
Sosok Dokter Tan Shot Yen yang Viral dan Kritik Program Makanan Bergizi Gratis
Dokter Tan Shot Yen, seorang ahli gizi dan dokter ternama, kini menjadi sorotan publik setelah mengkritik keras program Makanan Bergizi Gratis (MBG) saat audiensi dengan Komisi IX DPR RI. Perempuan kelahiran Beijing, China, pada 17 September 1964 ini memiliki latar belakang pendidikan yang sangat panjang dan berbagai pengalaman di bidang kesehatan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dokter Tan memulai pendidikan kedokterannya di Universitas Tarumanegara. Setelah menyelesaikan studi tersebut, ia melanjutkan studi profesi di Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1991. Selain itu, ia juga pernah menempuh pendidikan pasca-sarjana dalam bidang instructional physiotherapy di Perth, Australia. Ia juga meraih diploma dalam bidang Penyakit Menular Seksual dan HIV-AIDS di Thailand. Di samping itu, Dokter Tan juga memiliki latar belakang pendidikan filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Banyak orang mulai mengenalnya lewat video yang viral di media sosial, termasuk X. Salah satu akun yang membagikan cuplikan videonya adalah @gamilaarief. Dalam video tersebut, Dokter Tan menyampaikan kritik tajam terhadap menu MBG yang disajikan. Menurutnya, menu tersebut tidak sesuai dengan identitas bangsa karena sering kali menggunakan bahan pangan ala Barat, seperti burger, spageti, dan bakmi gacoan, padahal bahan-bahan tersebut tidak tumbuh di Indonesia.
"Di Lhoknga sampai dengan Papua yang dibagi adalah burger, di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia," ujarnya. Ia juga menyayangkan bahwa banyak anak muda yang tidak tahu bahwa gandum tidak bisa tumbuh di Indonesia. Hal ini menunjukkan kurangnya pemahaman tentang bahan pangan lokal.
Selain itu, Dokter Tan juga mengkritik pemberian susu formula sebagai bagian dari MBG. Menurutnya, etnis Melayu yang merupakan salah satu komunitas besar di Indonesia memiliki tingkat intoleransi laktosa yang tinggi. "80 persen etnik Melayu intoleransi laktosa," jelasnya.
Kritik lain yang disampaikan oleh Dokter Tan adalah soal keberadaan ahli gizi yang minim pengalaman di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia mengungkapkan bahwa saat rekan-rekannya sesama ahli gizi senior berkunjung ke SPPG, banyak ahli gizi yang tidak memahami HACCP. HACCP atau Hazard Analysis and Critical Control Point adalah sistem manajemen risiko untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya keamanan pangan. Sistem ini bertujuan mencegah kontaminasi dan menjamin keamanan produk pangan.
"Ahli gizinya baru lulus dan tidak tahu apa itu HACCP," katanya. Ia juga menyebutkan bahwa mereka masih kurang pengalaman dalam hal UPF (Ultra-Processed Food), yang merupakan makanan olahan tinggi.
Dokter Tan menjelaskan bahwa menu MBG yang sering diunggah SPPG di media sosial hanya berdasarkan hitungan kalori tanpa memperhatikan kualitas. Hal ini terjadi karena minimnya pengalaman ahli gizi yang bekerja di SPPG. "Kalorinya cukup, tapi kualitasnya ngehek," ujarnya.
Selain kritik terhadap MBG, Dokter Tan juga aktif dalam memberikan informasi tentang gizi dan bahan pangan lokal melalui akun Instagram @drtanshotyen. Hingga saat ini, akunnya memiliki lebih dari 1,2 juta pengikut. Ia juga rutin menulis opini di Kompas.com sejak 17 Maret 2016. Sampai saat ini, sudah ada 155 artikel yang ditulisnya dengan total pembaca mencapai 1.776.707.
Komentar
Kirim Komentar