Ketika Maestro Sunda Berbicara di Bawah Pohon

Ketika Maestro Sunda Berbicara di Bawah Pohon

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Ketika Maestro Sunda Berbicara di Bawah Pohon, berikut adalah data yang berhasil kami rangkum dari lapangan.

Kehidupan dan Perjalanan Godi Suwarna, Maestro Sastra Sunda

Sejak duduk di bangku SMP, saya mengenal nama Godi Suwarna. Saat itu, saya sering mengikuti perlombaan baca puisi—dan hampir di setiap ruang sastra yang saya masuki, namanya selalu hadir. Kadang sebagai teks yang dibaca, kadang sebagai rujukan, kadang hanya sebagai bisik-bisik kagum para juri dan pembina. Jika dihitung, sudah 23 tahun lamanya nama itu hidup di kepala saya, jauh sebelum saya benar-benar berani berdiri di hadapannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Bahkan ketika saya merantau ke Jakarta dan bersinggungan dengan banyak seniman, ada satu gurauan yang kerap saya dengar setiap kali mereka tahu saya berasal dari Ciamis. “Oh, ponakannya Godi Suwarna, ya?” Candaan itu terdengar ringan, tapi sekaligus menunjukkan betapa besar nama dan pengaruh sosok tersebut. Godi Suwarna bukan sekadar sastrawan; ia telah menjadi semacam penanda geografis dan kultural.

Dan di bulan ini, tepatnya 17 Desember 2025, Godi Suwarna baru saja meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebuah penghargaan tertinggi negara bagi pelaku budaya, di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Maestro sastra Sunda itu kini bukan hanya milik Ciamis, tapi telah diteguhkan sebagai milik bangsa.

Di Bawah Pohon Kafe Qitrie: AKI, Bahasa Ibu, dan Risiko Menjadi Penyair Sunda

Kami berjanji bertemu di Kafe Qitrie, kompleks Gedung Pramuka Ciamis, pada Sabtu, 20 Desember 2025. Hari itu baru saja selesai hujan. Aroma tanah basah masih menggantung di udara. Setelah memesan minuman, Kang Godi—begitu ia biasa disapa—memilih meja dan kursi yang berada di bawah pohon. Teduh, lapang, dan terasa pas untuk berbincang panjang. Namun sayang, rintik kembali turun, sehingga kami memilih tempat nu katiungan untuk melanjutkan cerita.

Setelah basa-basi secukupnya, saya mengajukan pertanyaan standar: apa makna AKI 2025 bagi Kang Godi?

Pertanyaan itu justru membawa kami masuk ke perenungan yang jauh dan dalam.

Menurut Godi Suwarna, dunia sastra Sunda sejatinya terbatas. Sejak awal ia menyadari risiko yang ia ambil. “Di awal saya menggeluti sastra Sunda, saya tidak banyak berharap,” katanya. Namun ia juga jujur mengakui, mengarang dalam bahasa Sunda memberinya kenikmatan yang tak tergantikan. Semua perasaan bisa tumpah dengan lebih jujur.

Ia lalu memberi contoh sederhana tapi menghantam: cara melihat dalam bahasa Sunda. Ada neuteup, melong, mencrong—semuanya berarti “melihat”, tapi dengan nuansa dan rasa yang berbeda. “Bahasa Sunda punya kosakata yang lebih banyak,” ujarnya.

Ia pernah berbincang dengan Sujiwo Tejo, dan keduanya sepakat bahwa bahasa ibu selalu lebih luas secara rasa. Tapi justru di situlah risikonya: pasar yang sempit, pembaca yang terbatas, dan masa depan yang tak pasti. “Makanya, dengan adanya AKI ini, saya merasa dihargai,” kata Godi pelan.

Karier yang Berkembang dan Pengakuan Nasional

Kariernya mulai meningkat sekitar 1977, ketika Ahda Imran—seorang penyair, esais, dan kurator nasional penting pada masanya—mengajaknya tampil di berbagai forum nasional. Ahda Imran dikenal sebagai figur yang membuka ruang bagi penyair daerah untuk tampil di panggung yang lebih luas. Dari sanalah nama Godi Suwarna perlahan bergerak keluar dari lingkar lokal.

Namun momen yang benar-benar mengantarkannya menjadi penyair populer terjadi pada Festival Puisi Internasional 2005 di Bandung, yang digelar oleh WS Rendra, atau akrab dipanggil Mas Willi. Festival itu menghadirkan penyair-penyair ikonik dunia, namun sempat menuai kritik karena dianggap mengesampingkan penyair daerah Sunda—termasuk Godi Suwarna sendiri.

Beberapa pihak ngambek. Tisna Sanjaya bahkan menulis kritik terbuka. Situasi memanas. Hingga akhirnya, Godi Suwarna diminta tampil membaca puisi sebelum WS Rendra menyampaikan orasi di puncak acara.

“Harita Bu Ida (Ken Zuraida, istri WS Rendra) ngomong ka saya: Godi, urang Bandung teh meni garalak, karunya Mas Willi geus kolot (waktu itu Bu Ida berkata kepada saya: Godi orang Bandung pada galak, kasian Mas Willi udah tua- terj),” kenangnya sambil tertawa kecil.

Godi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia tampil habis-habisan. Penampilannya justru memikat peserta dari Jerman, yang kemudian menjadi panitia dan mengundangnya ke International Literature Festival Berlin. Sejak saat itulah karier internasionalnya dimulai.

“Saya ingat orasi Mas Willi: penyair jangan manja, penyair ditentukan oleh karyanya, bukan gayanya,” kata Godi. Kalimat itu masih tinggal di kepalanya hingga kini.

Media Sosial, Fikmin, dan Strategi Bertahan di Zaman Bahasa yang Punah

Lahir pada 23 Mei 1956, Godi Suwarna percaya bahwa sastra harus berkembang seiring zaman. Ia sadar, media cetak sastra Sunda semakin berkurang, pembaca menyusut, dan ancaman kepunahan bahasa semakin nyata. Data dari UNESCO menyebutkan bahwa setiap dua minggu satu bahasa ibu di dunia punah, dan Indonesia termasuk negara dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap punahnya bahasa daerah.

Karena itu, Godi memilih media sosial, khususnya Facebook, sebagai ruang baru berkarya. Bukan sekadar ikut tren, tapi sebagai strategi kebudayaan. “Ngahaja saya nulis di FB sapertos kitu (sengaja saya menulis di FB seperyi itu- terj),” katanya. Ia menulis, menyimpan, membacanya kembali dua-tiga hari kemudian, lalu memperbaiki.

Selain itu, ia memfokuskan diri pada fiksi mini (fikmin)—karangan dengan jumlah karakter sangat terbatas. Menurutnya, fikmin sangat efektif untuk zaman serba cepat. Ia bukan hanya menulis, tapi juga mengajarkan cara menulis fikmin, bahkan pernah menyelenggarakan lomba daring dengan hadiah menggiurkan saat pandemi Covid-19.

Godi memulai karier sastra sejak 1976, dan ia punya pandangan unik tentang penyair. “Penyair itu harus seperti pedagang asongan,” katanya. Menawarkan karyanya ke mana-mana agar dikenal. Kebetulan, ia berlatar belakang aktor teater, sehingga punya modal ekspresi, tubuh, dan keberanian.

“Di teater kita belajar olah sukma, olah rasa, imajinasi. Itu sangat bermanfaat,” ujarnya. Apalagi pada zamannya, dewa sastra adalah WS Rendra—penyair sekaligus aktor teater. Maka wajar jika dulu, menurut Godi, sastrawan juga pasti pegiat teater.

Rambut Putih, Istri Setia, dan Imajinasi yang Lahir dari Dongeng

Sejak saya mengenalnya, Godi Suwarna selalu tampil sama: rambut putih panjang sebahu, tergerai; pakaian khas—atasan korduroi, celana bermotif kotak seperti sarung; aksesoris gelang; kadang topi. Ia nyentrik, humoris, dan sangat ramah. Ia bisa bercakap dengan generasi jauh di bawahnya tanpa jarak.

Sebagian pakaiannya bahkan dijahit oleh sang istri, Raden Rahmayanti Nilakusumah, atau Neng Peking. Godi merasa sangat bersyukur. “Dia tidak cemburuan,” katanya. Padahal ia sering dekat dan bercanda dengan banyak perempuan, baik di dunia nyata maupun media sosial. Teh Neng santai, tidak ribet, tapi sangat perhatian.

Ketika Godi sakit parah pada 2024 dan harus menjalani operasi paru-paru, Teh Neng merawatnya dengan telaten. “Di rumah sakit saya merasa terteror,” kata Godi jujur. Suara orang kesakitan, kabar kematian—semuanya menekan. Tapi dukungan orang-orang, terutama istrinya, sangat terasa.

Sejak pandemi, hampir tak ada undangan baca puisi. “Baru kemarin, setelah AKI, Disbudpar bikin acara dan mengundang saya,” katanya sambil tersenyum getir.

Ia berharap Pemerintah Ciamis bisa mengembangkan ekosistem seni yang sehat. Ia juga menyuarakan kritik tajam: dewan kebudayaan harus diisi orang yang masagi, paham betul kebudayaan, bukan sekadar punya gelar dan jabatan. Ia masih sakit hati soal kasus Karang Kamulyan yang ditutup begitu saja, padahal sangat sakral.

Ia juga berharap ada Dewan Kesenian Ciamis yang fokus, bukan Dewan Kebudayaan dengan cakupan terlalu luas.

Kepada sastrawan muda Sunda, pesannya sederhana tapi dalam: fokus dan intens. “Jangan banyak mikir jauh-jauh. Fokus ke yang dekat. Nanti yang jauh akan datang sendiri.”

Sebagai pembaru, Godi pernah dicap perusak. Cerpen Uwak Awik—tentang wayang yang memberontak pada dalang—dianggap melanggar pakem. Untungnya, saat itu seni sedang bergerak ke arah avant-garde. Ia pun merumuskan kredo: Menolak Tradisi, Bertolak dari Tradisi.

Masa Kecil dan Pengaruh Keluarga

Pada masa kecilnya, Godi Suwarna tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sarat cerita dan kearifan lokal, di mana dongeng menjadi napas keseharian dan imajinasi dibiarkan liar menjelajah. Ayah dan ibunya yang berprofesi sebagai guru gemar mendongeng, berlangganan bacaan sastra, serta menanamkan nilai melalui kisah-kisah yang hidup di ingatan, mulai dari mitos sederhana hingga petuah yang dibungkus imaji.

Godi bercerita saat dia kecil, ibunya berkata: sehabis bermain diluar mainan harus dirapihkan dan disimpan di dalam agar tidak kedinginan. "Saya justru ngahajakeun, disimpen we maenan teh (saya justru sengaja, mainan disimpan), terus malam-malam saya ngintip. mainan di luar seperti kuda-kudaan lagi apa, benar kedinginan? jiga toy story-lah pikiran saya teh," jelasnya. Ia mengaku sering memberontak sejak kecil.

Namun tidak semua cerita meninggalkan rasa hangat; kisah Nabi Ibrahim yang menyembelih Nabi Ismail, yang kerap diceritakan sang ayah menjelang magrib, justru menumbuhkan ketakutan mendalam pada diri Godi kecil—ia selalu menatap ayahnya yang tertidur sambil bertanya dalam hati, mimpi apa yang sedang singgah di kepalanya, apakah Bapak bermimpi akan menyembelihnya?

Di luar rumah, ia dan kawan-kawan kerap menggelar pentas kecil, menirukan dalang, membuat wayang dari kertas, dan merayakan imajinasi bersama dengan ditemani oleh sang paman yang seorang dalang. Tapi neneknya selalu marah, karena seprainya dijadikan set artistik oleh sang paman.

Hingga suatu hari, ruang bermain itu diacak-acak aparat tanpa penjelasan, sebuah peristiwa yang baru ia pahami bertahun-tahun kemudian—mungkin karena kesenian kala itu dicurigai sebagai bagian dari Lekra, di tengah suasana politik yang sensitif. Dari ketakutan, dongeng, dan benturan dengan sejarah itulah, benih imajinasi Godi Suwarna tumbuh, membentuk keberaniannya kelak untuk merawat tradisi sekaligus menggugatnya.

Percakapan masa kecil itu menyadarkan saya: betapa pentingnya imajinasi dalam pengasuhan. Kini anak-anak dipaksa rasional terlalu dini, kehilangan ruang liar untuk berkhayal. Padahal banyak kearifan lokal yang menawarkan daya imaji yang kaya.

Saat ditanya karyanya yang paling disukai, ia menyebut Jagat Alit, Grand Prix, dan Blues Kere Lauk. Meski tampil bak dukun dengan puisi mantranya, Godi tertawa dan berkata, “Saya mah orangnya ngepop.”

Dan di bawah pohon Kafe Qitrie itu, saya akhirnya sadar: Godi Suwarna bukan sekadar nama besar. Ia adalah manusia penuh luka, humor, cinta, dan imajinasi serta perjalanan—yang telah membuktikan bahwa fokus pada yang dekat bisa membawa seseorang pergi sangat jauh.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Ketika Maestro Sunda Berbicara di Bawah Pohon. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar