sangat terjangkau, yaitu Rp 4.000 per hari. Meskipun bangunannya jauh dari standar hunian yang layak, kesederhanaan Pondok Boro telah menjadi tempat istirahat bagi para perantau yang mencari peruntungan di Kota Semarang selama puluhan tahun.
Penghuni dan Fasilitas Dasar
Sebagian besar penghuni Pondok Boro adalah pedagang asongan, pedagang perabot, dan kuli kasar yang bekerja di Pasar Johar Semarang serta tempat keramaian lainnya. Taryono, penjaga Pondok Boro yang telah bekerja di sana selama 15 tahun, menjelaskan bahwa tidak banyak yang berubah sejak ia pertama kali datang. “Pondok Boro ini dihuni oleh penginap aktif sekitar 90-an orang, dan jika dihitung mungkin sampai 200-an orang,” ujarnya.
Ketika memasuki lorong Pondok Boro, terlihat deretan dipan kayu panjang dalam beberapa bilik. Terdapat bilik tengah, bilik lor, bilik kidul, bilik loteng, dan bilik Sragen. Dengan alas spanduk bekas dan lemari kayu, para penghuni menyesuaikan tempat tinggal mereka. Pondok Boro juga menyediakan fasilitas dasar seperti kamar mandi dan listrik.
Awal Mula Berdirinya Pondok Boro
Taryono menjelaskan bahwa sejarah Pondok Boro bermula dari masa kolonial Belanda, ketika bangunan tersebut berfungsi sebagai gudang rempah-rempah atau kayu di kawasan pelabuhan. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dialihfungsikan menjadi tempat tinggal bagi para perantau yang kesulitan menemukan hunian murah di Kota Semarang.
“Awalnya, daerah Kauman dan sekitaran Pasar Johar banyak dihuni pedagang asongan, kuli kasar, dan masyarakat kecil perantau yang tidur di emperan pasar atau pertokoan saat malam. Setelah kemerdekaan, bangunan ini menjadi tempat tinggal bagi mereka,” ujarnya.
Pembayaran dan Upaya Sosial
Pondok Boro menerapkan proses pembayaran yang tidak memberatkan penghuninya. Setiap minggu, ada imbauan untuk mencicil agar tidak menumpuk tunggakan. Ada penghuni yang membayar secara bulanan, dan sebagian lainnya membayar per hari setelah menghitung keuntungan dari jualan harian.
“Kadang biaya sewa kami gunakan untuk renovasi, meskipun tidak secara spesifik, hanya tambal sulam tembok saja. Jika renovasi total, mungkin biayanya bisa ratusan juta,” tambah Taryono. Ia menekankan bahwa Pondok Boro tidak berorientasi pada keuntungan, melainkan sebagai upaya sosial untuk membantu pendatang baru dan masyarakat kecil perkotaan mendapatkan hunian layak dan murah.
“Penginapan Pondok Boro ini sifatnya sosial. Jika dihitung pun, sepertinya keuntungannya tidak sebanding. Bayar listrik sebulan bisa hampir satu juta, dan pajak bumi bangunan (PBB) bisa mencapai jutaan per tahun,” ujarnya.
Pengalaman Maryadi di Pondok Boro
Maryadi, salah satu penghuni Pondok Boro tertua, menjelaskan bahwa ia telah tinggal di sana sejak lahir sekitar tahun 1955. Ia mengaku bahwa Pondok Boro sudah menjadi bagian penting dari perjuangan hidupnya. “Ibu saya dulu mempunyai warung di dekat Sungai Koping. Karena ada penggusuran bantaran sungai tahun 1985, ibu saya akhirnya berjualan di depan Pondok Boro, sehingga saya memutuskan untuk tinggal di sini,” ujarnya.
Maryadi, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pembuat kaca rias, mengenang perjuangannya tinggal di Pondok Boro, termasuk pengalaman mengalami banjir. “Dulu, waktu Kali itu masih sering banjir, kamar kami bisa terendam banjir sampai semata kaki,” ujarnya.
Bagi Maryadi dan penghuni lainnya, tinggal di Pondok Boro mungkin bukan bagian dari impian, tetapi merupakan pilihan untuk bertahan hidup. Ia menjelaskan bahwa Pondok Boro telah membantu ratusan bahkan ribuan perantau yang kesulitan mendapatkan hunian sementara di Kota Semarang.
“Bagi kami, yang terpenting adalah bisa istirahat. Dalam kondisi seperti ini, kami masih merasa senang dan sudah cukup untuk hidup,” tambahnya.
Komentar
Kirim Komentar