
Hujan Mengandung Mikroplastik: Fenomena yang Mengkhawatirkan
Hujan yang mengandung mikroplastik kini menjadi perhatian serius di Jakarta. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan penjelasan mengenai fenomena ini. Menurut penelitian, hujan bisa menjadi sarana penyebaran partikel mikroplastik yang sangat kecil, bahkan berukuran nanoplastik, yang mudah terangkat ke atmosfer.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Mikroplastik adalah partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter. Dalam kasus hujan, partikel-partikel ini bisa terbawa oleh angin dan turun bersama air hujan. Hal ini terjadi karena siklus plastik tidak hanya terjadi di laut, tetapi juga mencapai atmosfer. Proses ini disebut sebagai atmospheric microplastic deposition.
Penyebab Utama Hujan Mengandung Mikroplastik
Jakarta, dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan kendaraan sekitar 20 juta unit, menghasilkan limbah plastik dalam jumlah besar setiap hari. Sampah plastik sekali pakai masih banyak digunakan, dan pengelolaannya belum optimal. Sebagian dari sampah tersebut dibakar secara terbuka atau terbawa air hujan ke sungai.
Penelitian tentang mikroplastik dalam air hujan di Jakarta telah dilakukan sejak tahun 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa partikel mikroplastik umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik. Jenis polimer yang ditemukan antara lain poliester, nilon, polietilena, polipropilena, dan polibutadiena dari ban kendaraan.
Menurut Muhammad Reza Cordova, peneliti BRIN, mikroplastik bisa terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri. Partikel ini kemudian terbawa oleh angin dan turun kembali bersama hujan. Proses ini memperlihatkan bahwa siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan
Fenomena hujan mengandung mikroplastik dikhawatirkan memiliki dampak serius terhadap kesehatan manusia. Partikel mikroplastik yang sangat halus bisa terhirup atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan. Plastik juga mengandung bahan aditif beracun seperti ftalat, bisphenol A (BPA), dan logam berat.
Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami sepenuhnya dampak jangka panjang dari paparan mikroplastik. Studi global menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat menyebabkan stres oksidatif, gangguan hormon, dan kerusakan jaringan.
Dari sisi lingkungan, air hujan yang mengandung mikroplastik berpotensi mencemari sumber air permukaan dan laut. Akibatnya, mikroplastik bisa masuk ke rantai makanan, yang berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia.
Solusi untuk Mengatasi Masalah Mikroplastik
BRIN telah merancang empat solusi untuk mengatasi fenomena hujan mengandung mikroplastik:
- Penguatan riset dan pemantauan kualitas udara dan air hujan di kota-kota besar.
- Perbaikan pengelolaan limbah plastik di hulu, termasuk pengurangan plastik sekali pakai dan peningkatan fasilitas daur ulang.
- Penerapan sistem filtrasi pada mesin cuci industri tekstil untuk mencegah pelepasan serat sintetis.
- Peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, dan tidak membakar limbah sembarangan.
Prof Etty Riani, Guru Besar IPB University, menilai perlu ada langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi masalah ini. Ia menyarankan perubahan gaya hidup menuju pola yang lebih ramah lingkungan. Contohnya dengan mengurangi penggunaan plastik, menghindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik, dan memilah sampah sejak dari rumah.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan pemberian sanksi bagi pihak yang tidak mendukung kebijakan pengurangan plastik.
Kesimpulan
Hujan mengandung mikroplastik adalah isu serius yang perlu ditangani secara menyeluruh. Dari sisi ilmu pengetahuan, fenomena ini sangat mungkin terjadi karena ukuran mikroplastik yang sangat kecil dan kemampuannya untuk terangkat ke atmosfer. Dari sisi kesehatan dan lingkungan, dampaknya bisa sangat berbahaya jika tidak segera diatasi.
Langkah-langkah yang diambil oleh BRIN dan IPB menjadi contoh bagaimana penelitian dan inovasi bisa menjadi solusi untuk masalah lingkungan yang kompleks. Namun, partisipasi aktif masyarakat juga sangat penting dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi polusi mikroplastik.
Komentar
Kirim Komentar