Drama Mikro China 'Gila' Menggemparkan dengan Durasi Singkat

Drama Mikro China 'Gila' Menggemparkan dengan Durasi Singkat

Dunia hiburan kembali membuat heboh netizen. Kali ini beredar kabar tentang Drama Mikro China 'Gila' Menggemparkan dengan Durasi Singkat yang menjadi trending. Cek faktanya.


Perkembangan Drama Mikro di Dunia Hiburan Global

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Industri hiburan dunia kini sedang mengalami transformasi besar-besaran akibat kehadiran drama mikro dari Tiongkok. Drama-drama ini dikenal dengan istilah "duanju" dalam bahasa Mandarin, yang merupakan serial video vertikal dengan plot yang dinamis, intens, dan disajikan dalam durasi sangat singkat, biasanya hanya 90 detik hingga dua menit per episode.

Fenomena ini bukan sekadar tren sementara. Pada tahun 2024, industri drama mikro di Tiongkok mencetak sejarah dengan melampaui total pendapatan box office negara tersebut untuk pertama kalinya. Menurut laporan dari China Netcasting Services Association (lembaga yang mengatur konten audiovisual daring Tiongkok), pasar drama mikro telah melampaui 50 miliar yuan atau setara dengan sekitar Rp112,5 triliun. Angka pendapatan ini diperkirakan akan terus meningkat pesat, bahkan diproyeksikan mencapai lebih dari Rp153,22 triliun pada 2025.

Keberhasilan drama mikro ini berakar pada kemampuannya memanfaatkan kebiasaan konsumsi konten audiens yang mobile-first. Formatnya yang sweet, short, dan sharp menyentuh perilaku pencarian kepuasan instan dari para pengguna.

Anne Chan, pendiri dan CEO AR Asia Production, menggambarkan drama mikro sebagai "opera sabun The Bold and The Beautiful" yang diberi steroid. “Anda harus memiliki cliffhanger (ujung cerita menggantung) di setiap menit, bukan setiap jam. Jadi, semuanya manis, pendek, dan tajam,” ujarnya.

Drama mikro awalnya populer di Tiongkok setelah ByteDance (melalui Douyin) dan Kuaishou mulai mendorong format video vertikal di platform mereka. Ashley Dudarenok, pendiri dan direktur pelaksana ChoZan, sebuah firma konsultan yang berbasis di Hong Kong, mengatakan pertumbuhan drama mikro Tiongkok melonjak selama pandemi. “Semua dimulai dengan Douyin dan juga Kuaishou saat mereka mulai mendorong drama pendek vertikal ini di platform mereka, terutama pada 2020 dan 2021 selama pandemi, drama tumbuh pesat,” kata dia.

Daya tarik utama drama mikro adalah kemampuannya menawarkan alur cerita cepat, adiktif, dan memberikan emotional payoff instan dalam hitungan menit. Seema Shah, Vice President of Research and Insights di firma intelijen pasar Sensor Tower, melihat ini sebagai pemanfaatan psikologi konsumen. “Mereka memanfaatkan perilaku gratifikasi instan. Cara Anda langsung merasa puas setelah melihat cerita inilah yang menjadi hook-nya. Memang agak berlebihan (over the top), tetapi berlebihan yang masih menghibur,” ujarnya.

Kini, drama mikro tidak hanya menjadi fenomena domestik, melainkan merambah pasar global. Berdasarkan laporan Deadline pada September, Amerika Serikat (AS) menjadi pasar paling menguntungkan di luar Tiongkok, dengan pendapatan mencapai sekitar Rp13,34 triliun pada 2024, dan diproyeksikan naik hingga sekitar Rp61,94 triliun pada 2030. Aplikasi seperti ReelShort, DramaBox, dan GoodShort kini mendominasi download di AS.

Dudarenok berpendapat bahwa banyak produser drama mikro percaya bahwa jika konten ini berhasil memikat publik AS, yang dikenal sebagai eksportir budaya terbesar di dunia, maka konten tersebut dapat dijual dan menarik minat seluruh dunia. Salah satu keunggulan drama mikro Tiongkok dinilai terletak pada ekosistemnya yang terintegrasi dengan baik oleh pemain besar seperti ByteDance, Tencent (melalui WeChat Video Accounts), dan Kuaishou.

Selain itu, industri ini memasuki fase baru dengan munculnya drama mikro premium yang memiliki anggaran lebih besar dan potensi franchise. Bahkan, kecerdasan buatan (AI) telah diintegrasikan dalam rantai nilainya untuk mempercepat produksi, menguji genre, dan menciptakan alur cerita bercabang.

Vivek Couto, Executive Director dari Media Partners Asia (MPA), melihat masa depan cerah namun kompetitif dari terobosan ini. “Drama mikro telah berevolusi dari eksperimen niche menjadi kategori global bernilai miliaran dolar,” kata Couto.

Ia mengatakan meskipun biaya produksinya relatif murah, distribusinya mahal, dan kunci kesuksesan bergantung pada kecepatan, skala, dan konten yang dapat diulang (repeatable IP). Dari Tiongkok, drama mikro dinilai berpotensi besar menjadi ekspor budaya besar berikutnya yang mampu mengganggu industri hiburan AS dan global, meniru apa yang ditunjukkan ekosistem Tiongkok saat konten terintegrasi erat dengan social dan payments rails. Pasar global di luar Tiongkok diperkirakan mencapai sekitar Rp154,85 triliun pada 2030, dan keberhasilan ini sangat bergantung pada operator yang mampu mengendalikan infrastruktur monetisasi dan distribusi mereka.

Kesimpulan: Nantikan update selanjutnya dari artis favorit Anda. Jangan lupa untuk share berita ini ke sesama fans.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar