Dampak Alergi Susu Sapi pada Anak, Lebih dari Sekadar Kesehatan

Dampak Alergi Susu Sapi pada Anak, Lebih dari Sekadar Kesehatan

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Dampak Alergi Susu Sapi pada Anak, Lebih dari Sekadar Kesehatan, banyak fakta menarik yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dampak Alergi Susu Sapi pada Anak dan Keluarga

Alergi susu sapi merupakan salah satu jenis alergi yang paling umum terjadi pada anak-anak di bawah usia satu tahun. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berdampak tidak hanya pada kesehatan tetapi juga perkembangan anak secara keseluruhan.

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, menjelaskan bahwa dampak alergi susu sapi pada anak tidak hanya bersifat medis, tetapi juga melibatkan aspek non-medis yang cukup signifikan.

“Di luar medis, ternyata anak yang menderita alergi dan tidak ditangani dengan baik, pasti kualitas kehidupannya tidak bagus. Ketika mulai masuk sekolah, pasti rewel. Kegiatan akademiknya akan sulit berjalan dengan baik,” ujar dr. Ray saat ditemui di Jakarta pada Senin (20/10/2025).

Tantangan bagi Orangtua

Salah satu dampak non-medis dari alergi susu sapi adalah kecemasan yang dialami oleh orangtua. Banyak orangtua merasa cemas karena khawatir memberikan makanan yang bisa memicu reaksi alergi pada anak mereka. Hal ini juga membuat orangtua sering merasa bingung dalam menentukan jenis makanan yang aman untuk dikonsumsi anak.

“Kalau ayah atau ibu sudah cemas, suaminya atau istrinya tenang-tenang saja, marah enggak? Ingin pasangan cemas juga kan? Satu keluarga cemas? Kecemasan ini punya risiko pada kualitas parenting,” kata dr. Ray.

Kecemasan ini bisa memengaruhi cara orangtua dalam memberikan makanan kepada anak. Banyak orangtua yang belum berkonsultasi dengan dokter anak, justru membatasi banyak bahan makanan, bukan hanya pada bahan makanan yang menjadi penyebab alergi.

Dr. Tiara Nien Paramita Sp.A, dokter spesialis anak, menekankan bahwa meskipun anak dengan alergi memiliki pantangan terhadap makanan tertentu, bukan berarti pola makan anak harus dibatasi secara berlebihan.

“Intinya adalah tidak perlu pantang yang di luar dari alergi. Opsinya sangat luas, ada daging sapi, ikan, dan seafood,” ujar dr. Tiara dari RSAB Harapan Kita.

Pengaruh pada Prestasi Akademik

Alergi susu sapi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat terus berlanjut hingga anak memasuki usia sekolah dan berdampak pada prestasi akademiknya. Meskipun tubuh anak bisa mentolerir alergi seiring bertambahnya usia, jika tidak segera diatasi, alergi bisa berkembang menjadi penyakit lain seperti asma atau rhinitis alergi.

“Memang bisa toleran seiring bertambahnya usia, tapi kalau enggak disetop alergi makanannya, alergi susu sapinya, ternyata penyakit alergi lainnya muncul,” tutur dr. Tiara.

Disebutkan oleh dr. Tiara bahwa kondisi ini dikenal sebagai allergic march atau atopic march. Biasanya, anak yang mengalami kondisi ini akan mengalami gejala seperti asma atau rhinitis alergi saat masuk usia sekolah hingga dewasa.

“Anak-anak yang seperti itu biasanya, kalau yang berat, tidurnya suka terganggu, mungkin amandelnya membesar,” tambah dr. Tiara.

Tidur yang terganggu dapat menyebabkan anak kurang fokus saat bersekolah, sehingga berujung pada penurunan prestasi akademik.

Dampak Ekonomi

Selain dampak kesehatan dan psikologis, alergi susu sapi yang tidak segera ditangani juga bisa berdampak pada perekonomian keluarga. Dr. Ray menekankan bahwa alergi bisa kambuh-kambuh jika tidak diatasi sejak awal.

“Ketika kumat, pasti butuh biaya ekstra. Kumat lagi, biaya lagi. Dampak ekonomi yang dikeluarkan keluarga bisa lebih banyak dibanding penyakit lainnya,” ujar dr. Ray.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Utamakan kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar