
Seorang calon praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bernama Maulana Izzat Nurhadi asal Maluku Utara meninggal dunia di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang pada Kamis (9/10) malam. Peristiwa ini menimbulkan banyak perhatian dan kekhawatiran dari berbagai pihak terkait proses pendidikan yang dijalani para calon praja.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Meninggal Dunia Saat Apel Malam

Maulana ditemukan dalam kondisi tidak sadar setelah mengikuti apel malam yang merupakan bagian dari Program Pendidikan Dasar Mental dan Disiplin Calon Praja Pratama (Diksarmendispra). Wakil Rektor II Bidang Administrasi IPDN, Arief M Edie, menjelaskan bahwa almarhum sempat jatuh pingsan saat sedang mengikuti apel tersebut. Kejadian ini terjadi pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB.
Penyebab Kematian

Menurut keterangan Arief, penyebab kematian Maulana adalah henti jantung. Ia mengatakan bahwa almarhum awalnya mengeluhkan rasa lemas setelah selesai mengikuti apel. Setelah itu, ia diberi minum dan kemudian dibawa ke Kamar Sakit Asrama (KSA) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tensi dan kondisi kesehatannya normal. Namun, setelah dirujuk ke Rumah Sakit Unpad pada pukul 23.00 WIB, Maulana akhirnya meninggal dunia karena henti detak jantung.
Arief menegaskan bahwa Maulana tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Selain itu, ia juga tidak mengalami kelelahan berlebihan. Saturasi oksigen dan detak jantungnya tercatat dalam kondisi normal sebelum meninggal.
Bantah Ada Kekerasan

Arief menegaskan bahwa tidak ada unsur kekerasan dalam insiden kematian Maulana. Menurutnya, isu yang beredar di media sosial tentang adanya kekerasan tidak benar. Ia menyatakan bahwa IPDN memiliki kebijakan nol toleransi terhadap kekerasan. Selain itu, tidak ada hubungan antara calon praja dengan senior selama masa pendidikan dasar. Semua aktivitas dilakukan oleh tim Diksarmendispra tanpa campur tangan jajaran IPDN.
Ia juga menyampaikan bahwa tidak ditemukan luka-luka di tubuh almarhum. Hal ini membuktikan bahwa kejadian ini murni disebabkan oleh kondisi kesehatan yang mendadak.
Keluarga Tolak Autopsi

Arief mengatakan bahwa keluarga almarhum menolak untuk melakukan autopsi. Mereka memilih menerima kejadian ini sebagai bagian dari takdir. Ia menuturkan bahwa jenazah telah dimakamkan di kampung halamannya di Maluku Utara, dan prosesi pemakaman dilakukan langsung oleh keluarga.
Diksar IPDN Tetap Berlanjut

Meskipun ada peserta yang meninggal dunia, program Diksarmendispra tetap berlangsung. Arief menegaskan bahwa tidak ada kekerasan dalam kejadian ini, sehingga tidak ada gangguan terhadap jalannya pendidikan. Ia menilai bahwa semua peserta lainnya dalam kondisi baik dan aman.
Tanggapan Istana
Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan tanggapannya terkait peristiwa ini. Ia mengaku belum mendapatkan informasi lengkap dan akan melakukan konfirmasi ke Mendagri Tito Karnavian. Meski begitu, ia menilai peristiwa ini perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. Menurutnya, kejadian seperti ini sering terjadi dalam berbagai institusi pendidikan dan menjadi pekerjaan rumah bersama untuk memperbaiki proses pendidikan. Ia menekankan bahwa tradisi atau kebiasaan mendidik yang kurang tepat harus segera diperbaiki, bukan hanya di IPDN, tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
Komentar
Kirim Komentar