Akhir Pekan di Festival Film Madani: Dari Film Garin Hingga Diskusi HIV/AIDS

Akhir Pekan di Festival Film Madani: Dari Film Garin Hingga Diskusi HIV/AIDS

Dunia hiburan kembali membuat heboh netizen. Kali ini beredar kabar tentang Akhir Pekan di Festival Film Madani: Dari Film Garin Hingga Diskusi HIV/AIDS yang ramai dibahas. Cek faktanya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Festival Film Madani: Acara yang Menyajikan Beragam Pengalaman

Festival Film Madani berlangsung mulai dari hari Rabu (8/10) hingga Minggu (12/10). Tahun ini, festival menghadirkan berbagai aktivitas yang lebih variatif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya menonton film dan berdiskusi, tetapi juga ada pertunjukan seni dan pembahasan nonfilm yang menarik. Lokasi acara terbagi ke empat tempat utama, yaitu Taman Ismail Marzuki, Epicentrum XXI, Metropole XXI, dan Universitas Binus Alam Sutera. Jika kalian belum memiliki rencana akhir pekan, Festival Film Madani bisa menjadi pilihan yang menarik.

Pada hari Sabtu (11/10), area Taman Ismail Marzuki sangat ramai dengan pengunjung. Banyak kegiatan yang tersedia, termasuk diskusi dan pemutaran film yang menarik perhatian para peserta.

Diskusi tentang Karya Garin Nugroho

Tujuan pertama saya adalah menghadiri acara bertema "Restropeksi Garin" yang diisi oleh narasumber Garin Nugroho dan Philip Cheah, serta dikurasi oleh Hikmat Darmawan. Acara ini diselenggarakan di Teater Wahyu Sihombing, TIM. Pembicaraan dalam diskusi ini fokus pada karya-karya Garin, baik film pendek maupun film panjang yang sering tidak dikenal oleh publik luas.

Philip Cheah, yang terlibat dalam berbagai festival film Asia, memberikan apresiasi terhadap film-film Garin. Ia menyebut bahwa film-film tersebut memiliki keragaman, isu-isu yang menarik, dan estetika yang unik. Meskipun banyak film Garin mendapat pujian di luar negeri, di dalam negeri, film-film tersebut justru kurang mendapat apresiasi.

Garin sendiri menyadari bahwa beberapa filmnya tidak laris di pasar domestik. Namun, ia tidak khawatir karena ia tidak mengikuti tren. Baginya, film adalah sebuah pernyataan pribadi. Ia merasa bangga dan senang ketika film-filmnya diputar kembali di berbagai museum, galeri, dan festival film di berbagai negara seperti Inggris dan Australia.

Film Garin yang Bernafaskan Islam

Beberapa film Garin memiliki nafas Islam, bahkan ada yang mengkritik isu-isu sensitif. Contohnya, film Aach...Aku Jatuh Cinta (2016) yang menyertakan bait-bait Rumi dengan unsur tasawuf. Ada juga film Mata Tertutup (2011) yang mengkritisi keberadaan organisasi NII, dan Rindu Kami Padamu (2004) yang kental dengan nafas Islam. Selain itu, 99 Nama Cinta yang juga melibatkan Garin sebagai produser.

Dalam film Badrun & Loundri, Garin mencoba mengangkat isu sensitif tentang bagaimana seseorang memanfaatkan penampilan Islami untuk keuntungan pribadi. Baginya, menggunakan film sebagai sarana kritik dan angkat isu sensitif adalah hal yang berisiko. Ia sering cemas akan ancaman atau masalah lainnya.

Meski begitu, Garin tetap berkreasi. Setelah film Opera Setan Jawa dan Samsara yang merupakan expanded cinema, ia akan terus berkarya dengan media seni lainnya, seperti seni instalasi. Ia mengingat pesan ibunya: "Jangan bikin film untuk ibu, tapi untuk dirimu. Jika kamu hepi maka ibu akan hepi."

Film Pendek dan Film tentang ODHA

Setelah mengikuti diskusi Garin, saya naik ke lantai empat ke Studio Asrul Sani untuk menyaksikan Madani Kids Shorts Compilation. Ada tujuh film pendek anak-anak yang ditayangkan. Saya hanya menonton film Lintang dan Kunang-kunang karya Agni Tirta. Film ini bercerita tentang Lintang yang mengajak temannya membersihkan sawah dan sekitarnya agar kunang-kunang kembali datang. Tujuannya, agar orang tuanya pulang ketika kunang-kunang muncul kembali.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran film Seperti Seharusnya karya Aroe Ama, disertai diskusi Mitos dan Fakta HIV/AIDS: Antara Edukasi dan Disinformasi dengan narasumber Meirinda Sebayang dari Jaringan Indonesia Positif. Dalam film ini, penonton diajak menyelami perasaan para penderita HIV yang sering mendapat stigma dari masyarakat. Film ini juga menyampaikan pesan layanan masyarakat tentang metode penularan HIV yang sering tidak diketahui oleh awam.

Meirinda menjelaskan bahwa banyak orang masih mengira HIV hanya ditularkan melalui seks bebas, padahal bisa saja terjadi karena jarum suntik bergantian antar pengguna napza atau saat transfusi darah. Ia menegaskan bahwa stigma dan diskriminasi masyarakat sering kali lebih cepat membunuh para penderita HIV.

Pertunjukan Seni dan Aktivitas Lainnya

Setelah mengikuti acara dalam ruangan secara berturut-turut, saya pun menuju ke luar. Di Plaza Teater Besar, ada performa Almamosca. Malam harinya juga ada layar tancap Jakarta is Mine dan performa Panji Sakti.

Hari ini akan ada banyak acara hingga malam hari. Jadi, jika kalian ingin akhir pekan yang seru dan gratis, kalian bisa langsung datang ke Festival Film Madani.

Kesimpulan: Tunggu update selanjutnya dari artis favorit Anda. Jangan lupa untuk share berita ini ke sesama fans.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar