
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kondisi Darurat di Jalur Gaza
Seorang bayi Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat kedinginan ekstrem di Jalur Gaza. Peristiwa ini terjadi di tengah pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan oleh Israel, meskipun musim dingin telah melanda wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan bahwa bayi berusia dua pekan bernama Mohammed Khalil Abu al-Khair meninggal pada Senin (15/12/2025), setelah sempat mendapat perawatan akibat hipotermia parah. Menurut otoritas setempat, suhu dingin yang ekstrem diperparah dengan minimnya perlindungan dasar seperti tenda, selimut, dan pakaian hangat, karena pembatasan masuknya bantuan oleh Israel.
Kehidupan yang Terhancur
Melaporkan dari Kota Gaza, jurnalis Al Jazeera Tareq Abu Azzoum menyebut kematian bayi tersebut terjadi di tengah kondisi kehidupan warga yang “secara sistematis dihancurkan” akibat perang Israel di wilayah itu. Ia mengatakan, banyak keluarga kini tinggal di tenda-tenda di atas tanah yang basah, tanpa pemanas, listrik, atau pakaian yang memadai. Ketika makanan, bahan bakar, tempat berlindung, dan bantuan dilarang masuk, suhu dingin menjadi mematikan.
Perang yang telah berlangsung hampir dua tahun itu dilaporkan telah menghancurkan lebih dari 80 persen bangunan di Gaza. Akibatnya, ratusan ribu keluarga terpaksa mengungsi ke tenda-tenda darurat yang rapuh atau tempat penampungan sementara yang penuh sesak.
Dampak Badai Besar
Badai besar yang baru-baru ini melanda Gaza juga menewaskan sedikitnya 11 orang. Hujan deras dan angin kencang merendam tenda-tenda pengungsi serta menyebabkan bangunan rusak runtuh. Umm Mohammed Assaliya, seorang ibu pengungsi di Kota Gaza, mengatakan, "Kami mencoba mengeringkan pakaian anak-anak dengan api. Kami tidak punya pakaian cadangan. Saya sangat lelah. Tenda yang kami terima tidak mampu menahan cuaca musim dingin. Kami butuh selimut."
Desakan untuk Bantuan
Sejumlah organisasi kemanusiaan mendesak Israel agar membuka akses bantuan tanpa hambatan ke Gaza. Namun, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, menyatakan pemerintah Israel menghalangi lembaga tersebut untuk menyalurkan bantuan secara langsung ke Gaza. UNRWA dalam unggahan media sosialnya menulis, “Dilaporkan ada warga yang meninggal akibat runtuhnya bangunan rusak tempat mereka berlindung. Anak-anak juga dilaporkan meninggal akibat paparan dingin.” Mereka menegaskan, “Situasi ini harus dihentikan. Bantuan harus segera diizinkan masuk dalam skala besar.”
Kecaman Hamas terhadap Pelanggaran Gencatan Senjata
Sementara itu, kelompok Hamas mengecam Israel atas dugaan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Oktober lalu. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 393 warga Palestina tewas dan 1.074 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak hari pertama gencatan senjata diberlakukan secara penuh pada 11 Oktober.
Militer Israel juga dilaporkan menewaskan seorang pemimpin senior Hamas, Raed Saad, dalam serangan terarah terhadap sebuah kendaraan di Gaza Barat pada Sabtu lalu, yang semakin memperkeruh situasi gencatan senjata. Tokoh Hamas Ghazi Hamad pada Selasa menuding Israel telah memanipulasi isi kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat. “Kami ingin menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata ini jelas, rinci, dan tidak ambigu. Namun, pendudukan Israel telah memelintir teksnya dan melanggar setiap pasal,” ujar Hamad. Ia menambahkan bahwa Hamas, menurut klaimnya, telah mematuhi perjanjian sejak hari pertama, sementara Israel justru melakukan pelanggaran secara sistematis dan terencana.
Komentar
Kirim Komentar