Kemenperin Ajak SAIC Jadikan Indonesia Pusat Produksi dan Ekspor BEV

Kemenperin Ajak SAIC Jadikan Indonesia Pusat Produksi dan Ekspor BEV

Industri teknologi kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Kemenperin Ajak SAIC Jadikan Indonesia Pusat Produksi dan Ekspor BEV yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.


Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan hasil pertemuan dengan jajaran direksi SAIC (Shanghai Automotive Industry Corporation) di Tiongkok dalam rangka memperkuat industri otomotif kedua negara. Dalam siaran resmi yang diterbitkan pada 10 Oktober 2025, pemerintah mengajak grup manufaktur tersebut untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV).

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Sekretaris Jenderal Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto menyampaikan apresiasi kepada SAIC Motor Corporation atas investasi yang telah dilakukan di sektor otomotif nasional, terutama dalam pengembangan kendaraan elektrifikasi dan komponen baterai. Ia berharap kerja sama ini dapat terus berkembang dengan memperbanyak lini produk kendaraan ramah lingkungan yang sesuai dengan karakteristik konsumen Indonesia.


Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Tang Wensheng, CEO PT SGMW Motor Indonesia, yang merupakan induk dari Wuling Motors Indonesia. Saat itu, mereka membahas proyeksi perluasan pasar ekspor di kawasan ASEAN oleh SAIC Motor Corporation. Eko memberikan apresiasi terhadap PT SGMW karena berhasil memproduksi kendaraan komersial listrik dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen. Hal ini menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk mempercepat transisi menuju industri otomotif rendah emisi.

Selain Wuling, SAIC juga memiliki merek seperti MG (Morris Garage), Baojun, dan Maxus. Perusahaan ini bergerak di bidang riset, pengembangan, produksi, dan penjualan kendaraan serta komponennya.


Di Indonesia, investasi Wuling sudah dimulai sejak tahun 2015. Awalnya, perusahaan membangun fasilitas manufaktur kendaraan dan kawasan industri untuk pemasok (supplier park) di Cikarang, Jawa Barat. Seiring waktu, Wuling berhasil menjadi produsen kendaraan pertama yang merakit lokal hybrid electric vehicle (HEV) lewat Almaz Hybrid. Selanjutnya, perusahaan mulai memproduksi jajaran BEV hingga Magic Battery.

Kemenperin berharap Indonesia dapat menjadi basis produksi untuk negara-negara setir kanan lainnya. PT SGMW & MG telah meluncurkan total 19 model produk, dengan 13 model diproduksi secara lokal. Tidak hanya merakit, tetapi juga mengembangkan industri komponen lokal, PT SGMW saat ini sudah menggandeng 77 penyuplai lokal baik dari tier 1, tier 2, dan tier 3. Ke depannya, pabrikan akan fokus pada TKDN 60-80 persen untuk model BEV.


Untuk produksi baterai di dalam negeri, perusahaan menjalin kemitraan dengan pemasok lain seperti Gotion dan CATL melalui PT UABS (PT Unified Advanced Battery System Indonesia) guna mencapai TKDN lebih dari 60 persen. Selain itu, kontribusi ekspor PT SGMW ditargetkan melebihi 11 persen dari total produksi selama tahun 2025, menjangkau 15 negara dengan jumlah angka ekspor mendekati 10 ribu unit.

Selanjutnya, pabrikan juga akan fokus pada pengembangan kendaraan elektrifikasi. Tidak hanya mobil konvensional atau internal combustion engine (ICE), HEV, dan BEV, tetapi juga akan memulai memproduksi kendaraan jenis Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV.

“Dengan sinergi yang baik antara pemerintah dan pelaku industri, kami optimistis Indonesia dapat menjadi hub kendaraan listrik di kawasan,” pungkas Eko.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar