
Sakit gigi adalah pengalaman yang bisa dianggap sepele, namun bagi yang mengalaminya, rasa sakitnya terasa luar biasa. Hari ini, aku resmi menyerah pada rasa sakit yang muncul dari gigi. Bukan karena patah hati atau tugas kuliah yang menumpuk, tapi karena satu hal kecil yang ternyata sangat menyiksa: sakit gigi.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Rasa sakit yang disebut-sebut sepele ini justru seperti disiksa oleh cenat-cenut yang tak berhenti. Dari gusi hingga ke otak, sensasi itu membuatku merasa seperti sedang dilibas oleh sesuatu yang tak terlihat. Jika sakit hati bisa diredakan dengan lagu galau, sakit gigi justru membuat semua suara terdengar menyebalkan dan memperparah rasa nyeri.
Awalnya, aku hanya mengira itu ngilu biasa. Makan manis sedikit, lalu muncul sensasi cekit-cekit. Tapi manusia sering kali meremehkan gejala kecil sampai akhirnya semuanya terlambat. Aku biarkan begitu saja, hingga malam itu rasa sakit datang menyerang seperti pasukan elit yang tak bisa ditahan.
Aku mencoba berbagai cara untuk mengurangi rasa sakit, mulai dari menggigit bantal, menempelkan es di pipi, minum air putih, bahkan berdoa dengan khusyuk. Tapi rasa sakit tetap bertahan, seolah berkata, “Jangan main-main sama aku.”
Yang lebih lucu (atau sedih), makan menjadi ritual penuh perjuangan. Aku harus mengunyah pelan-pelan dan mencoba menggunakan sisi gigi yang lain. Rasanya seperti sedang menghindari ranjau. Jika salah kunyah, rasanya seperti disambar petir.
Kadang aku sampai curiga, kenapa rasa sakitnya bisa membuat kepala ikut denyut? Bahkan pipi jadi bengkak seperti habis berantem dengan lebah. Dan yang paling menyakitkan bukan hanya rasa cenat-cenutnya, tapi fakta bahwa aku sendiri penyebabnya. Aku sering lupa sikat gigi malam hari, sering makan permen tanpa minum air, dan jarang sekali ke dokter gigi.
Padahal kalau dipikir-pikir, gigi cuma minta disikat dua kali sehari. Tidak ada permintaan drama atau biaya besar, tapi aku malah mengabaikannya. Sampai akhirnya sekarang mereka balas dendam.
Yang membuatku makin tertekan adalah saat orang bilang, “Sudah ke dokter gigi?” Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya rumit. Ke dokter gigi berarti harus menghadapi jarum, alat tajam, dan bunyi ngiiiiing yang selalu membuat bulu kuduk merinding.
Tapi setelah menahan cenat-cenut berhari-hari, aku sadar: lebih baik takut sebentar daripada tersiksa selamanya. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah pada perawatan dokter, entah itu tambal, cabut, atau apapun. Yang jelas, aku ingin bebas dari rasa nyeri ini.
Sakit gigi bukan cuma urusan gusi atau enamel, tapi juga soal kewarasan. Karena ternyata, satu gigi kecil bisa membuat satu kepala manusia nyaris hilang kontrol. Dari semua drama cenat-cenut ini, aku belajar bahwa kesehatan mulut itu penting. Sakit gigi itu seperti karma kecil dari kebiasaan buruk yang dibiarkan.
Kini aku akan lebih rajin sikat gigi, kurangi makanan manis, dan pastinya tidak akan menunda periksa ke dokter. Sakit hati mungkin butuh waktu untuk pulih, tapi sakit gigi? Harus segera ditangani! Karena hidup ini sudah cukup berat tanpa ditambah cenat-cenut yang bikin meringis.
Sakit gigi ini benar-benar jadi pengingat kalau tubuh kita selalu punya cara untuk menegur. Ketika kita sibuk mengejar banyak hal, lupa makan sehat, lupa minum air putih, lupa sikat gigi dengan benar, tubuh seolah berkata, “Hei, aku juga butuh perhatian.”
Dan ternyata teguran itu tidak selalu datang dalam bentuk lelah atau pusing, tapi bisa juga lewat satu gigi kecil yang cenat-cenut tanpa ampun. Jadi mulai hari ini, aku berjanji tidak meremehkan hal kecil yang ternyata bisa membuat hidup jadi sengsara. Jika ingin tersenyum lebar tanpa takut cenat-cenut, rawat gigimu sebelum terlambat!
Komentar
Kirim Komentar