Apakah Anime Orient Mewakili Kita yang Merasa Jadi Tokoh Utama Tapi Hanya Figuran?

Apakah Anime Orient Mewakili Kita yang Merasa Jadi Tokoh Utama Tapi Hanya Figuran?

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Apakah Anime Orient Mewakili Kita yang Merasa Jadi Tokoh Utama Tapi Hanya Figuran?, berikut adalah data yang berhasil kami rangkum dari lapangan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, saya memulai tulisan ini. Malang, 21 Desember 2025. Saya mulai menulis pada pukul 10.07 pagi.

Saya sedang duduk di kopi Cak Ril, menikmati secangkir kopi susu sambil mendengarkan lagu “Untuknya Aku Masih Berjanji” sebagai latar belakang. Tampak tujuh orang sedang menghabiskan waktu pagi mereka di kafe tersebut, jauh dari kampus namun tetap menjadi tempat favorit karena suasana yang tenang dan nyaman. Dan kali ini, saya ingin melanjutkan serial surat tantangan yang sudah saya mulai sebelumnya.

“Kejahatan terbesar fiqhan kepada dirinya adalah membiarkan dirinya diam saja tanpa melakukan apapun.” Kata-kata ini muncul dari percakapan saya dengan Chat GPT ketika saya melakukan analisis mendalam tentang potensi dan ancaman diri saya sendiri. Ya, tanpa sadar sudah satu tahun fiqhan tidak melakukan apa-apa terhadap skripsinya yang selalu berhenti pada revisi dan enggan untuk melanjutkan. Berbagai analisis dan saran telah saya terima, tapi rasanya semua percuma dan tidak ada motivasi yang cukup menggerakkan. Itulah yang saya rasakan saat ini. Dan ya, saya sadar bahwa kata-kata tentang satu disiplin lebih kuat daripada 1000 motivasi merupakan hal yang nyata. Karena saya mulai bergerak kembali dalam melanjutkan aksi saya karena disiplin yang ingin saya bangun ulang dari awal. Banyak analisis dan perencanaan tanpa disertai aksi dan gerakan akan percuma. Maka, tulisan ini menjadi langkah pemicu juga.

Sekarang ini tidak ada lagi forum untuk berdiskusi, dan terus-menerus sendirian membuat banyak informasi dan keilmuan mulai memudar dari ingatan fiqhan. Saya biasanya selalu punya teman atau kelompok yang sangat menarik untuk mendiskusikan apa yang dipelajari.

Kemarin, saya sudah menonton dua season cerita dari anime berjudul Orient. Sebuah anime yang berkisah tentang seorang yang bukan berasal dari keluarga atau keturunan samurai ingin menjadi samurai terkuat. Motivasi ini ditumbuhkan karena dia sejak kecil diasuh oleh seorang samurai terkemuka yang memilih menghindari publik dan tinggal di sebuah desa pelosok. Kelebihan anak ini muncul ketika si samurai meninggal dan kekuatannya tanpa sadar berpindah kepada si anak ini. Nama tokoh utamanya adalah Musashi. Dan ya, meskipun seharusnya menjadi manusia biasa, namun karena kelebihan ini yakni terdapat dewa obsidian yang masuk ke dalam dirinya membuat dia menjadi yang terkuat.

Analisis saya mengenai anime ini adalah dalam manajemen pengembangan kisah sang tokoh utama. Di mana seharusnya pada season 2 dibangun dengan kisah tentang bagaimana sang MC bisa menjadi yang terhebat melalui proses peperangan atau perjalanan yang hebat, justru habis untuk menyorot beberapa tokoh figuran yang semua sangat tidak berkaitan dengan MC dan justru mendapat jatah waktu paling dominan dan menempati posisi sentral dalam menyelamatkan kisah.

Entah mungkin sang penulis ingin menghadirkan sebuah sudut pandang baru, bahwa bisa saja dimana yang kita merasa menjadi sang tokoh utama di kisah kita, namun justru hanya menjadi saksi akan keberhasilan orang lain. Dari kisah ini, belajar bahwa priviledge itu akan mengalahkan kerja keras dan dedikasi waktu. Terbukti bahwa sang MC yang baru saja bisa menggunakan pedang langsung menjadi yang terkuat karena di rasuki sang dewi obsidian, menyalahkan semua dedikasi besar para 4 jendral yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar pedang dan strategi.

Ini juga berkaitan dengan video dari Rumah Studio yang diupload tadi pagi mengenai logika pengambilan keputusan. Bahwa dalam pengambilan keputusan selain dilandasi pada rasionalitas sang pengambil keputusan, tapi juga perlu dilandasi atas kognisi dan pemahaman serta penguasaan informasi dari sang pengambil keputusan sehingga rasionalitas yang dibangun semakin komprehensif.

Hal ini sejalan juga dengan statemen dari Anis Baswedan mengenai pentingnya menggunakan logika, karena dengan bertindak berdasar logika adalah sebuah tindakan yang dapat dibuktikan dan diukur serta dapat dipertanggungjawabkan tindakannya. Dan ya, dari semua ini, kisah Orient sang MC tidak memiliki landasan dan arah gerak yang rasional, dan juga tidak memiliki kognisi dasar bahkan. Karena sebatas pemahaman dasar mengenai pedang atau penendalian bersama dia tidak memahami, namun ya karena di rasuki dia langsung overpower. Dan itu hanya muncul sekali saja saat di akhir season 2 dan langsung menghabisi villain utama dengan sekali serang.

Dalam aspek seni ini adalah hal yang tidak salah, karena seni dan perspektif adalah bebas. Namun masalahnya apakah karya seni hanya untuk diminati sendiri atau untuk publik. Maka dalam pengembangan anime sangatlah perlu untuk meninjau perspektif dari para penonton. Hal ini dijelaskan dalam buku manajemen marketing terbitan dari universitas terbuka bahwa dalam penciptaan produk, diperlukan analisa terhadap subjek pasar. Dimana tentunya perlu memahami penonton psikologi, psikologi sosial, sosiologi, serta trend perkembangan kisah yang beredar. Memang disini kreativitas akan bersifat industri dan konsumtif, namun ya sebenarnya apabila dasarkan dengan teori manajemen maka cerita justru dapat berkembang dan menjadi pemenuh harapan para penonton. Ya walaupun tidak bisa memenuhi harapan semua orang, namun pasti ada sebagian mayoritas yang dapat di analisa dan dijadikan dasar pengembangannya. Namun justru dalam situasi ini adalah segi yang menjadi ciri khasnya. Apabila kisah ini berfokus pada MC maka ya akan menjadi cerita pasaran. Ya sekiranya itulah yang berdasarkan pada anime yang sudah dibuat oleh studionya, terlepas entah dari manga dengan cerita kelanjutannya bagaimana saya tidak tahu karena saya hanya menonton animenya dan meninjau dari berbagai komentar dari season 2 dari mulai episode awal sampai akhir lebih banyak menunjukkan hujatan bukan malah kebanggaan, atau alih-alih juga muncul pesan harapan kedepan episode atau season berikutnya akan lebih baik apabila ada.

Namun terlepas dari analisa dan berbagai referensi yang menjadi bahan mengupas anime ini, saya menyadari bahwa justru setiap proses ini menjadikan Jepang menjadi sebuah negara dengan pengembangan cerita paling hebat untuk saat ini menurutku. Karena dengan contoh anime Orient ini para penulis atau mangaka akan mengembangkan kisah lain yang bukan cuma berdasar ide liar mereka saja, namun juga meninjau pola dan minat yang tinggi dan menggandeng kelompok khusus sehingga menjadi sebuah komunitas yang solid dan muncul di berbagai negara.

Selain itu juga saya melihat ini sebuah pola yang dapat diprediksi. Bukan sebatas prediksi tentang alur cerita, tapi pola peminatan kisah oleh penonton. Para audiens sangat menyukai apabila MC mengalami proses yang logis, selain itu juga sangat menyukai tokoh utama yang tidak naif. Dari beberapa isekai juga, banyak muncul kritikan bahwa MC-nya begitu naif. Namun menariknya para mangaka bukan hanya menembangkan kisah tentang tokoh yang tidak naif, namun juga munculkan berbagai kisah dimana MC-nya menjadi penonton dan tahu segalanya seperti di kisah Ugly Fighter atau menjadikan MC dengan ke-naifannya menjadi kekuatan yang sangat tidak tertebak alurnya seperti Arwah Berduka Ini Pensiun, atau bahkan menjadi MC yang terlalu analis seperti Elite Classroom. Jadi dari satu temuan banyak kesimpulan dan luaran yang dihasilkan. Maka justru dari anime seperti Orient ini akan memunculkan evaluasi dan memunculkan hasrat asli penonton ingin apa dan menangkap kebutuhan ini tanpa perlu effort melakukan serap aspirasi. Disini kita bisa mempelajari juga bahwa penambilan data serta evaluasi tidak harus berdasar pada kesalahan kita sendiri, namun berdasar pada kesalahan orang lain sangatlah meminimalisir kegagalan.

Analisa seperti ini menjadi sebuah kupasan yang jelas, karena analisa selalu menjadi sebuah pembahasan dengan kesan berat dan selalu dibalut dalam publikasi jurnal. Maka mungkin saya akan mencoba seri ini dalam surat kabar kepada kawanku, menjadi sajian ringan analisa dalam hal-hal yang tidak kita jarang sorot dan ternyata bisa menjadi banyak bagian menarik apabila dikembangkan. Terimakasih pada kalian yang sudah membaca pada bagian sampai akhir ini, sampaikan kesan dan rekomendasi analisa apa yang cukup menarik untuk dihasut oleh kehidupan santai kita, karena analisa bukan sebuah hal yang perlu konsentrasi berat, tapi sesuatu yang sangat menyegarkan untuk otak kita, maka mari sajikan bacaan ini menjadi sebuah stak untuk otak kita yang lapar dan butuh konsumsi bergizi. Sampai jumpa pada tulisan selanjutnya.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Apakah Anime Orient Mewakili Kita yang Merasa Jadi Tokoh Utama Tapi Hanya Figuran?. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar