
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Menjangkau 35,4 Juta Penerima Manfaat
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sejak 6 Januari 2025 kini telah mencapai lebih dari 35,4 juta penerima manfaat. Mulai dari anak-anak PAUD hingga siswa SMA/SMK, juga ibu hamil dan menyusui. Angka ini setara dengan tujuh kali populasi Singapura, sebuah pencapaian besar bagi program yang baru berjalan selama sembilan bulan.
Di tengah masih tingginya tantangan gizi di Indonesia, langkah pemerintah ini dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Meski efeknya tidak langsung terasa, para ahli gizi optimistis dampak positifnya akan mulai terlihat dalam satu tahun ke depan, terutama bagi kelompok usia muda.
Dampak gizinya bisa dirasakan tiga bulan sampai satu tahun, tergantung usia penerima manfaat. Anak-anak biasanya lebih cepat menunjukkan hasilnya, ujar Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, Guru Besar Ilmu Gizi dari IPB University melalui keterangannya.
Menurut dia, program MBG tak hanya soal piring nasi dan lauk bergizi, tetapi juga upaya memutus rantai stunting lintas generasi. Menurut Hardinsyah, perbaikan gizi pada remaja dan anak sekolah akan berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang.
Anak remaja hari ini, lima belas tahun lagi akan menjadi orang tua. Kalau sejak remaja gizinya baik, keturunannya pun lebih sehat, jelas Hardinsyah.
Dampak Positif Program MBG
Selain menekan stunting, pemberian gizi di sekolah juga terbukti mendukung kemampuan kognitif dan fokus belajar anak. Asupan protein dan zat gizi seimbang dapat membantu siswa lebih konsentrasi di kelas, mempercepat daya tangkap, dan berkontribusi pada perbaikan nilai akademik.
Namun, agar manfaat tersebut tercapai optimal, keamanan pangan menjadi fondasi utama. Hardinsyah menegaskan, makanan bergizi tidak akan memberi efek positif jika tidak aman dikonsumsi.
Begitu makanan aman, lalu disukai anak-anak, otomatis gizinya terserap dengan baik. Jadi pengawasan keamanan pangan harus ketat, beber Hardinsyah.
Untuk menjamin hal itu, program MBG melibatkan berbagai profesi di bawah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari ahli gizi, tenaga kesehatan masyarakat, hingga pengawas dapur sekolah. Mereka bertugas memastikan seluruh proses, dari penyimpanan bahan hingga penyajian makanan, memenuhi standar gizi dan keamanan pangan nasional.
Efek MBG di Ruang Kelas
Efek MBG juga terasa di ruang kelas. Banyak sekolah mulai melaporkan peningkatan kehadiran siswa sejak program ini berjalan. Anak-anak lebih bersemangat datang ke sekolah, bahkan membawa teman yang sebelumnya sering absen. Dengan tubuh lebih sehat dan tidak mudah sakit, anak-anak bisa mengikuti pelajaran dengan konsisten.
Program ini bukan hanya soal gizi, tapi juga pendidikan. Makan bersama menciptakan budaya disiplin dan kebersamaan di sekolah, ungkap Hardinsyah.
Peran Kolaborasi dalam Keberhasilan Program
Selain itu, keberhasilan program MBG bergantung pada kolaborasi. Guru berperan mengajarkan kebiasaan sehat sederhana, seperti mencuci tangan sebelum makan atau menjaga kebersihan wadah makanan. Sementara itu, orang tua dapat turut menjadi pengawas informal, memantau dapur sekolah, memastikan bahan pangan aman, dan ikut menumbuhkan budaya makan sehat di rumah.
Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan menjadi tonggak lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global.
Komentar
Kirim Komentar