
Sejarah dan Keunikan Kampung Bang Inggris di Semarang
Kampung Bang Inggris, yang terletak di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, dikenal sebagai kawasan yang menyimpan banyak bangunan kuno bersejarah. Di tengah kampung ini, beberapa rumah tua masih berdiri kokoh, menunjukkan karakteristik arsitektur yang unik dan berbeda dari bangunan modern.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Salah satu rumah yang menarik perhatian adalah sebuah bangunan dengan fasad bagian atas yang tertera angka "1921". Angka ini menunjukkan bahwa rumah tersebut dibangun sejak tahun tersebut. Meskipun hanya rumah ini yang memiliki angka tahun tersebut, beberapa rumah lainnya juga memiliki ciri khas serupa, seperti tiga pintu utama yang tersusun sejajar dari depan hingga belakang rumah. Selain itu, penggunaan kayu jati dalam struktur bangunan menjadi salah satu ciri khas yang memperkuat keunikan bangunan tersebut.
Rumah ini kini dihuni oleh Zaenuri, pemilik yang juga menjabat sebagai Ketua RW VIII di kelurahan tersebut. Menurut Zaenuri, rumah ini telah dibangun sejak masa kakeknya, Haji Maksum. Ia menjelaskan bahwa sejarah bangunan ini berasal dari cerita ayahnya, yang mengatakan bahwa rumah ini dibangun sekitar tahun 1921. Dengan melihat usia ayahnya yang lahir pada tahun 1927, Zaenuri menduga bahwa rumah ini dibangun oleh kakeknya, Haji Maksum, sehingga sudah melewati empat generasi.
Meski telah mengalami beberapa kali perbaikan, bangunan ini tetap mempertahankan bentuk aslinya. Zaenuri juga menjelaskan bahwa dulu ada sistem "sorokan" yang digunakan untuk menutupi rumah ketika ada tentara penjajah. Struktur bangunan ini dibangun dengan teknik tradisional tanpa menggunakan pondasi beton. Dinding-dinding awalnya dibuat dari campuran pasir dan kapur, sedangkan bagian bawah hanya ditopang oleh batu bata yang ditumpuk tanpa tulangan besi. Kayu jati digunakan sebagai penguat dan penyangga, yang menurut Zaenuri masih kokoh hingga saat ini.
Ciri khas lain dari rumah ini adalah adanya tiga pintu utama yang tersusun sejajar. Ciri ini juga ditemukan di sejumlah rumah lain yang masih mempertahankan bentuk aslinya di kampung tersebut. Zaenuri menyebutkan bahwa total ada enam keluarga yang masih mempertahankan bangunan seperti ini. Ia mengungkapkan alasan mempertahankan bangunan ini agar tetap lestari, karena ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga hubungan kekeluargaan antara sanak saudara.
Menurut Zaenuri, kampung ini dulunya dihuni oleh banyak keluarga besar Haji Maksum. Meski kini hanya tersisa beberapa rumah, hubungan kekeluargaan tetap terjalin, bahkan di kampung sebelah masih ada tiga rumah yang dihuni oleh cucu dan cicit Haji Maksum. Ia merasa penting untuk terus menghubungkan sanak saudara agar tetap berkumpul dan saling mengenal.
Pemerhati sejarah Kota Semarang, Johanes Christiono, menjelaskan bahwa keberadaan kampung Bang Inggris tidak lepas dari masa pendudukan Inggris di Pulau Jawa. Kampung ini menyimpan jejak historis yang jarang diketahui, termasuk mulai berdirinya rumah-rumah. Menurut Johanes, sejarah kampung ini berkaitan dengan masa pendudukan Inggris di Hindia Belanda. Pada masa itu, ada salah satu orang kaya yang tinggal di kawasan ini, meskipun tidak ada catatan resmi yang menyebutkan secara spesifik siapa tokoh tersebut.
Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi permukiman padat. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai lahan perkebunan dan pekarangan yang luas. Namun, sejak sekitar awal 1900-an, kawasan ini mulai berkembang menjadi permukiman seperti yang terlihat sekarang. Nama Tasripin juga muncul dalam sejarah perkembangan wilayah ini, yang diyakini sebagai salah satu tuan tanah atau pemilik lahan besar di masa lalu.
Komentar
Kirim Komentar