
Kritik Dokter Tan Shot Yen terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Sejumlah pihak kini tengah memperhatikan pernyataan yang disampaikan oleh Dr. dr. Tan Shot Yen, seorang ahli gizi ternama di Indonesia. Ia mengkritik tajam terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan kepada siswa di berbagai daerah. Menurutnya, beberapa makanan yang disajikan seperti burger dan spaghetti tidak sesuai dengan kebutuhan gizi masyarakat Indonesia.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Menurut dokter Tan, banyak menu MBG menggunakan bahan dasar tepung gandum yang tidak cocok untuk sebagian besar warga Indonesia. Hal ini karena sebagian besar penduduk memiliki intoleransi terhadap laktosa, sehingga penggunaan susu sapi dalam program tersebut dinilai kurang tepat.
Selain itu, ia menyoroti bahwa beberapa menu MBG justru mengandung makanan ala Barat yang tidak sesuai dengan identitas budaya lokal. Contohnya, di wilayah Lhoknga hingga Papua, masyarakat sering mendapatkan menu seperti burger, spageti, atau bakmi gacoan. Padahal, tanaman gandum tidak tumbuh di Indonesia, sehingga penggunaannya dinilai tidak sesuai.
Kekhawatiran tentang Kompetensi Ahli Gizi
Dokter Tan juga menyampaikan kekhawatirannya terkait kompetensi para ahli gizi yang terlibat dalam program MBG. Menurutnya, banyak dari mereka masih dalam tahap fresh graduate, sehingga kurang memiliki pengalaman dalam mengelola sistem pangan yang aman dan sesuai standar.
Ia menunjukkan bahwa para ahli gizi tersebut belum sepenuhnya memahami metode ilmiah seperti Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Metode ini digunakan untuk memastikan keamanan pangan dengan mengendalikan titik kritis di setiap tahap produksi. Namun, menurutnya, banyak dari mereka bahkan tidak tahu apa itu HACCP.
"Kadang mereka tidak tahu, 'HACCP itu apa?' Jadi, kalau mereka tidak memahami hal ini, maka risiko keamanan pangan bisa meningkat," ujarnya.
Profil Dokter Tan Shot Yen
Dr. dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, Tiongkok pada 17 September 1964, namun dibesarkan di Jakarta. Ia memiliki gelar doktor dalam bidang Ilmu Gizi dari Universitas Indonesia, setelah empat tahun menempuh pendidikan. Selain itu, ia juga memiliki gelar Magister Humaniora yang memberinya pendekatan holistik dalam memahami kesehatan.
Dokter Tan juga memiliki latar belakang pendidikan yang luas. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara sejak 1983 dan meraih gelar profesi dokter pada 1991. Setahun kemudian, ia melanjutkan studi S2 di Perth, Australia, dengan fokus pada instructional physiotherapy.
Selain itu, ia juga memiliki sertifikat diploma dalam bidang HIV/AIDS dari Thailand. Di samping itu, ia juga aktif sebagai penulis dan pembicara di berbagai seminar dan penyuluhan kesehatan.
Aktivitas dan Kontribusi Dokter Tan
Dokter Tan juga dikenal sebagai kolumnis di Kompas.com sejak 2016. Ia telah menulis lebih dari 155 artikel, termasuk tulisan terakhirnya yang berjudul "Sederet Tantangan Membangun Generasi Emas 2045". Selain itu, ia juga menulis beberapa buku yang membahas topik kesehatan dan gizi, seperti "Saya Pilih Sembuh dan Sehat", "Nasehat Buat Sehat", "Anak Sehat Indonesia", serta "Resep Panjang Umur Sehat dan Sembuh".
Selain aktivitas akademis dan penulisan, dokter Tan juga aktif di media sosial. Ia sering membagikan informasi terkait kesehatan, gizi, dan tumbuh kembang anak melalui Instagram dan platform lainnya.
Kesimpulan
Melalui kritiknya terhadap program MBG, dokter Tan Shot Yen menegaskan pentingnya mempertimbangkan kebutuhan gizi masyarakat Indonesia dalam penyediaan makanan. Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kompetensi para ahli gizi agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, ia menjadi salah satu tokoh yang sering diundang untuk memberikan edukasi dan pandangan tentang kesehatan masyarakat.
Komentar
Kirim Komentar