Konsultan Militer Presiden Dorong Penyebaran Dokter ke Seluruh Nusantara

Konsultan Militer Presiden Dorong Penyebaran Dokter ke Seluruh Nusantara

Kabar pemerintahan kembali hangat diperbincangkan. Mengenai Konsultan Militer Presiden Dorong Penyebaran Dokter ke Seluruh Nusantara, publik menunggu dampak dan realisasinya. Simak laporannya.
Konsultan Militer Presiden Dorong Penyebaran Dokter ke Seluruh Nusantara

Peran Tenaga Medis dalam Membangun Kesehatan Nasional yang Merata

Dalam sebuah kesempatan, Penasehat Khusus Presiden bidang Pertahanan Nasional, Jenderal (Purn) Dudung Abdurrahman, menyampaikan pentingnya pemerataan tenaga medis, penguatan nilai kebangsaan, serta ketahanan kesehatan nasional dalam menghadapi tantangan layanan kesehatan. Ia menyampaikan hal tersebut kepada para calon dokter spesialis dan residen Universitas Padjadjaran (Unpad), pada Rabu 26 November 2025.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dudung menekankan bahwa tenaga medis memiliki peran penting tidak hanya dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga dalam menjaga keberlangsungan bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan. “Cinta tanah air dan bela negara bukan hanya milik TNI. Para dokter justru menjadi penyemangat perjuangan, baik dulu maupun sekarang,” ujarnya.

Distribusi Tenaga Medis yang Timpang

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 1 Oktober 2025, distribusi tenaga medis masih timpang. Penumpukan tenaga kesehatan banyak terjadi di Pulau Jawa, sementara wilayah seperti Papua masih sangat kekurangan tenaga dokter dan dokter spesialis. Dudung menyampaikan bahwa dari Prof. Yudi dan Pak Rektor ia mendapat masukan tentang kendala distribusi. Hal ini akan ia sampaikan langsung ke Menteri Kesehatan.

Ia menambahkan bahwa hanya 67,3 persen rumah sakit yang telah memenuhi standar kelengkapan dokter spesialis, sedangkan 32,7 persen rumah sakit belum mencapai standar tersebut.

Tantangan Kesehatan di Wilayah 3T

Selain masalah distribusi tenaga medis, Dudung juga menyoroti tantangan kesehatan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Minimnya infrastruktur, akses layanan yang sulit, keterlambatan pertolongan, serta rendahnya cakupan program preventif menjadi hambatan utama. Kondisi ini berdampak pada tingginya angka kematian ibu dan anak serta lambatnya penanggulangan penyakit.

Ancaman Disinformasi Kesehatan

Dudung juga mengingatkan ancaman disinformasi kesehatan yang marak pascapandemi. Ia menilai rendahnya literasi kesehatan menjadi salah satu penyebab kegagalan pencapaian target penurunan stunting nasional. Seharusnya target ini berada di angka 14 persen pada 2024, namun hanya tercapai 21 persen.

“Banyak terjadi pernikahan usia muda tanpa pemeriksaan kesehatan. Ini berpengaruh besar pada kualitas anak yang lahir,” tuturnya.

Pengalaman Menangani Pandemi

Dudung menyampaikan pengalamannya saat menjabat Pangdam Jaya dalam menangani pandemi COVID-19, termasuk pengamanan dan distribusi vaksin impor. Ia menilai Indonesia harus memperkuat kemampuan produksi vaksin dalam negeri. “Kita punya fasilitas seperti di Jalan Gandapura, Bandung dan Biopharma. Ke depan saya lihat Menhan sudah mulai mengkoordinasikan agar produksi vaksin bisa dilakukan di dalam negeri,” ucapnya.

Transformasi Sistem Kesehatan Nasional

Ia menegaskan bahwa transformasi sistem kesehatan nasional harus mengutamakan pencegahan, pemerataan layanan, penguatan SDM, dan kesiapsiagaan bencana untuk menuju Indonesia Emas 2045. “Ketahanan kesehatan adalah bagian dari kedaulatan nasional. Semua unsur harus bergerak bersama,” ujar Dudung.

Kunci Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Berkualitas

Dudung menekankan bahwa modernisasi layanan, peningkatan kualitas pendidikan dokter, dan semangat pengabdian menjadi kunci tercapainya pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas di seluruh Indonesia. Komitmen Presiden Prabowo Subianto mendorong pembangunan 30 fakultas kedokteran pun menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.


Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan aspirasi Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar