Pengingat Dari Al-Qur’an tentang Tidak Berlebihan dalam Makan
Dalam Al-Qur’an, surah Al-Araf menyampaikan pesan penting kepada umat Islam agar tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Ayat yang berbunyi “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” menjadi pengingat bahwa kita harus menjaga keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal makan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pesan ini disampaikan oleh Wakil Ketua MUI Balangan, Habib Muhammad Zacky Alaydrus. Menurutnya, ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak baik untuk melakukan hal-hal yang berlebihan, terutama dalam mengonsumsi makanan. Ia menekankan bahwa makanan menjadi mubazir jika seseorang mengambil lebih dari kebutuhan dan kemudian membuangnya.

Habib Zacky juga menjelaskan bahwa mubazir bukan hanya terjadi saat makanan dibuang, tetapi juga ketika seseorang tidak menghargai nikmat Tuhan dengan mencela atau menyia-nyiakan makanan. Perilaku seperti ini dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam yang melarang sikap boros dan berlebihan.
Selain itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga mengajarkan pentingnya kesederhanaan, bersyukur, serta menghargai nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Dalam salah satu sabdanya, beliau berkata, “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” Pesan ini menunjukkan bahwa kehidupan yang seimbang dan penuh rasa syukur adalah kunci dari kebahagiaan spiritual.
Sebagai seorang muslim, Habib Zacky menegaskan bahwa kita harus mengambil secukupnya, bersyukur, dan berbagi agar makanan membawa berkah, bukan malah menjadi dosa. Hal ini juga berlaku dalam situasi pemesanan makanan dalam jumlah besar, seperti catering acara. Ada banyak cara untuk mencegah makanan mubazir, misalnya dengan memanggil tukang sapu jalan, tukang ojek, atau para pengguna jalan untuk memakan makanan yang tersisa.
Atau, cara yang lebih mulia adalah dengan mengemas makanan tersebut dan diberikan ke panti asuhan. Jika makanan yang tersisa masih layak, sebaiknya tidak dibuang ke tempat sampah, melainkan dikumpulkan dan diberikan sebagai makanan ternak. Langkah-langkah ini tidak hanya membantu mengurangi pemborosan, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan.
Kehidupan Nyata: Menghindari Pemborosan Makanan
Diki Rahmani, warga Desa Merah, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan, adalah contoh nyata dari seseorang yang menjaga kebiasaan tidak membuang makanan. Ia selalu memastikan makanan yang diambil habis dan tidak mubazir karena tidak ada yang memakannya. Kebiasaan ini sudah ia lakukan sejak kecil, didorong oleh ajaran orang tua. Selain itu, ia juga mengajarkan hal ini kepada istrinya.
Tidak jarang, saat makanan istrinya tidak habis dan masih bagus, Diki turut membantu menghabiskan makanan tersebut. Ia merasa sayang jika mubazir dan takutnya tidak memperoleh keberkahan. Ia juga selalu mengingatkan istri setiap kali memasak, agar membuat makanan secukupnya untuk satu kali makan. Jika tidak habis, bisa dipanaskan untuk makan berikutnya.
Jarang sekali keluarga Diki membuat makanan mubazir. Bahkan, saat menghadiri acara dengan menu prasmanan, ia selalu mengambil makanan sesuai kebutuhan dan hanya memilih lauk pauk secukupnya. Menurutnya, daripada makanan mubazir akibat mengambil berlebihan, lebih baik mengambil secukupnya. Jika kurang, bisa ditambah ulang dengan porsi yang lebih sedikit.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Muhammad Rahman, warga Desa Sumber Agung, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Menurutnya, tidak baik untuk membuang-buang makanan yang sudah di depan mata, apalagi sampai tidak habis memakannya. Ia menegaskan bahwa jangan serta merta punya uang lalu membeli makanan berlebihan yang berujung terbuang karena busuk atau tidak enak.
Jika makanan sudah tidak cocok, lebih baik menahan diri untuk tidak makan berlebihan, daripada harus memberikan sisa makanan kepada orang lain. Namun, jika makanan tersebut masih utuh dan layak, tidak masalah untuk diberikan kepada yang mau. “Kalau makanannya masih bagus dan kita membeli namun tidak jadi memakan, sebaiknya diberikan saja, daripada dibuang,” katanya.
Komentar
Kirim Komentar