Hari Ibu: Melebihi Pujian, Menuju Cinta Tulus dan Ibu Sehat

Hari Ibu: Melebihi Pujian, Menuju Cinta Tulus dan Ibu Sehat

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Hari Ibu: Melebihi Pujian, Menuju Cinta Tulus dan Ibu Sehat, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Perayaan Hari Ibu dan Kekuatan yang Tidak Terlihat


Hari Ibu di Indonesia sering kali dirayakan dengan penuh kehangatan dan penghargaan. Di halaman utama mesin pencarian Google, ilustrasi hangat Google Doodle merayakan momen ini, menjadi pengingat visual bagi jutaan orang tentang peran penting sosok ibu dalam kehidupan. Namun, di balik semua ucapan terima kasih dan pujian, terdapat ajakan untuk memaknai esensi keibuan secara lebih mendalam dan realistis.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Narasi yang Sering Terulang

Di Indonesia, Hari Ibu hampir selalu hadir dengan wajah yang sama: ucapan terima kasih yang mengalir deras, pemujaan atas pengorbanan, dan pengangkatan ketabahan sebagai standar kebajikan tertinggi. Ibu sering digambarkan sebagai sosok tanpa cela yang selalu kuat dan sabar. Meskipun niat baiknya jelas, narasi ini sering kali menjadi satu-satunya cerita yang sah. Ibu tidak lagi diposisikan sebagai manusia dengan pengalaman beragam, melainkan figur ideal yang harus dipuja. Akibatnya, hampir tidak ada ruang bagi pembicaraan tentang ibu yang lelah, keliru, atau terjebak dalam pola asuh yang problematis.

Relasi yang Rumit

Di balik perayaan yang rapi, relasi ibu dan anak sering kali jauh lebih rumit. Tidak sedikit hubungan yang diwarnai ketegangan dan relasi kuasa yang timpang. Atas nama "kasih sayang," sebagian ibu tetap merasa berhak mengatur pilihan hidup anak dewasa, mulai dari karier hingga pasangan. Dalam masyarakat religius, istilah moral seperti "durhaka" terkadang menjadi batas yang membungkam suara anak.

Mengutip teori kelekatan dari psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth, relasi yang dibangun di atas rasa takut dan kontrol cenderung melahirkan kepatuhan semu, bukan kelekatan emosional yang sehat. Mengakui adanya "luka" dalam relasi keluarga bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan langkah awal untuk memutus siklus pengasuhan yang tidak sehat.

Momentum untuk Perubahan

Hari Ibu seharusnya menjadi momentum untuk menggeser cara pandang: dari kontrol menuju kepercayaan dan dari tuntutan moral menuju kehadiran emosional yang nyata. Penghormatan terhadap ibu tidak hanya soal emosi, tetapi juga soal memastikan keselamatan nyawa mereka.

Realitas Medis: Tantangan Kesehatan Ibu di Indonesia

Di tengah perayaan ini, data menunjukkan bahwa kesehatan fisik ibu di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Berdasarkan data terbaru, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tergolong tinggi, yakni 189 per 10.000 kelahiran hidup, sementara Angka Kematian Bayi (AKB) berada di angka 17 per 1.000 kelahiran hidup. Meskipun menurun dalam satu dekade terakhir, angka ini masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs).

Guru Besar FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) R. Detty Siti Nurdiati mengungkapkan adanya pergeseran penyebab kematian ibu. "Awalnya, penyebab utama adalah pendarahan dan hipertensi, kini bertransisi ke komplikasi nonobstetri seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes mellitus," jelas Detty dalam pengukuhannya di Balai Senat UGM.

Untuk menjawab tantangan ini, Prof Detty menekankan beberapa poin krusial:

  • Setiap Kehamilan Berisiko: Menghapus anggapan ada kehamilan yang benar-benar bebas komplikasi.
  • Deteksi Dini: Skrining sejak masa prakonsepsi hingga pascapersalinan untuk menghindari keterlambatan diagnosis.
  • Kedokteran Fetomaternal: Pentingnya subspesialis ini untuk menangani kehamilan risiko tinggi dan kelainan janin secara komprehensif.
  • Transformasi Layanan: Pergeseran dari community medicine (pendekatan seragam) menuju personal medicine yang melihat keunikan kondisi genetik dan gaya hidup setiap ibu.

Peringatan Hari Ibu tahun ini diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan simbolik semata. Menghormati ibu berarti berani melihat kenyataan apa adanya, baik secara psikologis maupun fisik. Dengan memperkuat sistem kesehatan, misalnya memanfaatkan teknologi seperti Artificial Intelligence untuk pemantauan medis serta membangun dialog emosional yang lebih sehat di rumah, kita sedang memastikan masa depan Indonesia yang lebih baik. Sebab, ibu yang berdaya dan sehat adalah aset utama bagi generasi yang akan datang.

Kesimpulan: Semoga informasi ini berguna bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar