
Rambu kuning di trotoar sejatinya dimaksudkan untuk membantu penyandang disabilitas netra berjalan kaki dengan aman. Jalur berpola timbul ini biasanya ditemukan di trotoar kawasan perkotaan. Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya ramah bagi tuna netra. Di Jalan Dr. Susilo Raya dan Jalan Letjen S. Parman, Jakarta Barat, misalnya, jalur kuning itu tertutup toko kelontong dan kendaraan yang parkir sembarangan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Selain itu, ada pula rambu yang justru mengarah ke tiang listrik atau melewati trotoar rusak. Kondisi ini berpotensi membahayakan pengguna.

Salah seorang pejalan kaki, Wina Saputri (27), menilai trotoar di Jakarta belum benar-benar aman bagi tuna netra. Ia menyarankan agar penyandang disabilitas netra tidak berjalan sendirian di jalan umum.
“Kalau bisa sama keluarganya dipandu. Kalau jalan sendiri bahaya juga,” ujarnya saat ditemui.
Pendapat serupa disampaikan Ajil (19). Ia mengaku memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas netra dan berharap pemerintah segera memperbaiki jalur tersebut.
“Saudara ada (tuna netra). Kalau pergi ke warung diantar. Kalau sendiri bahaya,” kata dia.


Ajil menambahkan, pemerintah tidak seharusnya menunggu ada korban sebelum memperbaiki fasilitas publik.
“Jangan nunggu korban dulu. Jakarta harusnya jadi tempat yang nyaman dan aman buat semua,” ujarnya.
Masalah yang Terlihat di Trotoar Jakarta
Beberapa masalah utama terkait trotoar di Jakarta antara lain:
-
Tertutup oleh bangunan atau kendaraan
Jalur kuning yang seharusnya menjadi panduan bagi tuna netra sering kali tertutup oleh toko kelontong, pedagang kaki lima, atau kendaraan yang parkir sembarangan. Hal ini membuat jalur tersebut tidak efektif dalam membantu para pengguna. -
Adanya rambu yang tidak sesuai
Beberapa rambu di trotoar justru mengarah ke tiang listrik atau melewati area yang rusak. Ini bisa menyulitkan para tuna netra dalam menavigasi jalan. -
Kurangnya pemeliharaan trotoar
Banyak trotoar yang rusak dan tidak diperbaiki. Kondisi ini meningkatkan risiko cedera bagi pengguna, termasuk penyandang disabilitas.
Penilaian dari Masyarakat
Banyak masyarakat setempat menyadari bahwa trotoar di Jakarta masih jauh dari ideal. Mereka merasa bahwa fasilitas untuk tuna netra belum cukup diperhatikan.
Wina Saputri (27) menyatakan bahwa ia melihat banyak tantangan bagi penyandang disabilitas netra dalam berjalan kaki. Menurutnya, mereka sebaiknya selalu didampingi oleh keluarga atau orang yang dapat memandu.
“Kalau jalan sendiri bahaya juga,” katanya.
Sementara itu, Ajil (19) berbagi pengalamannya sebagai keluarga dari seseorang yang memiliki disabilitas netra. Ia berharap pemerintah lebih proaktif dalam memperbaiki infrastruktur yang ada.
“Saudara ada (tuna netra). Kalau pergi ke warung diantar. Kalau sendiri bahaya,” ujarnya.
Tantangan dan Harapan
Masalah yang terjadi di trotoar Jakarta tidak hanya terbatas pada kondisi fisik jalur saja. Ada juga aspek sosial dan kesadaran masyarakat yang perlu diperbaiki.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
-
Peningkatan kesadaran masyarakat
Masyarakat perlu lebih sadar akan pentingnya menjaga trotoar agar tetap bersih dan aman. -
Perbaikan infrastruktur secara berkala
Pemerintah harus lebih aktif dalam memperbaiki jalur dan rambu yang rusak. -
Penyediaan fasilitas tambahan
Selain rambu kuning, penyandang disabilitas netra membutuhkan bantuan lain seperti alat bantu jalan atau penjaga jalur.
Kesimpulan
Trotoar di Jakarta masih memiliki banyak kekurangan, terutama dalam mendukung kebutuhan penyandang disabilitas netra. Meski ada rambu kuning yang seharusnya menjadi panduan, kondisinya sering kali tidak memadai.
Dari laporan masyarakat dan pengalaman langsung, tampak jelas bahwa perlu adanya perbaikan sistematis dan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Dengan begitu, Jakarta bisa menjadi kota yang lebih ramah dan aman bagi semua warga, termasuk penyandang disabilitas.


Komentar
Kirim Komentar