
Peran Forum Musyawarah Kubro dalam Menyelesaikan Konflik Internal PBNU
Forum Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri menjadi momen penting dalam upaya menyelesaikan konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Semua pihak diimbau untuk menghormati pertemuan ini, yang dilaksanakan sebagai langkah awal untuk mencari solusi dari perbedaan pandangan yang terjadi. Sebagai organisasi yang dikenal dengan prinsip tawasut dan moderat, keadaan saat ini dinilai sangat ironis oleh sejumlah tokoh NU.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa situasi saat ini sangat memalukan, karena NU biasanya menjadi penengah konflik di mana pun berada. Namun, kini justru terjadi perselisihan di dalam tubuh sendiri. Ia menegaskan bahwa semua pihak harus melakukan muhasabah atau introspeksi diri, serta tidak saling menyalahkan satu sama lain.
"Kalau sudah muhasabah, mari semua katakan, yang salah saya bukan siapa-siapa. Kami yang salah. Kenapa separah ini perselisihan di PBNU dan ini menjadi tertawaan semua orang baik non-NU dan non-muslim," ujarnya.
Pertemuan ini juga merupakan bagian dari rangkaian rapat yang telah digelar sebelumnya, seperti di Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, serta Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang. Dalam setiap pertemuan, tujuan utamanya adalah mencapai kesepakatan bersama dan menjaga harmoni di dalam organisasi.
Tidak Ada Campur Tangan Pemerintah
KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa dalam konflik PBNU tidak ada campur tangan dari pihak pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik harus dilakukan secara internal oleh pengurus NU. Ia berharap agar kedua belah pihak segera melakukan islah, sehingga masalah bisa segera diselesaikan.
"Sampai sekarang Istana tidak ikut campur, sampai kapan kita seperti ini. Mari kita cepat selesaikah, islah, pertemuan. Kalau tidak, muktamar diserahkan ke pimpinan cabang dan pimpinan wilayah (PCNU dan PWNU)," katanya.
Tanggung Jawab dan Kesediaan Gus Yahya
Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf juga hadir dalam pertemuan di Lirboyo. Ia menyatakan bahwa dirinya terbuka untuk memberikan klarifikasi dan tabayun terhadap apapun yang dibutuhkan, melalui cara apapun dengan menghadirkan semua bukti dan saksi yang diperlukan. Ia juga mengaku sejak awal ingin menjalankan proses islah dengan pendekatan al haq (kebenaran) dan bukan al batin (yang tersembunyi).
"Saya siap berislah binaan al haq (kebenaran), tidak binaan al batin (yang tersembunyi). Dan saya sepenuhnya taslim (tunduk, patuh), apa yang telah disepakati hadirin oleh PWNU, PCNU se-Indonensia juga Mustasyar," ujar Gus Yahya.
Ia juga menyampaikan bahwa setelah adanya kesepakatan antara PWNU dan PCNU seluruh Indonesia, ia langsung mengirim pesan kepada Rais Aam untuk meminta waktu menghadap. Namun hingga kini belum mendapatkan jawaban.
"Tadi begitu mendengar apa yang disampaikan dari kesepakatan PWNU dan PCNU seluruh Indonesia, saya langsung mengirim pesan ke Rais Aam mohon waktu untuk menghadap, tapi sekarang belum dapatkan jawaban. Saya akan tunggu sampai 3x24 jam dan saya akan lapor kembali," ungkap Gus Yahya.
Kesimpulan
Forum Musyawarah Kubro di Lirboyo menjadi langkah penting dalam menyelesaikan konflik internal PBNU. Dengan partisipasi dari PWNU, PCNU seluruh Indonesia, serta PCINU baik secara langsung maupun daring, harapan besar diarahkan pada tercapainya kesepakatan yang damai dan berkelanjutan. Semua pihak diharapkan dapat menjaga sikap rendah hati, saling menghormati, dan fokus pada kepentingan bersama.
Komentar
Kirim Komentar