Hari Ketiga Jakarta Film Week 2025: Penghormatan untuk John Badalu dan Talents Hub

Hari Ketiga Jakarta Film Week 2025: Penghormatan untuk John Badalu dan Talents Hub

Dunia hiburan kembali membuat heboh netizen. Kali ini beredar kabar tentang Hari Ketiga Jakarta Film Week 2025: Penghormatan untuk John Badalu dan Talents Hub yang menjadi trending. Cek faktanya.
Hari Ketiga Jakarta Film Week 2025: Penghormatan untuk John Badalu dan Talents Hub

Hari Ketiga Jakarta Film Week 2025: Energi Dunia Film Pendek yang Menginspirasi

Hari ketiga Jakarta Film Week 2025 menjadi hari yang penuh dengan semangat dan antusiasme dari para penggemar film pendek. Acara ini menampilkan berbagai karya lintas budaya, diskusi mendalam tentang genre film, serta penghormatan terhadap para penggerak sinema Indonesia.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dari Galeri Indonesia Kaya hingga Taman Ismail Marzuki, festival ini menjadi ruang pertemuan bagi pembuat film, penonton, dan komunitas kreatif yang terus menjaga nyala sinema, khususnya dalam bentuk film pendek yang penuh eksperimen dan cerita yang kuat.

Kompetisi Film Pendek Global

Global Short Competition 1 & 2 digelar di CGV FX Sudirman, menampilkan film-film pendek dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, Inggris, Polandia, Lebanon, Meksiko, Spanyol, Hong Kong, dan Jepang. Pada Global Short Competition 1, film-film seperti Dancing in the Corner, A Very Straight Neck, Cura Sana, Workers’ Wings, There Will Come Soft Rains, dan What If They Bomb Here Tonight ditayangkan. Sedangkan pada Global Short Competition 2, film-film seperti La Cascada, Anatomy of A Call, Ini Ibu Budi, Coyotes, dan Somewhere in Between disajikan.

Pada Jumat malam, suasana cukup padat dan berhasil mengundang reaksi hangat dari penonton, termasuk tepuk tangan meriah setelah pemutaran Ini Ibu Budi yang disutradarai oleh Abimana. Film ini juga menghadirkan sesi Talks dan Q&A singkat dengan tim pembuat film, seperti Gunnar Nimpuno, Nidya Ayu, Pinkan Veronique, dan William Chandra, dimoderatori oleh sutradara Reza Fahri. Gunnar Nimpuno, sinematografer Ini Ibu Budi, mengungkapkan kegembiraannya: “Yang pasti gue excited banget. Gue kangen banget bikin film-film pendek kayak gini karena spiritnya lebih jujur. Makanya waktu Abimana nawarin ngajak bikin film pendek, langsung gue sambut dan kerjain. Gue senang banget disuguhkan dengan banyak banget film shorts. Kalau ditanya favoritnya yang mana, ada beberapa yang gue suka. Coyotes gue suka banget, sama Somewhere in Between. Sering-seringlah bikin kayak begini, bikin film week!”

Selain itu, Global Short Official Selection 3 diselenggarakan di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, dilengkapi sesi Q&A singkat yang memperkaya pengalaman penonton dan memberikan wawasan tambahan mengenai proses kreatif para pembuat film pendek.

Program Made in HK dan Diskusi Kreatif

Di CGV Grand Indonesia, penonton juga disuguhkan beberapa sesi Q&A yang memadukan penayangan film dan diskusi kreatif. Program Made in HK memutar film Band Four, dilanjutkan sesi diskusi dengan pembicara Day Tai, komposer musik film asal Hong Kong, dan dimoderatori oleh NatapLayar, membahas proses penciptaan skor musik yang memperkuat cerita film. Film Stuntman karya Albert Leung juga dibahas secara mendalam, menghadirkan pandangan sutradara mengenai aksi dan narasi khas sinema Hong Kong.

Dari Indonesia, film Tale of the Land dibedah bersama sutradara Loeloe Hendra, production designer Sigit D. Pratama, dan produser Yulia Evina Bhara & Amerta Kusuma, membahas proses kreatif, desain produksi, dan kolaborasi dalam menghasilkan narasi lokal yang kuat. Film Pesugihan Sate Gagak karya Etienne Caesar juga menjadi sorotan, mengajak penonton memahami perspektif sutradara dalam mengeksplorasi kisah horor Indonesia yang kaya akan mitos lokal.

Industry Talks dan Program Talents Hub

Sore harinya, Galeri Indonesia Kaya menjadi tuan rumah sesi Industry Talks – The Thrill & Jumpscare of Genre Films, bagian dari JFWNET–Industry Program, sebagai forum untuk jejaring dan pertukaran industri bagi para profesional film. Sesi menghadirkan Jack Lai (sutradara, Hong Kong) dan Martin Lee (programmer BIFAN, Korea Selatan), dimoderatori Devina Sofiyanti. Martin Lee menekankan bahwa genre adalah bahasa universal yang bisa menjadi hiburan sekaligus refleksi sosial. Jack Lai menceritakan secara naratif bagaimana tradisi aksi Hong Kong membentuk pendekatan naratifnya, menjadikan genre sebagai jembatan antar budaya dan generasi.

Program Made in HK di CGV FX Sudirman menampilkan Short Compilation yang menyoroti wajah baru sinema Hong Kong, penuh eksperimen, berani, dan emosional. Sutradara Siu Koom Ho Jason Delon berbagi tentang upayanya mengekspresikan identitas kota dan energi generasi muda secara autentik melalui film pendek. Film Herstory: Pavane for an Infant karya Chong Keat Aun menghadirkan refleksi mendalam tentang ingatan, kehilangan, dan perspektif perempuan Asia, membuka ruang diskusi yang kuat di tengah festival.

Program baru Talents Hub, yang berlangsung di Mercure Hotel Central Jakarta, juga menjadi bagian dari JFWNET–Industry Program. Talents Hub menekankan capacity building, menghadirkan 22 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia serta negara Asia lain seperti Singapura, Hong Kong, dan Filipina. Peserta memperoleh kesempatan untuk berbagi pengetahuan, memperdalam pemahaman industri, dan membangun jaringan lintas negara melalui workshop, diskusi, serta kunjungan industri ke rumah produksi seperti Super 8mm dan Vidio.

Penutup yang Emosional

Hari ketiga ditutup dengan manis melalui agenda A Special Evening for John di Teater Sjumandjaja, Taman Ismail Marzuki, sebuah penghormatan untuk John Badalu, sahabat dan penggerak sinema Indonesia selama lebih dari dua dekade. Dalam suasana hangat dan penuh kenangan, Ika Wulandari, Mandy Marahimin, Monica Tedja, dan Meninaputri Wismurti berbagi cerita tentang perjalanan John dari layar ke layar, dari festival ke festival, hingga dedikasi yang menginspirasi banyak generasi.

"John selalu mengingatkan aku bahwa apa yang aku mulai sekarang, fokus diteruskan saja. Kebayang kalau aku tidak pernah ketemu John, mungkin filmku belum akan premier untuk saat ini.” ujar Ika Wulandari.

Sesi ini dimoderatori oleh Adrian Jonathan, menandai salah satu momen paling emosional di sepanjang festival.

Jakarta Film Week 2025 berlangsung pada 22–26 Oktober 2025 di berbagai titik: CGV Grand Indonesia, CGV FX Sudirman, Hotel Mercure Cikini, FFTV IKJ, dan Taman Ismail Marzuki. Melalui JFWNET – Industry Program, festival ini menghadirkan forum industri, masterclass, dan program edukasi yang mendorong kapasitas profesional pelaku film Indonesia lintas disiplin serta kolaborasi regional.

Kesimpulan: Nantikan update selanjutnya dari artis favorit Anda. Jangan lupa untuk share berita ini ke sesama fans.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar