Kasus Rabies di Manggarai: Pria 55 Tahun Meninggal Akibat Gigitan Anjing Sendiri

Kasus Rabies di Manggarai: Pria 55 Tahun Meninggal Akibat Gigitan Anjing Sendiri

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Kasus Rabies di Manggarai: Pria 55 Tahun Meninggal Akibat Gigitan Anjing Sendiri, banyak fakta menarik yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.
Kasus Rabies di Manggarai: Pria 55 Tahun Meninggal Akibat Gigitan Anjing Sendiri

Kasus Kematian Akibat Rabies di Manggarai, NTT

Seorang pria berusia 55 tahun asal Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia setelah terinfeksi virus rabies. Korban diketahui digigit oleh anjing peliharaannya sendiri beberapa minggu sebelum meninggal. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat setempat.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Menurut informasi yang diperoleh, korban sempat mengalami gejala-gejala khas rabies seperti demam tinggi, nyeri di bekas gigitan, serta ketakutan terhadap air. Gejala-gejala tersebut semakin memperparah kondisinya hingga akhirnya meninggal dunia pada awal pekan ini. Keluarga korban sempat membawa korban ke fasilitas kesehatan, namun kondisi kesehatannya terus memburuk dan tidak bisa diselamatkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai mengonfirmasi adanya kasus ini. Ia menyatakan bahwa hasil pemeriksaan medis menunjukkan indikasi kuat bahwa korban terinfeksi rabies melalui gigitan anjing. "Kami sudah menerima laporan dan saat ini tim kesehatan hewan bersama petugas Puskesmas setempat sedang melakukan penelusuran kasus untuk memastikan tidak ada warga lain yang tergigit oleh anjing yang sama," ujar dia.

Pemerintah daerah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk segera melaporkan setiap kasus gigitan hewan peliharaan. Selain itu, masyarakat juga diminta memastikan bahwa hewan peliharaan mereka telah mendapat vaksin rabies. Petugas kesehatan mulai melakukan vaksinasi darurat terhadap anjing-anjing di sekitar wilayah tempat tinggal korban.

Rabies masih menjadi ancaman serius di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur. Data Dinas Kesehatan Provinsi mencatat puluhan kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) terjadi setiap tahun. Sebagian besar dari kasus tersebut berasal dari anjing peliharaan yang belum divaksin. Hal ini menunjukkan pentingnya kesadaran masyarakat akan perlunya vaksinasi rutin terhadap hewan peliharaan.

Penyebab dan Risiko Rabies

Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf pusat. Virus ini dapat menyebar melalui gigitan atau cedera kulit yang terkena air liur hewan yang terinfeksi. Anjing merupakan sumber utama penularan rabies di banyak wilayah.

Gejala awal rabies meliputi demam, sakit kepala, dan rasa sakit di area gigitan. Pada tahap lanjut, penderita dapat mengalami gangguan mental, kejang, dan kesulitan menelan. Jika tidak segera ditangani, rabies dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Langkah Pencegahan dan Pengendalian

Untuk mencegah penyebaran rabies, masyarakat diimbau untuk:

  • Melakukan vaksinasi rutin terhadap hewan peliharaan, terutama anjing.
  • Menghindari kontak dengan hewan liar atau tidak dikenal.
  • Melaporkan setiap kasus gigitan hewan kepada pihak berwajib atau petugas kesehatan.
  • Menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari penyebaran sampah yang dapat menarik hewan liar.

Selain itu, pemerintah daerah juga perlu meningkatkan sosialisasi tentang bahaya rabies dan pentingnya vaksinasi. Pelibatan komunitas lokal dalam upaya pencegahan dan pengendalian rabies sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sehat.

Peran Masyarakat dalam Pencegahan Rabies

Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran rabies. Kesadaran akan kesehatan hewan peliharaan dan tindakan preventif dapat membantu mengurangi risiko infeksi. Selain itu, partisipasi aktif dalam program vaksinasi dan pelaporan kasus gigitan hewan juga sangat diperlukan.

Dengan kerja sama antara pemerintah, petugas kesehatan, dan masyarakat, penyebaran rabies dapat diminimalkan. Upaya ini tidak hanya melindungi individu, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan.


Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar