Hacker Korea Utara Serang Perusahaan Global untuk Dukung Nuklir

Berita mancanegara hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Hacker Korea Utara Serang Perusahaan Global untuk Dukung Nuklir tengah menjadi sorotan dunia. Berikut laporan selengkapnya.
Hacker Korea Utara Serang Perusahaan Global untuk Dukung Nuklir

Kemampuan Hacker Korea Utara dalam Serangan Siber yang Menghebohkan

Kemampuan hacker Korea Utara dalam menjalankan serangan siber telah terbukti sangat canggih dan efektif. Mereka berhasil membobol perusahaan-perusahaan asing dan mencuri dana dalam jumlah miliaran dolar AS, yang kemudian digunakan untuk mendanai proyek nuklir negara tersebut. Hal ini diungkap dalam laporan yang diterbitkan oleh Multilateral Sanctions Monitoring Team, sebuah kelompok pemantau yang dibentuk pada tahun 2024 oleh Amerika Serikat dan 10 sekutunya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa pemerintah Korea Utara secara langsung terlibat dalam operasi siber ini. Mereka mengatur serangan siber rahasia untuk membiayai riset dan pengembangan senjata nuklir. Tindakan siber Korea Utara dikaitkan dengan berbagai kerugian, termasuk penghancuran peralatan komputer fisik, bahaya bagi nyawa manusia, hilangnya aset warga sipil, serta pendanaan untuk program senjata pemusnah massal dan rudal balistik.

  • Para hacker menggunakan mata uang kripto untuk mencuci uang dan membeli perlengkapan militer guna menghindari sanksi internasional.
  • Mereka menyasar bisnis dan organisasi asing dengan perangkat lunak berbahaya (malware) yang dirancang untuk mencuri data sensitif dan mengganggu sistem jaringan.
  • Tim dari Multilateral Sanctions Monitoring Team menyebut kemampuan para hacker Korea Utara cukup mumpuni, bahkan setara dengan China dan Rusia.

Negara di Semenanjung Korea itu telah menginvestasikan sumber daya besar untuk mengembangkan kemampuan serangan sibernya. Berbeda dengan China, Rusia, atau Iran, Korea Utara memfokuskan kemampuan sibernya untuk mendanai pemerintahannya. Serangan siber dan pekerja palsu digunakan untuk mencuri dan menipu perusahaan serta organisasi di seluruh dunia.

Pencurian Kripto Terbesar dalam Sejarah

Awal tahun ini, peretas yang terhubung dengan Korea Utara melakukan salah satu pencurian kripto terbesar dalam sejarah. Mereka mencuri aset senilai 1,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 24 triliun) dalam bentuk ethereum dari platform Bybit. FBI kemudian menautkan peretasan itu dengan kelompok yang bekerja untuk dinas intelijen Korea Utara.

Selain itu, otoritas federal Amerika juga menuduh ribuan pekerja teknologi informasi (TI) di perusahaan-perusahaan AS sebenarnya adalah warga Korea Utara yang menggunakan identitas palsu. Mereka bekerja dari jarak jauh, mendapatkan akses ke sistem internal perusahaan, lalu mengirimkan gaji mereka ke pemerintah Korea Utara. Dalam beberapa kasus, satu orang bahkan memegang beberapa pekerjaan sekaligus dengan nama berbeda.

Bantuan dari Sekutu di Rusia dan China

Laporan tersebut juga menyebut bahwa sebagian aktivitas siber Korea Utara mendapat bantuan tidak langsung dari sekutu-sekutunya di Rusia dan China. Kegiatan siber Korea Utara telah didukung sebagian oleh sekutu di Rusia dan China, menambahkan bahwa operasi-operasi tersebut telah menyebabkan kerugian besar baik secara ekonomi maupun kemanusiaan.

Tim pemantau multilateral ini terdiri atas Amerika Serikat, Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Inggris. Mereka dibentuk setelah Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang semula bertugas memantau aktivitas Pyongyang.

Laporan terbaru ini merupakan yang kedua diterbitkan oleh tim tersebut, setelah laporan pertama pada Mei lalu yang menyoroti dukungan militer Korea Utara terhadap Rusia di tengah perang Ukraina.


Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Simak terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar