
Kehidupan dan Warisan Ratu Sirikit
Ratu Sirikit, yang dikenang sebagai sosok anggun dan penuh pengabdian, meninggal dunia pada usia 93 tahun. Ia adalah istri dari Raja Bhumibol Adulyadej, yang merupakan raja terlama di Thailand dengan masa tahta selama 70 tahun sejak 1946. Kematian beliau disebabkan oleh komplikasi sepsis darah, dan ia menghembuskan napas terakhirnya di Bangkok pada Jumat, 24 Oktober 2025.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Sebagai simbol keibuan bangsa Thailand, Ratu Sirikit telah menjadi figur sentral monarki selama lebih dari enam dekade. Kepergiannya menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat Thailand, baik di dalam maupun luar negeri. Masa berkabung selama satu tahun ditetapkan bagi anggota keluarga kerajaan, sementara pemerintah memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang selama sebulan di kantor-kantor publik.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul membatalkan perjalanan ke KTT ASEAN di Kuala Lumpur karena kematian Ibu Suri. Meskipun demikian, ia tetap akan pergi ke Malaysia untuk menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Kamboja pada hari Minggu, kemudian kembali ke Thailand setelahnya.
Peran Sebagai Permaisuri yang Berpengaruh
Ratu Sirikit lahir dari keluarga bangsawan Thailand, putri seorang pangeran. Ia bertemu dengan Raja Bhumibol saat tinggal di Prancis, ketika ayahnya bertugas sebagai duta besar Thailand. Pertemuan itu berujung pada pernikahan kerajaan pada 28 April 1950, hanya sepekan sebelum penobatan sang raja pada 5 Mei 1950.
Setelah penobatan suaminya sebagai Rama IX dari Dinasti Chakri, Sirikit memperoleh gelar kerajaan Somdet Phra Nang Chao Sirikit Phra Borommarachininat. Ia dikenal luas sebagai permaisuri dengan masa pengabdian terpanjang di dunia. Selain mendampingi sang raja dalam perjalanan diplomatik ke berbagai negara pada 1960-an, Ratu Sirikit juga menjadi ikon mode internasional dan empat kali masuk daftar Best Dressed Women of the Year.
Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan
Ratu Sirikit berperan besar dalam berbagai program pembangunan pedesaan dan pelestarian lingkungan. Ia mendirikan Yayasan Dukungan (The Support Foundation) untuk memberdayakan perempuan desa melalui pelatihan kerajinan tradisional dan pemasaran produk lokal. Ia juga aktif dalam kegiatan keagamaan Buddha, terutama di wilayah Thailand Selatan yang sering dilanda konflik.
Simbol Keibuan dan Hari Ibu Nasional
Citra Ratu Sirikit di mata rakyat Thailand sangat kuat. Ia dikenal sebagai “Ibu Bangsa,” dan hari ulang tahunnya, 12 Agustus, diperingati sebagai Hari Ibu Nasional Thailand. Keberadaannya sebagai figur yang tulus dan penuh kasih sayang membuatnya dicintai oleh banyak orang.
Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat
Ratu Sirikit memiliki empat anak, yakni satu putra — Raja Maha Vajiralongkorn, yang kini memimpin Thailand — serta tiga putri. Sejak mengalami stroke pada 2012, beliau jarang tampil di hadapan publik. Setelah kepergian Raja Bhumibol pada 2016, ia dikenal dengan gelar Ibu Suri (Queen Mother) dan menjalani kehidupan yang lebih tertutup.
Keyakinan dan Warisan
Ratu Sirikit beragama Buddha, keyakinan yang sangat memengaruhi cara hidup dan pengabdiannya bagi rakyat. Warisannya bukan hanya berupa citra glamor, tetapi juga ketulusan dan dedikasi untuk kesejahteraan masyarakat Thailand.
Ratu Sirikit, atau Ibu Suri dikenang sebagai simbol kasih sayang, kemanusiaan, dan pengabdian tanpa pamrih bagi bangsanya. Publik di Thailand juga sangat mencintainya. Kehidupan dan warisannya akan terus diingat sebagai bagian penting dari sejarah bangsa Thailand.
Komentar
Kirim Komentar