
Oral Seks dan Risiko Penularan HIV
Dokter Infeksi Menular Seksual (IMS) di Puskesmas Talise, Magfirah, memberikan penjelasan penting terkait risiko penularan HIV melalui praktik oral seks. Meskipun risiko tersebut lebih rendah dibanding hubungan seksual secara langsung, ia menegaskan bahwa potensi penularan tetap ada.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Menurut Magfirah, air liur tidak dapat menularkan HIV. Namun, situasi bisa berbeda jika terdapat luka terbuka di mulut atau alat kelamin saat melakukan aktivitas seksual. “Jika seseorang yang mengidap HIV melakukan oral seks, dan sperma mereka masuk ke dalam mulut, maka risiko penularan bisa muncul jika ada luka di mulut,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa hal ini juga bisa terjadi sebaliknya. Jika perempuan yang mengidap HIV melakukan oral seks kepada pasangan laki-laki, risiko penularan bisa muncul jika penis memiliki luka akibat gesekan. “Luka pada penis dan mulut bisa menjadi pintu masuk virus,” tambahnya.
Meski demikian, Magfirah menekankan bahwa risiko penularan HIV melalui oral seks lebih rendah dibanding hubungan seksual biasa. Alasannya adalah karena kontak cairan tubuh tidak secara langsung masuk ke dalam tubuh. “Persentasenya memang lebih kecil dibanding hubungan kelamin ke kelamin, karena cairannya tidak disemprotkan langsung ke dalam tubuh,” ujarnya.
Magfirah juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti bahwa air liur dapat menularkan HIV. Bahkan ketika seseorang menggunakan alat makan atau gelas yang sama dengan pengidap HIV, risiko penularan tetap rendah. “Air liur sampai saat ini belum ditemukan bisa menularkan HIV, bisa dibilang tidak bisa menularkan, walaupun menggunakan alat makan yang sama,” jelasnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap semua bentuk kontak seksual berisiko, terutama jika ada luka terbuka. Penggunaan kondom dan menjaga kebersihan diri menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Layanan Pencegahan HIV di Puskesmas Talise
Selain itu, Puskesmas Talise saat ini menyediakan layanan PreP (Pre-Exposure Prophylaxis). PreP merupakan obat pencegah HIV bagi kelompok kunci atau kelompok berisiko tinggi. Kelompok berisiko tinggi antara lain:
- Transgender
- Lelaki seks lelaki (LSL)
- Wanita pekerja seks (WPS)
- Penasun (pengguna jarum suntik)
- Pasangan berisiko tinggi (gonta-ganti pasangan)
Layanan ini sangat penting sebagai upaya pencegahan penularan HIV di kalangan masyarakat yang rentan. Dengan adanya PreP, masyarakat berisiko tinggi dapat mengurangi risiko tertular HIV melalui interaksi seksual.
Tips untuk Mencegah Penularan HIV
Agar risiko penularan HIV dapat diminimalisir, Magfirah menyarankan beberapa langkah penting:
- Selalu gunakan kondom saat melakukan hubungan seksual
- Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang lain, terutama jika ada luka terbuka
- Jaga kebersihan diri secara rutin
- Lakukan tes HIV secara berkala, terutama jika memiliki kebiasaan seksual berisiko
Dengan kesadaran dan tindakan pencegahan yang tepat, masyarakat dapat melindungi diri dari ancaman HIV. Magfirah juga menekankan pentingnya edukasi dan informasi yang akurat tentang penyakit ini.
Komentar
Kirim Komentar