
Pendekatan Forensik dalam Jurnalisme: Metode untuk Menjaga Integritas Informasi
Dalam dua tahun terakhir, masyarakat nasional dihadapkan pada berbagai isu yang kontroversial. Isu-isu ini tidak hanya menyoroti kebijakan pemerintah, tetapi juga menyentuh hal-hal pribadi dari para pejabat negara. Media massa seperti surat kabar, portal berita, televisi, dan radio berlomba dengan keganasan media sosial, yang semakin dipenuhi oleh netizen yang memiliki keberanian dan kenakalan yang mengarah pada hilangnya prinsip etika serta pengabaian hukum.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Metodologi forensik yang saya tawarkan menggunakan prinsip-prinsip ilmu forensik sebagai metafora untuk metode jurnalisme yang saya anjurkan. Ilmu forensik fokus pada pengumpulan, analisis, dan interpretasi bukti untuk mengungkap kebenaran dalam konteks hukum. Dengan menerapkan pendekatan serupa dalam jurnalisme, jurnalis diharapkan bertindak seperti detektif yang teliti dalam mencari dan memverifikasi bukti. Tujuannya bukan untuk menyaingi netizen di media sosial, melainkan merawat kualitas berita.
Forensik digital semakin penting dalam era digital. Dengan menganggap forensik digital sebagai alat penting untuk melacak jejak digital dan memverifikasi keaslian informasi di platform daring, jurnalis dapat mengungkap manipulasi yang mungkin terjadi di dunia maya. Contohnya, kasus "Ijazah palsu Presiden Joko Widodo" yang diungkap oleh berbagai fakta dari orang-orang yang memiliki kredibilitas, hingga masyarakat awam.
Secara keseluruhan, meskipun tidak ada satu teori tunggal, pemikiran inti dalam forensik jurnalisme adalah sintesis dari beberapa landasan teoretis. Ia menggabungkan filosofi fakta, teori-teori jurnalisme seperti agenda setting dan jurnalisme investigasi, serta metodologi dari ilmu forensik untuk menciptakan pendekatan yang komprehensif dalam membedah fakta berita.
Tidak banyak penulis dalam studi terkait media dan jurnalisme di Indonesia yang menggunakan pola pendekatan "forensik jurnalisme" untuk membedah fakta berita. Peneliti dan jurnalis di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) selama ini dikenal aktif mempromosikan jurnalisme investigasi dan keamanan jurnalis. Laporan tahunan mereka patut menjadi rujukan.
Pendekatan forensik dalam jurnalisme di Indonesia masih berkembang, dengan kolaborasi antara jurnalis investigasi dan ahli forensik dari berbagai disiplin ilmu. Pendekatan forensik atau prinsip forensik jurnalisme yang saya gagas, mengutamakan ketelitian dan akurasi di atas kecepatan. Dengan menerapkan metodologi ini, jurnalis dapat menunjukkan komitmen mereka terhadap standar etika tertinggi, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan publik pada media.
Secara keseluruhan, gagasan ini bukan sekadar teori, melainkan kerangka kerja praktis yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan jurnalisme di era digital. Pendekatan forensik memungkinkan jurnalis untuk melangkah lebih jauh dari sekadar melaporkan, menjadi investigasi yang mendalam dan kredibel, yang sangat penting untuk menjaga integritas informasi di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Ada beberapa teori yang menjadi dasar rujukan pemikiran, terutama dalam buku saya “Forensik Jurnalisme: Membedah Fakta Berita.” Meskipun tidak secara eksplisit merujuk pada satu teori tunggal, karya ini dibangun dari perpaduan pendekatan dalam filsafat, jurnalisme investigasi, dan ilmu forensik, pengalaman lapangan, diskusi dalam forum pelatihan dan kajian akademik.
Menjadikan filsafat fakta empiris sebagai pembuka daya kritis, dalam benak saya sangat menekankan pentingnya fakta empiris, yang didapat melalui observasi dan bukti nyata, sebagai landasan utama bagi berita yang dapat dipercaya. Pendekatan ini berakar pada pemikiran filsafat empirisme yang menekankan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi dan observasi.
Adapun filsafat fakta dan kebenaran, tetap berfokus pada pentingnya membedakan antara berbagai jenis fakta: empiris, publik, psikologis, dan opini, untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam. Ide ini sejalan dengan berbagai perdebatan filsafat tentang hakikat kebenaran.
Berbagai teori jurnalisme, seperti "Agenda Setting," mengkaji fenomena agenda setting, yakni bagaimana media massa memengaruhi persepsi publik tentang isu-isu yang dianggap penting. Dalam konteks forensik jurnalisme, pemahaman ini membantu jurnalis untuk menyadari peran mereka dalam membentuk opini publik dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa agenda yang mereka tetapkan didasarkan pada fakta yang kuat.
Hal ini memiliki keterkaitan erat dengan jurnalisme presisi, atau konsep yang dikembangkan oleh pakar media seperti Philip Meyer, menganjurkan penggunaan metode penelitian sains sosial untuk meningkatkan akurasi laporan berita. Pendekatan yang saya tawarkan sangat mirip dengan jurnalisme presisi, karena ia mendorong jurnalis untuk membaca data dan menggunakan metodologi yang ketat.
Tujuan akhirnya adalah menguatkan daya juang menuju jurnalisme investigasi. Buku saya ini bisa dilihat sebagai pengembangan dari tradisi jurnalisme investigasi, yang bertujuan mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Dengan membawa tradisi ini ke level yang lebih dalam dengan menambahkan elemen analisis forensik.
Komentar
Kirim Komentar