Melalui Film 'Shutter', Anya Geraldine Bagikan Pengalaman Pribadi Jadi Korban Pelecehan Seksual

Melalui Film 'Shutter', Anya Geraldine Bagikan Pengalaman Pribadi Jadi Korban Pelecehan Seksual

Berita mancanegara hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Melalui Film 'Shutter', Anya Geraldine Bagikan Pengalaman Pribadi Jadi Korban Pelecehan Seksual tengah menjadi perhatian global. Berikut laporan selengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pesan Sosial yang Mendalam dalam Film 'Shutter'

Film 'Shutter' tidak hanya menawarkan pengalaman horor yang menguras emosi, tetapi juga menyampaikan pesan sosial penting yang layak diangkat. Vino G. Bastian dan Anya Geraldine berdiskusi mendalam tentang makna film ini dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube @Comic 8 Revolution dengan judul 'SHOCK!! VINO G. BASTIAN & ANYA GERALDINE AKHIRNYA SPEAK UP'. Mereka menjelaskan bahwa film ini tidak hanya sekadar kisah horor, tetapi juga menjadi wadah untuk menyuarakan isu pelecehan seksual di lingkungan kampus.

Sara Wijayanto, pembawa acara podcast tersebut, menyebutkan bahwa film ini memiliki pesan kuat yang bertujuan sebagai peringatan bagi masyarakat. "Ini di film ini juga kan tadi ngangkat isu pelecehan seksual di kampus ya. Ini pesannya sebenarnya bagus ya karena mudah-mudahan jadi pesan yang baik, jadi warning juga," ujarnya. Ia menambahkan bahwa riset yang dilakukan oleh tim film menemukan bahwa banyak kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di dunia pendidikan.

"Mayoritas kekerasan terhadap perempuan itu baik yang seksual maupun verbal banyak terjadi justru di dunia pendidikan, di dunia kampus," tambahnya. Vino G. Bastian juga menjelaskan bahwa dari 90-an kasus yang ia baca, sekitar 40-an sampai 50-an terjadi di lingkungan kampus. Menurutnya, film ini bukan hanya sekadar menjual ketakutan, tetapi juga menjadi sarana untuk menyuarakan isu-isu penting.

"Film ini bukan cuma kita jualan horor doang, bukan cuma jualan remake dari satu film horor yang besar. Tapi kita butuh ini buat kita suarain, biar enggak lagi terjadi hal-hal kayak gini di dunia pendidikan kita," ujar Vino.

Pengalaman Pribadi Anya Geraldine

Anya Geraldine juga membagikan pengalamannya yang selama ini disimpan. Ia mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami pelecehan seksual saat masih duduk di bangku SMP, tepatnya di kelas 2 dan 3. Kejadian ini terjadi saat ia sedang sendirian di rumah, karena ibunya bekerja dan pembantu sedang pulang kampung.

"Pas aku udah pulang sekolah, lagi nyantai di kasur, aku tiduran pakai daster, ya terserah dong, kan dirumah nggak ada orang, terus tiba-tiba ada cowo, mas-mas yang penjaga itu yg kerja ditetangga, dia tiba-tiba buka pintu kamar aku. Padahal rumahku dikunci," cerita Anya. Pelaku berpura-pura datang untuk mengembalikan kucing peliharaannya yang keluar rumah. Namun, suasana berubah ketika pelaku mulai berbicara dengan nada aneh.

"Dia ngomong, 'Aku tuh sebenarnya pengin ngobrol deh sama Anyanya. Kenapa sih Anyanya sekarang udah jarang ngaji? Perasaan dulu kalau di rumah seminggu bisa tiga kali ngaji kan'," ujarnya. Anya mengaku sempat syok dan hanya bisa diam saat itu. Situasi semakin menegangkan ketika pelaku mencoba mendekat.

"Dia bilang, 'Eh, sebenarnya aku mau ngomong lagi, sini deh aku bisikin'. Nah, pas udah kayak gitu tuh aku enggak tahu reflek gimana, aku teriak, 'Keluar! Keluar!' Aku teriak kencang banget," tambahnya. Pelaku panik dan langsung keluar rumah, sementara Anya menangis ketakutan dan segera menelpon ibunya.

Penanganan Kasus dan Trauma yang Berkepanjangan

Setelah kejadian itu, Anya dan keluarganya melapor ke Pak RT setempat. Dalam pertemuan tersebut, pelaku mengaku bersalah dan menyebut dirinya khilaf. "Dia bilang, 'Saya juga enggak tahu saya ngapain, mungkin saya khilaf'. Tapi istrinya nggak percaya, dia bilang, 'Nggak mungkin suami saya kayak gitu'," lanjutnya.

Meski keluarga dan orang sekitar mendorong agar kasus itu dilaporkan ke polisi, Anya memilih untuk tidak melanjutkannya. "Aku mikir lagi, ni anaknya juga cewek lagi. Terus aku kayak mikir, yaudah gini aja deh, karena gue gak mau ni orang entar kenapa-kenapa, mungkin masuk penjara lalu anaknya dan istrinya hidupnya susah karena ini semua," ujarnya.

Anya mengaku berpikir seperti itu karena secara refleks ia menempatkan dirinya dalam posisi sang anak. Sebagai seorang perempuan yang juga tumbuh tanpa kehadiran ayah, Anya merasa khawatir dan bertanya-tanya, "Apakah ini worth it misalnya aku masukin ke polisi nanti dia berapa tahun anaknya jadi broken dan kecewa karena sosok ayahnya seperti itu."

Setelah kejadian itu, Anya dan keluarganya memutuskan untuk tetap diam namun menjaga jarak dari pelaku. "Beberapa tahun kemudian orang itu masih tinggal di sebelah rumah aku, tapi aku sama keluarga udah jutek parah," katanya. Anya menegaskan, meski kejadian itu sudah lama, trauma yang dialaminya masih membekas hingga sekarang.

Film 'Shutter' sebagai Sarana Kritik Sosial

Melalui pengalaman pribadi Anya dan penjelasan Vino, film 'Shutter' menunjukkan bahwa ia bukan sekadar film horor, melainkan media untuk menyuarakan realitas kelam yang sering disembunyikan. Film ini diharapkan menjadi pengingat agar dunia pendidikan dan lingkungan sosial lebih sadar dan berani menindak setiap bentuk kekerasan seksual.

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Ikuti terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar