Kanker Hati: Ancaman Serius yang Bisa Dicegah dengan Gaya Hidup Sehat
Kanker hati atau hepatoselular karsinoma (HCC) masih menjadi ancaman kesehatan yang serius di Indonesia. Meski angka kematiannya tinggi, penyakit ini sebenarnya bisa dicegah melalui gaya hidup sehat dan deteksi dini. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kanker hati adalah kebiasaan hidup yang tidak sehat, seperti obesitas, konsumsi alkohol, dan paparan virus hepatitis.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Mengapa Kanker Hati Banyak Terjadi di Asia?
Tingginya angka kanker hati di Asia, termasuk Indonesia, berkaitan erat dengan tingginya prevalensi hepatitis. Di beberapa negara barat, pemicu utamanya justru adalah alkohol, sementara di Indonesia lebih sering disebabkan oleh infeksi virus dan obesitas. Data menunjukkan bahwa tiga perempat kasus kanker hati di dunia terjadi di Asia. Kaum laki-laki juga lebih banyak terkena dibanding perempuan, terutama pada usia lanjut.
Hubungan Obesitas dan Lemak Hati

Salah satu faktor yang kini meningkat di Indonesia adalah perlemakan hati akibat obesitas. Dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, dari Siloam Hospitals Kebun Jeruk menjelaskan bahwa kegemukan dapat merusak organ hati. “Kegemukan is never good. Gak cuma masalah kanker doang tuh ya. Sakit jantung naik, stroke-nya naik, diabetes-nya naik,” tegasnya.
Kelebihan berat badan menyebabkan penumpukan lemak di hati (fatty liver) yang dapat berkembang menjadi peradangan kronis dan akhirnya kanker hati. Oleh karena itu, menjaga berat badan ideal bukan sekadar urusan penampilan, tetapi bagian penting dari pencegahan penyakit mematikan.
Deteksi Dini Jadi Kunci
Salah satu tantangan terbesar kanker hati adalah minimnya gejala awal. Pasien sering baru menyadari ketika sudah mengalami keluhan berat seperti sakit perut kanan atas, tubuh lemah, kulit menguning, atau perut membesar. Karena itu, pemeriksaan rutin menjadi langkah penting, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.
Tes seperti AFP (tumor marker untuk liver), USG hati, serta pemeriksaan hepatitis B dan C sebaiknya dilakukan secara berkala. Jika ditemukan kelainan sejak dini, pasien dapat ditangani melalui operasi atau transplantasi hati dengan tingkat keberhasilan tinggi. Pada stadium awal, lebih dari 93 persen pasien dapat bertahan hidup di atas lima tahun.
Hindari Alkohol dan Rokok
Selain menjaga berat badan, tidak mengonsumsi alkohol dan menghindari rokok juga menjadi langkah penting. Alkohol terbukti menyebabkan kerusakan sel hati dan mempercepat sirosis. Sedangkan rokok meningkatkan stres oksidatif yang memicu mutasi sel.
Untuk masyarakat Indonesia, angka konsumsi alkohol memang rendah, tetapi tren rokok dan gaya hidup pasif masih tinggi, sehingga tetap menjadi faktor risiko serius. Lebih lanjut, ia menekankan jika menjaga pola makan sehat adalah langkah sederhana yang berdampak besar.
Pola Makan Sehat dan Pencegahan Lainnya
Pilih makanan kaya serat seperti sayuran hijau, buah segar, biji-bijian, dan batasi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh serta gula berlebih. Perbanyak air putih dan kurangi makanan olahan yang mengandung bahan pengawet juga membantu kerja hati agar tidak terbebani.
Selain itu, vaksinasi hepatitis B sejak bayi, pemeriksaan darah berkala, serta gaya hidup aktif merupakan bentuk pencegahan yang nyata. Dengan mengubah gaya hidup, masyarakat bisa mengurangi risiko kanker hati dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Komentar
Kirim Komentar