
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Hidup Tidak Harus Selalu Sesuai Jadwal
Sejak kapan hidup berubah menjadi lomba yang kita ikuti tanpa pernah mendaftar? Kita terus berlari mengikuti penanda usia, status, dan pencapaian yang seolah wajib dipenuhi tepat waktu. Namun, tidak ada garis start yang sama dalam hidup. Tekanan sosial membuat kita merasa terlambat, bahkan sebelum benar-benar mulai.
Di Indonesia, standar hidup sering kali dibingkai secara seragam. Usia dua puluhan harus lulus dan bekerja. Tiga puluhan seharusnya mapan, menikah, dan stabil. Mereka yang belum sampai di titik itu kerap menerima pertanyaan bernada penghakiman: kapan wisuda? kapan kerja tetap? kapan menikah? Pertanyaan sederhana ini perlahan berubah menjadi beban psikologis.
Contoh nyata terlihat pada banyak lulusan perguruan tinggi pascapandemi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka pengangguran terdidik masih menjadi tantangan serius. Tidak sedikit sarjana yang harus menerima pekerjaan di luar bidangnya atau bahkan menganggur lebih lama dari yang direncanakan. Namun alih-alih mendapat empati, mereka sering disudutkan seolah kegagalan itu murni kesalahan pribadi.
Tantangan di Sektor Informal dan Kontrak
Kasus lain dialami oleh pekerja muda di sektor informal dan kontrak. Banyak dari mereka berpindah pekerjaan setiap satu hingga dua tahun, bukan karena ambisi melompat cepat, tetapi karena sistem kerja yang tidak memberi kepastian. Di usia yang dianggap "produktif", mereka hidup dari tenggat ke tenggat kontrak habis, target naik, tuntutan bertambah tanpa ruang untuk benar-benar membangun rasa aman.
Tekanan waktu juga terasa kuat pada perempuan. Di berbagai forum dan ruang keluarga, masih banyak perempuan yang dinilai dari "ketepatan waktu" menikah dan memiliki anak. Padahal realitasnya beragam: ada yang sedang mengejar pendidikan, ada yang menjadi tulang punggung keluarga, ada pula yang masih memulihkan diri dari relasi yang tidak sehat. Namun jam sosial tetap berdetak tanpa mempertimbangkan konteks personal.
Media Sosial Memperkeras Tekanan
Media sosial memperkeras semua itu. Linimasa dipenuhi kisah sukses dini: menikah muda, karier melesat, bisnis berkembang. Yang jarang terlihat adalah kelelahan, kegagalan, dan proses panjang di baliknya. Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya tertinggal hanya karena tidak secepat orang lain yang ia lihat setiap hari.
Dampaknya nyata. Laporan berbagai lembaga kesehatan mental menunjukkan meningkatnya kecemasan pada usia produktif, terutama terkait karier dan masa depan. Banyak orang merasa bersalah karena bergerak pelan, padahal pelan sering kali adalah satu-satunya cara agar tetap waras.
Menyelami Narasi yang Diterima
Di tengah semua itu, kita perlu kembali mempertanyakan narasi yang kita terima mentah-mentah. Apakah benar hidup harus selalu tepat waktu menurut standar sosial? Atau kita hanya terlalu lama hidup dalam perbandingan?
Hidup memang berjalan bersama waktu, tetapi bukan berarti kita harus terus dikejar olehnya. Ada orang yang menemukan arah di usia matang. Ada yang gagal berkali-kali sebelum akhirnya memahami apa yang benar-benar ia inginkan. Semua itu bukan penyimpangan, melainkan bagian dari perjalanan manusia.
Jika hari ini hidupmu terasa lambat, mungkin kamu tidak tertinggal. Bisa jadi kamu sedang membangun fondasi yang tidak terlihat. Dan dalam dunia yang terlalu sibuk mengejar cepat, berani berjalan sesuai ritme sendiri adalah bentuk perlawanan paling sunyi dan paling jujur.
Komentar
Kirim Komentar