
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Tren Konsumsi Daging Olahan di Indonesia
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan melaporkan adanya kenaikan permintaan terhadap produk daging olahan. Angka peningkatan tersebut cukup signifikan, mencapai 6 hingga 10 persen per tahun. Varian seperti sosis dan nugget menjadi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat.
Dosen Program Studi Gizi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Ratu Diah Koerniawati mengatakan bahwa tingginya konsumsi daging olahan dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang semakin cepat dan ingin instan. Makanan jenis ini lebih mudah disiapkan tanpa memakan waktu lama.
“Secara langsung, konsumsi daging olahan seperti nugget dan sosis beberapa tahun terakhir terlihat semakin meningkat. Hal ini bisa saja disebabkan karena adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang ingin serba cepat dan instan,” ujarnya.
Menurut survei JakPat tahun 2024, lebih dari 80 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi pangan olahan seperti nugget dan sosis. Alasan utama mereka memilih makanan tersebut adalah praktis, mudah diolah, dan terjangkau.
Namun, masyarakat juga dihadapkan dengan dilema terkait keterbatasan produk olahan daging yang benar-benar aman, tanpa bahan tambahan berbahaya, serta ramah bagi anak-anak dan keluarga.
Protein dalam daging memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Nutrisi ini berfungsi membangun dan memperbaiki sel tubuh, menyediakan asam amino esensial yang membantu perkembangan otak dan fungsi kognitif, serta membentuk antibodi dan komponen sistem kekebalan tubuh.
Protein juga merupakan sumber zat besi dan vitamin B12 yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh dan energi anak. “Oleh karena itu, kebutuhan asupan protein harus terpenuhi dengan mengonsumsi pangan sumber protein terutama protein hewani, antara lain daging sapi, daging ayam, daging ikan, dan telur,” tambahnya.
Upaya Menghadirkan Produk Sehat untuk Anak-Anak
Melihat fenomena tersebut, Ai Imai, seorang perempuan asal Hokkaido, Jepang, berupaya membantu memenuhi kebutuhan gizi anak. Meskipun mengonsumsi daging olahan, namun tidak membahayakan anak.
"Anak di daerah belum memahami apa itu makanan bergizi dan bagaimana memilih bahan makanan yang baik. Dari situlah semangat Bukit Foods bermula," ungkap Ai Imai.
Perempuan yang sudah menetap di Bali sejak 2007 ini menyadari kebutuhan para ibu agar anak-anak dapat mengonsumsi makanan sehat dan aman. Oleh karena itu, ia menciptakan produk tanpa bahan pengawet, pewarna, serta MSG buatan. Salah satu produknya adalah sosis sehat dengan kandungan daging mencapai 90,51 persen, sementara sisanya terdiri dari bumbu-bumbu alami sederhana.
Kualitas yang Menjadi Prioritas
Kualitas menjadi prinsip utama dalam setiap tahap produksi makanan. Seluruh proses dilakukan dengan kontrol suhu tidak lebih dari 10 derajat Celcius demi menjaga kebersihan dan kesegaran bahan baku. Sebagian besar bahan baku berasal dari kebun organik milik Bukit Foods di Badung, Bali, yang ditanam tanpa pestisida kimia, melainkan menggunakan pupuk alami.
Produk sayuran seperti tomat, basil, dan berbagai rempah ditanam secara mandiri, sementara bahan lainnya diperoleh dari petani lokal yang menerapkan praktik pertanian berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, Bukit Foods berkomitmen untuk menyediakan makanan yang sehat dan aman bagi anak-anak dan keluarga.
Komentar
Kirim Komentar