DKI Kuatkan Penelitian, Pengawasan, dan Edukasi untuk Tindak Lanjuti Temuan Mikroplastik

DKI Kuatkan Penelitian, Pengawasan, dan Edukasi untuk Tindak Lanjuti Temuan Mikroplastik

Isu politik kembali hangat diperbincangkan. Mengenai DKI Kuatkan Penelitian, Pengawasan, dan Edukasi untuk Tindak Lanjuti Temuan Mikroplastik, publik menunggu dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Langkah Pemprov DKI Jakarta untuk Mengatasi Mikroplastik dalam Air Hujan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah-langkah penting untuk menangani temuan kandungan mikroplastik dalam air hujan yang ditemukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pihaknya berkomitmen untuk memperkuat riset, pengawasan terhadap sumber pencemar, serta edukasi kepada masyarakat guna menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan warga.

Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto menyampaikan bahwa hasil penelitian BRIN menjadi pengingat penting bahwa polusi plastik telah mencapai tahap yang lebih kompleks. Ia menjelaskan bahwa setelah menerima hasil riset tersebut, DLH segera melakukan koordinasi untuk memperdalam kajian ilmiah dan memperkuat pengawasan di lapangan.

“Ini bukan isu yang perlu ditakuti, melainkan panggilan untuk mempercepat kerja sama dalam mengatasi polusi plastik,” ujarnya dalam sebuah media briefing bertema Isu Mikroplastik dalam Air Hujan dan Fenomena Cuaca Panas Ekstrem di Balai Kota Jakarta, pada 24 Oktober.

Penelitian dan Pemantauan Mikroplastik di Jakarta

Sejak tahun 2022, DLH DKI telah melakukan pemantauan kandungan mikroplastik di Teluk Jakarta, sungai, dan danau dengan bekerja sama dengan BRIN dan lembaga riset lainnya. Pemantauan dilakukan di lebih dari 60 titik setiap tahun, menghasilkan data penting tentang sebaran dan sumber pencemar yang menjadi dasar kebijakan pengendalian lingkungan berbasis bukti ilmiah.

Profesor Riset BRIN Muhammad Reza Cordova menjelaskan bahwa mikroplastik dapat berpindah melalui udara dan ikut turun bersama hujan, terutama di wilayah perkotaan yang padat. Partikel mikroplastik yang sangat ringan bisa terbawa angin dan jatuh bersama hujan, sehingga fenomena ini bersifat lintas wilayah. Oleh karena itu, pendekatan pengendaliannya harus terpadu dari hulu hingga hilir.

Peran BPBD DKI dalam Mitigasi Lingkungan

Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Rian Sarsono menilai hasil penelitian BRIN sebagai bagian dari sistem peringatan dini bagi pemerintah daerah. Hasil riset ini menjadi dasar bagi Pemprov DKI untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi terhadap potensi ancaman lingkungan akibat aktivitas manusia.

BPBD DKI bersama DLH DKI terus gencar melakukan edukasi masyarakat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah pencemaran mikroplastik. Sejak 2023, BPBD bahkan telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) bersama BMKG dan BRIN guna mengatur curah hujan, mencegah cuaca ekstrem, serta menurunkan partikel berbahaya di udara.

Dampak Mikroplastik terhadap Kesehatan

Dari sisi kesehatan, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinkes DKI Rahmat Aji Pramono menjelaskan bahwa paparan mikroplastik jangka panjang dapat memengaruhi sistem pernapasan dan pencernaan. Partikel ini bisa menyebabkan peradangan, bahkan masuk ke pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung atau stroke.

Rahmat menambahkan bahwa meskipun mikroplastik bukan penyebab tunggal penyakit, ia dapat memperburuk kondisi bagi orang dengan penyakit bawaan. Karena itu, Dinkes DKI mengimbau masyarakat untuk rajin membersihkan rumah karena debu menjadi salah satu media penyebaran mikroplastik.

Kolaborasi untuk Meningkatkan Kualitas Lingkungan

Pemprov DKI memastikan kolaborasi dengan BRIN, Kementerian Lingkungan Hidup, dan perguruan tinggi terus diperkuat untuk memperdalam riset kualitas air hujan. Selain itu, pengawasan terhadap sumber pencemar dari sungai dan drainase juga ditingkatkan, disertai kampanye publik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Selain isu mikroplastik, DLH DKI juga menanggapi kekhawatiran warga terhadap panas ekstrem yang melanda belakangan ini. Berdasarkan data BMKG, suhu tinggi di Jakarta merupakan kombinasi pengaruh perubahan iklim global dan faktor lokal seperti padatnya aktivitas perkotaan serta berkurangnya ruang hijau.

Asep menyebut Pemprov DKI tengah mempercepat adaptasi dan mitigasi iklim melalui berbagai program lingkungan, antara lain perluasan ruang terbuka hijau, penanaman pohon, dan pengendalian emisi transportasi maupun industri.

“Jakarta tidak boleh hanya bereaksi setelah dampak terasa. Kami ingin menjadi kota tangguh yang responsif terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

Ia menegaskan, Pemprov DKI akan terus bekerja secara ilmiah, transparan, dan kolaboratif untuk melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat. “Fenomena hujan mikroplastik dan panas ekstrem menjadi pengingat bahwa perubahan perilaku kolektif dan kebijakan berkelanjutan adalah keharusan, bukan pilihan,” tambah Asep.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan aspirasi Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar