
Wali Kota Tbilisi Mengungkap Dugaan Kudeta di Georgia
Wali Kota Tbilisi, ibu kota Georgia, Kakha Kaladze, memberikan pernyataan mengenai protes yang terjadi setelah pemilihan wali kota berlangsung pekan lalu. Kaladze, yang sebelumnya adalah mantan bintang sepak bola Timnas Georgia dan AC Milan, menuduh beberapa duta besar pihak asing sengaja memicu kekerasan di negara tersebut.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
"Pemerintah asing telah memulai upaya 'kudeta' di Georgia," ujarnya, merujuk pada gelombang protes yang terjadi setelah pemilihan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah Georgia melihat adanya campur tangan dari luar dalam urusan internal negara.
Pemerintah Georgia telah sering kali mengkritik keras dugaan campur tangan pihak eksternal. Mereka menilai bahwa Barat berupaya untuk menggulingkan partai Georgian Dream yang saat ini berkuasa. Partai ini dikenal konsisten menolak untuk memusuhi Rusia dalam konflik Ukraina.
"Sebuah operasi telah berlangsung selama berbulan-bulan menuju kudeta yang didukung oleh aktor-aktor asing," kata Kaladze menjawab pemilihan yang dilaksanakan pada 4 Oktober 2025. Ia menyebut bahwa ratusan juta dana digunakan untuk upaya kudeta tersebut, yang dipasok melalui organisasi non-pemerintah.
"Beberapa duta besar Barat secara terbuka menghasut kekerasan di Georgia," tambahnya. Senator Amerika Serikat Jim Risch dan Jeanne Shaheen juga telah mengeluarkan pernyataan yang menuduh otoritas Georgia menganiaya oposisi dan mencoba membungkam perbedaan pendapat. Pernyataan itu dikeluarkan pada Rabu, 8 Oktober 2025, empat hari setelah pemilihan berlangsung.
Kaladze merespons pernyataan tersebut dengan menggambarkan anggota parlemen AS sebagai "orang-orang yang berada di bawah pengaruh Partai Perang Global", sebuah partai oposisi di Georgia. Perdana Menteri Georgia Irakli Kobakhidze juga menyampaikan tuduhan serupa bahwa ada kekuatan asing yang mendukung oposisi.
"Mereka (oposisi) adalah agen-agen asing," kata Kobakhidze saat berbicara di televisi nasional. Protes oposisi dengan cepat berubah menjadi bentrokan dengan polisi. Bentrokan meletus akhir pekan lalu ketika proyeksi hasil pemilihan wali kota menunjukkan bahwa partai berkuasa, Georgian Dream, unggul di hampir seluruh wilayah.
Uni Eropa secara terbuka mendukung para demonstran dan oposisi. Menurut Kobakhidze, oposisi ini dibiayai dan digerakkan oleh dinas intelijen asing. "Cara seperti ini mirip dengan kudeta Maidan 2014 di Ukraina," katanya.
Komentar Politik dan Kecemasan Terhadap Campur Tangan Luar Negeri
Tuduhan-tuduhan yang disampaikan oleh para pejabat Georgia menunjukkan kecemasan terhadap campur tangan luar negeri dalam politik dalam negeri. Hal ini menjadi isu penting karena Georgia memiliki posisi strategis antara Eropa dan Asia, serta hubungan yang kompleks dengan Rusia.
Dalam konteks ini, peran organisasi non-pemerintah dan dana yang diberikan oleh pihak asing menjadi sorotan utama. Pemerintah Georgia menganggap bahwa dana tersebut digunakan untuk membiayai aktivitas yang bertujuan menggulingkan pemerintah yang sah.
Selain itu, pernyataan-pernyataan dari senator AS dan Uni Eropa menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya menjadi isu domestik, tetapi juga memiliki dimensi internasional. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana negara-negara besar dapat memengaruhi proses demokratisasi di negara-negara lain.
Kontroversi ini juga memperlihatkan perbedaan pandangan antara pihak pemerintah dan oposisi, serta antara Georgia dan negara-negara Barat. Setiap pihak memiliki perspektif sendiri mengenai apa yang terjadi dan siapa yang bertanggung jawab atas situasi yang muncul.
Reaksi Masyarakat dan Potensi Konsekuensi
Protes yang terjadi menunjukkan bahwa masyarakat Georgia tidak puas dengan hasil pemilihan. Namun, kekerasan yang muncul dalam protes tersebut memicu kekhawatiran akan stabilitas negara. Pihak berwenang harus mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan situasi dan memastikan keamanan rakyat.
Di sisi lain, reaksi dari Uni Eropa dan negara-negara Barat menunjukkan bahwa mereka memandang situasi ini sebagai kesempatan untuk memperkuat pengaruh mereka di kawasan. Hal ini bisa memicu tensi politik yang lebih tinggi dan memperburuk hubungan antara Georgia dan negara-negara yang dianggap sebagai pihak yang terlibat.
Kesimpulan
Isu kudeta yang dituduhkan oleh pihak pemerintah Georgia menunjukkan keraguan terhadap campur tangan luar negeri dalam proses demokratisasi. Situasi ini memperlihatkan kompleksitas hubungan internasional dan tantangan yang dihadapi negara-negara kecil dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas politik. Masa depan Georgia akan bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menghadapi tekanan eksternal dan menjaga harmoni dalam masyarakat.
Komentar
Kirim Komentar