BRIN uji terbang pesawat tanpa awak sayap tinggi

BRIN uji terbang pesawat tanpa awak sayap tinggi

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada BRIN uji terbang pesawat tanpa awak sayap tinggi yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pengujian Drone Bersayap oleh Tim BRIN

Tim Pusat Riset Teknologi Penerbangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan pengujian terhadap empat pesawat nirawak atau drone bersayap. Salah satu pesawat yang diuji adalah LSU 02 VTOL, yang dirancang untuk lepas landas dan mendarat secara vertikal. Dengan kemampuan ini, pesawat tersebut hanya membutuhkan landasan pendek untuk beroperasi.

Hasil uji terbang menunjukkan bahwa performa terbang dan sistem VTOL pesawat berfungsi sesuai harapan. Pesawat LSU 02 VTOL terbang pada ketinggian sekitar 300 kaki dengan kecepatan 53 knot selama kurang lebih delapan menit. Menurut peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Penerbangan Danartomo Kusumoaji, drone ini dibuat untuk pengawasan wilayah dan pemetaan area. Selain itu, tim juga menguji kemampuan tiga drone bersayap lainnya di Lanud Rumpin, Kabupaten Bogor, pada 17-19 Desember 2025.

Uji Coba Drone Alap-Alap

Salah satu pesawat yang diuji adalah Alap-Alap. Pesawat ini menjalani uji terbang dengan misi optimalisasi sistem autopilot dan mencapai ketinggian 800 kaki dengan kecepatan 50 knot selama 30 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem autopilot berfungsi dengan baik.

Danartomo menjelaskan bahwa drone LSU-02 VTOL dan Alap-Alap sepenuhnya dirancang dan dikembangkan sendiri oleh peneliti BRIN, termasuk penggunaan teknologi Flight Control Computer (FCC). Teknologi ini menjadi salah satu komponen penting dalam pengoperasian drone.

Desain Pesawat yang Sudah Ada

Sementara itu, pesawat tanpa awak Skywalker dan Krishna menggunakan desain pesawat yang sudah ada dan dikembangkan oleh peneliti Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN. Model drone Krishna, menurut Danartomo, mencontoh desain pesawat Cessna. Ia menjelaskan bahwa alasan penggunaan desain yang sudah ada adalah karena untuk menguji Flight Control Computer, sehingga diperlukan pesawat yang sudah benar-benar bagus.

Begitu pun drone Skywalker menggunakan desain pesawat lain untuk mengidentifikasi parameter aerodinamikanya. Dengan demikian, hasil uji coba akan memberikan data yang akurat untuk pengembangan teknologi lebih lanjut.

Pengujian Sistem Telemetri pada Drone Krishna

Drone Krishna diuji untuk mengevaluasi sistem telemetri, yaitu sistem pengiriman data penerbangan secara langsung (real time) ke stasiun kendali di darat. Pesawat ini diterbangkan selama 10 menit pada ketinggian 300 kaki dengan kecepatan sekitar 50 knot. Data yang diperoleh dari pengujian ini akan digunakan untuk meningkatkan akurasi dan keandalan sistem telemetri.

Karakteristik Aerodinamika pada Drone Skywalker

Sementara itu, drone Skywalker diterbangkan untuk mengenali karakteristik aerodinamika pesawat, seperti kestabilan dan respons saat terbang. Data yang diperoleh dari pengujian ini akan menjadi dasar penyempurnaan desain dan peningkatan performa pesawat. Proses ini sangat penting dalam pengembangan teknologi drone yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari pengawasan hingga pemetaan wilayah.

Dengan pengujian yang dilakukan oleh tim BRIN, diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teknologi penerbangan nasional. Hasil uji coba ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan drone yang lebih canggih dan efisien untuk berbagai aplikasi di masa depan.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar