
Pada hari Selasa (30/9), sebanyak 282 orang mengalami keracunan akibat makanan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Garut. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebutkan bahwa penyebab keracunan tersebut adalah susu yang diberikan dalam menu MBG.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Menurut Dadan, kejadian ini terjadi secara tak terduga karena biasanya SPPG memberikan makanan dua kali sehari. Pada hari itu, makanan pertama disajikan segar, namun karena adanya renovasi, pihak sekolah memutuskan untuk memberikan makanan tambahan.
"Susu merupakan salah satu makanan yang dibagikan dan langsung diminum oleh para pelajar. Akibatnya, beberapa dari mereka mengalami gangguan pencernaan," ujar Dadan saat rapat bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (1/10).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, menjelaskan bahwa dalam menu MBG pada hari itu terdapat susu dan kacang edamame. Awalnya hanya ada 17 orang yang mengalami keracunan, namun jumlah korban terus bertambah seiring waktu.
Mayoritas korban keracunan adalah para pelajar, dengan satu di antaranya adalah balita dan juga ada seorang staf sekolah. Hingga saat ini, total korban yang terkena dampak keracunan mencapai 282 orang, dan semua korban sempat dirawat di tiga tempat berbeda, yaitu Puskesmas Kadungora, Puskesmas Leles, dan RSUD dr Slamet.

Leli menambahkan bahwa dari 282 pelajar tersebut, sebanyak 193 orang sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik. Sementara itu, 89 orang lainnya masih menjalani perawatan medis. Rincian perawatan tersebut adalah 81 orang dirawat di Puskesmas Kadungora, 2 orang di Puskesmas Leles, dan 6 orang di RSUD dr Slamet.
Para pelajar yang mengalami gejala keracunan berasal dari empat sekolah yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa keracunan tersebut tidak hanya terbatas pada satu institusi pendidikan, tetapi melibatkan lebih banyak siswa dari berbagai sekolah.
Penyebab Keracunan
Beberapa faktor dapat menjadi penyebab keracunan yang terjadi. Salah satunya adalah penggunaan susu yang tidak sesuai dengan standar kesehatan. Susu yang diberikan kepada para pelajar mungkin tidak diproses dengan benar atau memiliki kualitas yang tidak memadai. Selain itu, kacang edamame juga bisa menjadi penyebab, terutama bagi mereka yang memiliki alergi terhadap jenis kacang tertentu.
Langkah yang Diambil
Setelah kejadian ini terjadi, pihak dinas kesehatan dan BGN segera melakukan tindakan penanganan. Mereka memastikan bahwa semua korban mendapatkan perawatan medis yang memadai. Selain itu, dilakukan pemeriksaan terhadap makanan yang diberikan agar dapat diketahui apakah ada komponen lain yang menyebabkan keracunan.
Tindakan Pencegahan
Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, penting bagi pihak sekolah dan penyedia makanan bergizi gratis untuk memperketat prosedur pengolahan dan distribusi makanan. Adanya pengawasan lebih ketat terhadap bahan-bahan makanan yang digunakan akan membantu menghindari risiko keracunan yang bisa mengancam kesehatan para pelajar.
Kesimpulan
Keracunan yang terjadi di Kabupaten Garut menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan bergizi gratis. Kejadian ini menunjukkan bahwa perlunya pengawasan yang lebih baik terhadap kualitas dan proses penyajian makanan, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan pelajar. Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan kejadian serupa tidak akan terulang lagi.
Komentar
Kirim Komentar