Wabah Panas Ekstrem di Surabaya Disebabkan Alih Fungsi Lahan, Bukan Alam

Wabah Panas Ekstrem di Surabaya Disebabkan Alih Fungsi Lahan, Bukan Alam

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Wabah Panas Ekstrem di Surabaya Disebabkan Alih Fungsi Lahan, Bukan Alam, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Surabaya

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur mengungkapkan bahwa cuaca panas ekstrem yang terjadi di Surabaya bukan hanya sekadar fenomena alam, melainkan akibat dari kegagalan tata ruang. Ketua Walhi Jatim, Wahyu Eka Setyawan, menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya gagal dalam merencanakan tata ruang kota, sehingga menyebabkan melemahnya adaptasi iklim dan meningkatnya emisi karbon di perkotaan.

Menurut Eka, kota ini telah kehilangan fungsi ekologisnya karena dikonstruksi sebagai ruang ekonomi tanpa batas. Oleh karena itu, Surabaya perlu segera memperkuat adaptasi iklim berbasis tata ruang ekologis.

Langkah yang Diperlukan

Salah satu langkah yang disarankan adalah melakukan moratorium izin alih fungsi lahan hijau. Selain itu, Pemkot Surabaya harus berani menekan emisi dari sektor transportasi serta industri melalui transisi energi bersih yang adil.

Berdasarkan penelitian Syafitri, Pamungkas, dan Santoso (2021) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kota Surabaya memiliki potensi tinggi terhadap peningkatan suhu permukaan. Terutama pada kawasan Surabaya Timur (pesisir).

Konfigurasi tata ruang kota menunjukkan wilayah dengan kepadatan bangunan tinggi dan minim vegetasi (ruang hijau) memiliki perbedaan suhu permukaan mencapai 1,59° Celsius dibandingkan kawasan pinggiran. Fenomena ini dikenal dengan Urban Heat Island (UHI), yakni suhu udara di perkotaan lebih panas dibanding pedesaan.

Tantangan dalam Adaptasi Iklim

Artinya, adaptasi iklim di Surabaya belum mempertimbangkan konfigurasi tata ruang kota secara spasial. Eka menjelaskan bahwa mengubah bentuk kota yang telah terbangun akan jauh lebih sulit dan mahal. Ia menegaskan bahwa krisis iklim bukan ancaman masa depan, karena ia sudah terjadi dan Surabaya adalah buktinya.

Hasil observasi dan pemantauan Walhi Jawa Timur melalui citra satelit dan survei lapangan selama dua dekade terakhir (2002 - 2023) juga menunjukkan tren yang serupa. Terdapat alih fungsi ruang terbuka hijau, berupa pembangunan masif kawasan permukiman dan perumahan baru.

Ruang-ruang yang seharusnya menjadi area resapan air kini justru menjadi kawasan ekonomi padat ruang. Hal ini banyak terjadi di Surabaya Barat dan area Timur kota. Berkurangnya area resapan berdampak langsung pada meningkatnya suhu permukaan di wilayah yang mengalami alih fungsi dan padat bangunan.

Kebijakan yang Perlu Diambil

Meski Pemkot Surabaya mengklaim telah menanganinya dengan menanam pohon dan memperbanyak taman kota, alih fungsi masih masif terjadi, dan ini mengakibatkan terjadinya peningkatan suhu ekstrem.

Eka menegaskan bahwa jika kota ini ingin tetap layak huni, maka kebijakan pembangunan harus berpihak pada daya dukung lingkungan, bukan pada laju betonisasi yang mempercepat pemanasan dan mempersempit ruang hidup. Dengan demikian, keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan harus ditegakkan agar Surabaya tetap dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman dan berkelanjutan.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Utamakan kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar