
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kebijakan dan Strategi BGN dalam Meningkatkan Kualitas Program MBG
Sebanyak 37 siswa di Pamekasan, Jawa Timur, mengalami keracunan setelah menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada bulan September hingga Oktober 2025. Kejadian ini menarik perhatian khusus dari Bergizi Nasional (BGN), yang merupakan penyelenggara program MBG. Untuk memastikan keamanan dan kualitas pangan, BGN melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terkait dengan kebersihan pangan.
Evaluasi ini disampaikan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada 1.000 penjamah pangan SPPG di Kabupaten Pamekasan, yang berlangsung selama dua hari pada 18-19 Oktober 2025. KTU Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya, Ainun Marifah, menjelaskan bahwa Bimtek ini adalah bagian dari upaya BGN agar program MBG terbebas dari kasus kontaminasi atau kerusakan pangan dengan prinsip zero case.
"Ini implementasi rencana kerja BGN 2025 sekaligus upaya serius untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi dan keterampilan para penjamah makanan di SPPG dalam pelayanan MBG," kata Ainun, Senin (20/10).
Strategi untuk Meningkatkan Kualitas MBG
Untuk mencegah terjadinya keracunan massal yang sempat menjadi perbincangan masyarakat, BGN akan melakukan rapid test food berkala oleh Balai POM. Dalam bimtek tersebut, Ainun juga menjelaskan sepuluh strategi yang dilakukan Badan Gizi Nasional untuk meningkatkan kualitas MBG, yang mencakup aspek teknis, manajerial, dan kualitas pelayanan.
Berikut adalah sepuluh strategi tersebut:
- Penempatan 5.000 Chef profesional dari Indonesian Chef Association (ICA) di SPPG baru untuk mentransfer pengetahuan dalam pengolahan makanan bergizi dan aman.
- Pelaksanaan rapid test food berkala oleh Balai POM guna memastikan keamanan pangan.
- Penerapan wajib Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk setiap SPPG.
- Menyediakan platform pemanfaatan LMS Plataran Sehat Kementerian Kesehatan untuk pembelajaran daring bagi pelaksana tenaga.
- Penggunaan air bersih berstandar kesehatan serta sterilisasi alat makan dengan panas udara 80°C.
- Penambahan tenaga ahli gizi agar pendampingan gizi lebih optimal.
- Penerapan sertifikasi halal untuk memastikan kepatuhan nilai-nilai agama.
- Pemasangan CCTV di dapur SPPG untuk menjamin transparansi dan pengawasan proses produksi.
- Kepatuhan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) sebagai dasar tata kelola layanan yang profesional dan akuntabel.
- Penguatan edukasi dan monitoring berkelanjutan untuk menjaga mutu pelayanan MBG.
Tugas Penjamah Lebih dari Sekedar Teknis
Di sisi lain, Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II BGN, Nurjaeni, menegaskan bahwa tugas penjamah lebih dari sekadar teknis, tetapi memiliki tugas sosial dalam menyediakan asupan nutrisi generasi penerus bangsa.
“Dari dapur SPPG inilah kami menyiapkan generasi yang cerdas, sehat, dan berdaya saing. Maka kami berharap terbentuk jaringan penjamah makanan yang kompeten, beretika, dan berdedikasi,” pungkas Nurjaeni.
Komentar
Kirim Komentar