
Perbedaan Penetapan Awal Bulan Rajab di Indonesia
Perbedaan penetapan awal bulan Rajab kembali menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan 1 Rajab 1446 H jatuh pada Senin, 22 Desember 2025. Namun, sebagian masyarakat di berbagai daerah memilih memperingati awal Rajab pada hari ini, Minggu, 21 Desember 2025. Perbedaan ini memicu diskusi yang intensif di kalangan umat Islam, terutama mengenai metode penentuan kalender hijriyah yang digunakan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
PBNU melalui Lembaga Falakiyah menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada hasil hisab hakiki dan rukyat yang dilakukan di berbagai titik pengamatan. Menurut PBNU, posisi hilal pada Sabtu sore belum memenuhi kriteria imkanur rukyat, sehingga awal bulan baru ditetapkan pada Senin. Keputusan ini telah diumumkan dalam surat resmi Nomor 110/PB.08/A.II.11.13/13/12/2025 yang dikeluarkan pada malam Sabtu.
Namun, di beberapa daerah, masyarakat memilih merayakan awal Rajab pada hari Minggu. Mereka lebih percaya pada kalender hijriyah yang sudah beredar luas di masyarakat, termasuk yang diterbitkan oleh ormas-ormas Islam lainnya. Bagi sebagian warga, kalender yang sudah tercetak dan digunakan sehari-hari dinilai lebih praktis sebagai acuan, sehingga tidak menimbulkan kebingungan.
Perbedaan penetapan awal bulan hijriyah bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak lama, metode hisab dan rukyat sering menghasilkan keputusan yang berbeda antar organisasi Islam. Misalnya, Muhammadiyah lebih konsisten menggunakan hisab wujudul hilal, sementara NU menggabungkan hisab dengan rukyat. Hal ini membuat masyarakat sering menghadapi perbedaan dalam menentukan awal bulan seperti Rajab, Syaban, atau Ramadan.
Di tingkat akar rumput, perbedaan ini disikapi dengan beragam cara. Beberapa masyarakat memilih mengikuti keputusan ormas besar seperti NU atau Muhammadiyah, sementara yang lain tetap berpegang pada kalender yang sudah ada. Salah satu warga nahdliyin di Tulungagung mengatakan:
“Bagi kami, yang penting niat beribadah. Soal tanggal, tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh,” katanya saat memilih mengawali 1 Rajab pada Minggu (21/12).
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama biasanya menetapkan awal bulan hijriyah untuk kepentingan nasional, terutama terkait Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Namun, untuk bulan-bulan lain seperti Rajab, keputusan dari ormas sering menjadi rujukan utama masyarakat. Hal ini membuat perbedaan penetapan lebih terasa di tingkat lokal.
Meski demikian, momentum Rajab tetap dianggap penting karena menjadi salah satu bulan mulia dalam Islam. Banyak umat melaksanakan amalan tambahan seperti puasa sunnah, doa, dan memperbanyak ibadah. Perbedaan tanggal tidak mengurangi semangat masyarakat dalam menyambut bulan Rajab sebagai persiapan menuju Ramadan.
Dengan demikian, perbedaan penetapan awal Rajab antara PBNU dan sebagian masyarakat mencerminkan keragaman tradisi penanggalan Islam di Indonesia. Selama perbedaan itu disikapi dengan bijak, umat tetap dapat menjaga persatuan dan menjadikan Rajab sebagai momentum memperkuat keimanan.
Komentar
Kirim Komentar