Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: 1 Kasus Mempengaruhi 35 Orang

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: 1 Kasus Mempengaruhi 35 Orang

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: 1 Kasus Mempengaruhi 35 Orang, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.
Featured Image

Risiko Bunuh Diri dan Pentingnya Pencegahan

Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa individu yang mengalami depresi dan kecemasan memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. Data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) Global Burden of Diseases tahun 2024 menunjukkan bahwa pada tahun 2021 terdapat sekitar 746 ribu kasus bunuh diri di seluruh dunia, sementara di Indonesia tercatat 4.570 kasus. Tahun 2024 mencatat jumlah kasus terbanyak di Jawa Tengah dengan total 478 kasus.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Hasil pemeriksaan kesehatan jiwa gratis (CKG) per tanggal 15 Agustus menunjukkan bahwa Jakarta memiliki persentase tertinggi kemungkinan gejala depresi dan kecemasan secara nasional. Persentase tersebut mencapai 9,3 persen untuk depresi dan 7,6 persen untuk kecemasan. Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes Imran Pambudi menjelaskan bahwa secara nasional, kemungkinan terjadinya gejala depresi sekitar 1 persen, sedangkan kecemasan sebesar 0,9 persen. Hasil ini diperoleh dari 13 juta orang yang mengikuti CKG, meskipun belum termasuk data dari sekolah. Namun, hasil ini bukan diagnosis, melainkan deteksi risiko yang memerlukan konfirmasi oleh profesional.

Imran juga menyampaikan bahwa satu kasus bunuh diri dapat memberikan dampak besar kepada sekitar 35 orang, termasuk keluarga, teman, dan penolong. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya upaya pencegahan, termasuk pemberitaan yang bertanggung jawab melalui media. Undang-Undang nomor 17 tahun 2023 tentang Kesehatan serta Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 2024 telah menetapkan aturan terkait pemberitaan. Dewan Pers juga telah mengatur hal ini.

Media memiliki peran penting dalam mengubah narasi agar stigma dan kesalahpahaman tentang masalah mental dan bunuh diri berubah menjadi dukungan dan empati. Ketua Dewan Pers periode 2016–2019 Yosep "Stanley" Adi Prasetyo menyoroti bahwa pemberitaan tidak bertanggung jawab bisa berdampak psikis dan ekonomi bagi keluarga korban. Selain itu, detail modus bunuh diri yang diberitakan bisa memicu tindakan copycat suicide. Jika wartawan memutuskan untuk memberitakan, maka berita harus diikuti dengan panduan agar audiens yang sedang putus asa dapat mengakses bantuan seperti konseling.

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

Setiap tahun, tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Berdasarkan informasi dari laman resmi Kementerian Kesehatan, lebih dari 700.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun, dan jutaan orang lainnya terpengaruh, termasuk keluarga, teman, dan masyarakat luas. Bunuh diri merupakan masalah kesehatan mental yang kompleks, seringkali disertai perasaan putus asa, ketidakberdayaan, dan keterasingan. Banyak orang masih enggan membicarakan masalah ini karena adanya stigma.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bunuh diri adalah salah satu dari 20 penyebab utama kematian di dunia, dan jumlah kematian akibat bunuh diri lebih banyak daripada gabungan konflik bersenjata dan penyakit menular tertentu. Mengubah narasi tentang bunuh diri berarti menghentikan pandangan bahwa ini hanya kelemahan individu atau tindakan egois, tetapi melihatnya sebagai gejala kondisi kesehatan mental serius yang membutuhkan perhatian dan empati.

Fokus pada Kesehatan Mental dan Pencegahan

Upaya menghilangkan stigma perlu terus didorong dengan berbicara secara terbuka tentang bunuh diri tanpa menghakimi. Penelitian menunjukkan bahwa stigma adalah penghalang utama bagi mereka yang mengalami pikiran bunuh diri untuk mencari dukungan. Mendorong diskusi yang terbuka, mengubah cara berbicara tentang bunuh diri di media, rumah, maupun tempat kerja, dapat membuka jalan bagi mereka yang sedang berjuang untuk merasa didengar dan dipahami.

Penting juga untuk mengedukasi masyarakat bagaimana merespons seseorang yang berisiko bunuh diri dengan cara yang benar. Menguatkan sistem dukungan, seperti tenaga kesehatan profesional, keluarga, dan komunitas, dapat membantu individu merasa lebih terhubung dan termotivasi untuk mendapatkan bantuan ketika dibutuhkan.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar