Kondisi Darurat di Jalur Gaza: Hujan Deras Memperparah Penderitaan Pengungsi
Di tengah situasi kemanusian yang semakin memprihatinkan, hujan deras yang turun pagi ini telah memperburuk kondisi ribuan pengungsi di Jalur Gaza. Tenda-tenda yang sudah rapuh dan tidak layak huni kini terendam air, menyebabkan kerusakan parah pada pakaian dan selimut mereka. Kondisi ini menunjukkan betapa besar tragedi yang dialami oleh warga setempat, yang terus berjuang menghadapi ancaman dari agresi pendudukan Israel sejak 7 Oktober 2013.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Jurnalis Muhammad Rabah melaporkan dari kamp pengungsi Al-Nakheel di Deir al-Balah, di Jalur Gaza tengah, bahwa hujan lebat mengguyur tenda-tenda pengungsi, sehingga membuat situasi menjadi lebih buruk. Pemandangan ini menggambarkan dengan jelas besarnya krisis kemanusian yang terjadi di wilayah tersebut.
Serangan Israel telah menghancurkan sebagian besar bangunan tempat tinggal di Gaza, memaksa ratusan ribu orang untuk bermukim di tenda-tenda yang tidak memberikan perlindungan yang memadai. Banyak dari mereka kembali ke rumah-rumah yang rusak meskipun ada risiko runtuh akibat banjir. Pertahanan Sipil di Jalur Gaza memperingatkan bahwa kondisi ini akan semakin memburuk seiring dengan datangnya musim dingin dan cuaca yang semakin ekstrem.
Dalam sebuah pernyataan, Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil di Gaza, menyatakan bahwa pemantauan lapangan menunjukkan bahwa tenda-tenda pengungsi sama sekali tidak layak untuk ditinggali. Mereka tidak memenuhi standar minimum untuk hidup aman, terutama dalam menghadapi cuaca dingin dan angin kencang. Tenda-tenda ini juga tidak memiliki fasilitas keselamatan dan privasi yang cukup.
Basal menekankan bahwa tenda bukan lagi solusi sementara, namun telah menjadi "sumber penderitaan dan bahaya nyata bagi kehidupan masyarakat." Ia menyerukan kepada organisasi kemanusiaan internasional untuk segera memberikan bantuan berupa karavan yang aman dan lengkap sebagai alternatif sementara. Hal ini penting untuk menjaga martabat para pengungsi dan melindungi mereka hingga proses rekonstruksi dimulai.
Eskalasi Serangan Militer dan Dampaknya pada Warga
Eskalasi serangan militer Israel terus berlangsung, terutama di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza. Rabu pagi dini hari, tentara penduduk melakukan operasi pengeboman dan penghancuran di beberapa daerah, disertai tembakan keras dari kendaraan militer dan drone. Di Jalur Gaza utara, artileri Israel menembakkan peluru di dalam garis kuning di timur kota Jabalia, sementara pasukan pendudukan melakukan operasi pembongkaran bersamaan dengan penembakan artileri di timur Kota Gaza.
Bagian timur lingkungan Al-Tuffah juga menyaksikan tembakan keras dari drone dan kendaraan militer Israel. Di Jalur Gaza selatan, pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara di kota Bani Suheila, sebelah timur Khan Younis, bertepatan dengan penembakan artileri di dalam Jalur Hijau. Pasukan pendudukan juga melepaskan tembakan ke arah tenggara Khan Younis, sementara sumber lokal melaporkan bahwa tentara penduduk melakukan operasi penembakan dan penembakan ke arah pinggiran kota Rafah, di ujung selatan Jalur Gaza.
Kondisi banjir di kamp sementara setelah hujan lebat di Kota Gaza Selasa, 25 November 2025.

Pengungsi Palestina membersihkan air dari tenda mereka yang kebanjiran di kamp sementara setelah hujan lebat di Kota Gaza Selasa, 25 November 2025. - ( AP Photo/Jehad Alshrafi)
Kondisi Kesehatan dan Korban Jiwa
Eskalasi serangan ini terjadi ketika tentara Israel terus melakukan operasi besar-besaran untuk menghancurkan dan menghancurkan sisa-sisa bangunan dan infrastruktur di belakang garis kuning di berbagai wilayah Jalur Gaza, sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober.
Dalam laporan harian, Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza menyatakan bahwa rumah sakit telah menerima 17 korban jiwa dalam 24 jam terakhir, termasuk 14 orang yang jenazahnya ditemukan dari bawah reruntuhan. Jumlah martir sejak Israel memulai perang pemusnahan di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, telah meningkat menjadi 69.775 syuhada, sedangkan jumlah korban luka mencapai 170.965 orang. Sejak dimulainya gencatan senjata terakhir pada 10 Oktober 2025, tercatat 345 orang tewas dan 889 orang luka-luka, selain itu 588 jenazah berhasil ditemukan dari bawah reruntuhan.
Komentar
Kirim Komentar