Defisit APBN 2025 Rp 560,3 Triliun, Ekonom UGM Tekankan Efisiensi dan Perbaikan Iklim Usaha

Defisit APBN 2025 Rp 560,3 Triliun, Ekonom UGM Tekankan Efisiensi dan Perbaikan Iklim Usaha

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Defisit APBN 2025 Rp 560,3 Triliun, Ekonom UGM Tekankan Efisiensi dan Perbaikan Iklim Usaha menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kinerja APBN Hingga November 2025

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 November 2025 mencatat defisit sebesar Rp 560,3 triliun atau setara 2,35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut mengalami peningkatan dibandingkan posisi akhir Oktober 2025. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi fiskal nasional masih berada dalam batas aman dan tetap terjaga di tengah ketidakpastian serta dinamika ekonomi global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tingkat defisit tersebut masih jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan dalam APBN 2025, yakni 2,78 persen dari PDB. Pemerintah memastikan APBN tetap berfungsi optimal sebagai instrumen stabilisasi dan perlindungan ekonomi. Hal itu dilakukan melalui realisasi pendapatan dan belanja negara yang diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung program prioritas, serta memperkuat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Defisit APBN Masih Di Bawah Batas Kritis

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menilai defisit APBN sebesar Rp 560,3 triliun masih berada dalam batas yang aman. Menurutnya, rasio defisit terhadap PDB yang berada di angka 2,35 persen belum menimbulkan risiko serius bagi stabilitas fiskal nasional. “Kalau dilihat dari rasionya yang masih 2,35 persen terhadap PDB, itu sebenarnya masih dalam range yang aman,” ujar Eddy saat dimintai keterangan aiotrade, Minggu (21/12/2025).

Ia menjelaskan, dalam praktik kebijakan makroekonomi, ambang batas defisit yang umum dijadikan rujukan adalah 3 persen dari PDB. Dengan demikian, posisi fiskal Indonesia saat ini dinilai masih terkendali. Eddy menambahkan, struktur belanja menjadi faktor utama pembentuk defisit. Dari total pengeluaran, belanja pemerintah pusat berkontribusi sekitar 72,69 persen, sedangkan sisanya berasal dari transfer ke daerah (TKD). Komposisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan defisit lebih dominan berasal dari belanja di tingkat pemerintah pusat.

Belanja dan Penerimaan Sama-Sama Perlu Dibenahi

Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa secara sederhana terdapat dua penyebab utama defisit anggaran, yakni pengeluaran yang terlalu besar dan penerimaan negara yang belum optimal. “Kedua sisi tersebut idealnya dibenahi secara bersamaan agar defisit dapat ditekan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dari sisi belanja, Eddy menekankan pentingnya peningkatan efisiensi anggaran kementerian dan lembaga, terutama pada belanja barang dan belanja modal. Namun, ia menilai ruang efisiensi relatif terbatas untuk belanja pegawai dan bantuan sosial karena berkaitan langsung dengan fungsi negara serta perlindungan masyarakat.

Sementara dari sisi penerimaan, Eddy menyoroti perlunya kebijakan yang mampu membuat Indonesia lebih menarik bagi dunia usaha dan talenta berkualitas. “Pemerintah perlu menciptakan iklim yang kondusif, seperti insentif pajak yang tepat, kepastian hukum, kebebasan berusaha, serta kondisi politik dan budaya yang mendukung,” katanya.

Menurut Eddy, perbaikan iklim usaha dan meningkatnya kepercayaan investor menjadi kunci untuk memperkuat basis penerimaan negara sekaligus menjaga keberlanjutan APBN di tengah tantangan ekonomi global.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Defisit APBN 2025 Rp 560,3 Triliun, Ekonom UGM Tekankan Efisiensi dan Perbaikan Iklim Usaha ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar