
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kehidupan Nenek Tini yang Menyentuh Hati
Nenek Tini (67 tahun) tinggal di gubuk sederhana di tepi hutan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gubuk ini hanya memiliki ukuran 180 x 2 meter dan tidak memiliki aliran listrik. Meskipun terlihat sangat kecil dan tidak layak huni, gubuk ini menjadi tempat tinggal Nenek Tini sejak beberapa waktu lalu.
Gubuk tersebut berada di Bujulu, Kelurahan Bontoparang, Kecamatan Parangloe. Lokasinya berdekatan dengan jalur trans Sulawesi yang menuju kawasan wisata Malino. Sebelumnya, Nenek Tini tinggal di rumah yang lebih layak di wilayah pemukiman warga. Namun, setelah suaminya meninggal, rumah warisan tersebut diambil alih oleh anak tirinya.
Nenek Tini tidak memiliki keturunan dari pernikahannya. Setelah meninggalkan rumah tersebut, ia sempat tinggal di perumahan guru SD Negeri Bujulu agar bisa dekat dengan makam suaminya. Namun, ia kemudian dijemput oleh kerabatnya dan kembali ke kampung halamannya di Desa Tassese, Kecamatan Manuju.
Pada bulan Februari, Nenek Tini memutuskan untuk kembali ke gubuk saat ini agar bisa lebih sering mengunjungi makam suaminya. Warga sekitar menyebutkan bahwa Nenek Tini merasa tenang saat tinggal di dekat makam suaminya.
Penolakan Bantuan dari Warga Sekitar
Meskipun warga sekitar beberapa kali menawarkan bantuan agar Nenek Tini tinggal di rumah mereka, tawaran tersebut ditolak. Nenek Tini merasa tidak ingin menyusahkan orang lain. Hal ini disampaikan oleh Abdul Azis Daeng Ngeppe, warga sekitar yang dikonfirmasi.
"Banyak warga yang panggil ke rumahnya untuk tinggal, tapi dia tidak mau, katanya tidak mau menyusahkan orang lain," tambah Abdul Azis.
Dari pantauan, gubuk Nenek Tini hanya beralaskan tanah dengan ranjang seukuran 1 x 170 meter. Ruang terbuka di belakang gubuk digunakan sebagai dapur, di mana ia memanfaatkan kayu hutan untuk memasak.
Kemampuan Berbahasa Mandarin yang Menarik
Salah satu hal yang menarik tentang Nenek Tini adalah kemampuannya berbahasa Mandarin selain bahasa Jawa dan Makassar. Ia mengaku dibesarkan di Surabaya dan bekerja di rumah orang Tionghoa yang memperlakukannya seperti anak sendiri.
"Saya besar di Surabaya dan lama kerja sama orang Cina di situ, saya belajar bahasa Cina, bahasa Jawa juga saya kuasai," kata Tini sambil tersenyum.
Kemampuan berbahasa Mandarin ini membuat Nenek Tini menjadi sosok yang unik dan menarik perhatian banyak pihak.
Perhatian dari Pihak Berwenang
Kisah hidup Nenek Tini menyentuh banyak pihak, termasuk Kapolres Gowa, AKBP Muhammad Aldy Sulaiman. Ia mengunjungi gubuk Nenek Tini dan mengaku prihatin dengan kondisi tempat tinggal Tini.
Ia memerintahkan personel Polsek Parangloe untuk rutin memantau keamanan di sekitar gubuk tersebut. "Kami sudah perintahkan personel Polsek agar rutin memantau kondisi nenek Tini dan berharap pemerintah, dalam hal ini instansi terkait seperti dinas sosial, bisa memberikan solusi bagi nenek Tini, sebab gubuk ini sejatinya memang tidak layak huni," kata Aldy saat memberikan santunan kepada Nenek Tini.
Kondisi Gubuk yang Memprihatinkan
Gubuk Nenek Tini tidak memiliki fasilitas dasar seperti listrik dan air bersih. Kondisi ini membuat kehidupan Nenek Tini sangat sulit. Meskipun begitu, ia tetap menjalani kehidupannya dengan tenang dan penuh kesabaran.
Selain itu, warga sekitar dan pihak berwenang telah memberikan dukungan moral dan bantuan kecil-kecilan. Namun, diperlukan solusi jangka panjang agar Nenek Tini dapat hidup dengan lebih nyaman dan layak.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Kisah Nenek Tini menjadi contoh bagaimana seseorang bisa bertahan hidup meski dalam kondisi yang sangat sulit. Dengan kekuatan dan ketabahan hati, ia tetap menjalani kehidupannya dengan penuh harapan.
Semoga pihak terkait dapat segera memberikan solusi yang layak untuk Nenek Tini, sehingga ia dapat hidup dengan lebih nyaman dan aman.
Komentar
Kirim Komentar