Ini penjelasan psikologis tentang 'pelakor' dan 'perebut hati'

Ini penjelasan psikologis tentang 'pelakor' dan 'perebut hati'

Jagat maya sedang heboh membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Ini penjelasan psikologis tentang 'pelakor' dan 'perebut hati'. Berikut fakta yang berhasil kami rangkum.
Ini penjelasan psikologis tentang 'pelakor' dan 'perebut hati'

Persepsi dan Dinamika Psikologis di Balik Perselingkuhan

Perselingkuhan sering kali dianggap sebagai isu moral semata. Namun, jika kita mengupas lapisan permukaannya, terdapat dinamika psikologis yang kompleks, trauma masa lalu, dan distorsi kognitif yang berperan besar. Mengapa seseorang yang sudah memiliki komitmen memilih untuk berpaling? Dan apa yang mendorong seseorang nyaman menjadi "pihak ketiga"?

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Profil Psikologis Pelaku Selingkuh: Antara Adiksi dan Validasi

Bagi mereka yang menjadikan selingkuh sebagai hobi atau pola yang berulang, dorongannya jarang sekali berkaitan dengan kekurangan pasangan resmi. Faktor internal pelaku lah yang biasanya bermasalah:

  • Haus akan Dopamin (The Thrill of the Hunt): Selingkuh memicu lonjakan dopamin yang serupa dengan penggunaan narkoba. Sensasi ketahuan, kencan rahasia, dan "kemenangan" memikat seseorang memberikan efek euforia yang adiktif.
  • Narcissistic Supply: Individu dengan ciri narsistik membutuhkan validasi eksternal terus-menerus untuk menutupi rasa rendah diri yang mendalam (fragile self-esteem). Merasa diinginkan oleh banyak orang membuat mereka merasa berkuasa.
  • Avoidant Attachment Style: Orang dengan gaya kelekatan menghindar cenderung merasa tercekik oleh kedekatan emosional yang terlalu dalam. Selingkuh menjadi cara mereka untuk menciptakan "jarak" agar tidak terlalu bergantung pada satu orang.

Anatomi Psikologis Pihak Ketiga: Mengapa Bertahan dalam Bayang-bayang?

Istilah "pelakor" atau pihak ketiga sering kali dilekati stigma negatif, namun dari sisi psikologis, ada alasan mengapa seseorang terjebak dalam posisi ini:

  • Low Self-Worth (Harga Diri Rendah): Secara tidak sadar, banyak pihak ketiga merasa tidak layak menjadi "nomor satu". Mereka merasa cukup dengan sisa-sisa waktu dan perhatian, karena jauh di dalam lubuk hati, mereka takut akan tanggung jawab dari hubungan yang utuh dan nyata.
  • The Savior Complex: Beberapa orang merasa terpanggil untuk "menyelamatkan" pelaku selingkuh yang sering kali menjual narasi bahwa mereka tidak bahagia atau menjadi korban dalam pernikahan mereka.
  • Kompetisi dan Kemenangan Ego: Ada kepuasan psikologis yang menyimpang ketika seseorang berhasil "merebut" atau dipilih dibandingkan pasangan sah. Ini dianggap sebagai bukti bahwa mereka lebih menarik atau lebih hebat.

Dinamika "The Triangular Relationship"

Dalam psikologi, ini sering disebut sebagai Triangulasi. Kehadiran orang ketiga sering kali berfungsi sebagai "katup pelepas tekanan" dalam sebuah hubungan primer yang bermasalah. Bukannya menyelesaikan konflik dengan pasangan, si pelaku menggunakan orang ketiga untuk mengisi kekosongan emosional atau seksual tanpa harus bercerai.

Dampak Kognitif: Disonansi dan Rasionalisasi

Mengapa mereka tidak merasa bersalah? Pelaku maupun pihak ketiga sering melakukan Rasionalisasi. Mereka menciptakan narasi untuk membenarkan tindakan mereka, seperti:

  • "Pasangan saya tidak lagi memahami saya."
  • "Kami melakukannya atas dasar cinta, bukan nafsu."
  • "Ini terjadi begitu saja, kami tidak bisa melawan takdir."

Mekanisme pertahanan diri ini digunakan untuk mengurangi rasa tidak nyaman (disonansi kognitif) antara perilaku mereka yang salah dengan citra diri mereka sebagai "orang baik".

Perselingkuhan bukan sekadar soal seks, melainkan masalah kesehatan mental dan kematangan emosional. Tanpa adanya kesadaran untuk memperbaiki inner child atau pola pikir yang terdistorsi, perilaku ini cenderung akan berulang meskipun pelakunya berganti pasangan. Penyembuhan membutuhkan kejujuran radikal dan sering kali bantuan profesional dari psikolog.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar