Mikroplastik di Hujan Jakarta: Bahaya Tidak dari Air, Tapi Udara

Mikroplastik di Hujan Jakarta: Bahaya Tidak dari Air, Tapi Udara

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Mikroplastik di Hujan Jakarta: Bahaya Tidak dari Air, Tapi Udara, banyak fakta menarik yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Di dalam pakaian yang terbuat dari poliester, serat plastik bisa ditemukan. Selain itu, ada juga serat dari ban mobil yang muncul di air hujan di kawasan pesisir Jakarta. Hal ini menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Namun, bahaya yang mengintai bukan berasal dari air hujannya sendiri, melainkan partikel mikroplastik yang tidak terlihat oleh mata telanjang di udara dan bisa dihirup manusia sebelum air hujan membersihkan udara di sekitar kita.

Kabar baiknya adalah bahwa secara umum, air hujan cenderung tidak berbahaya. Namun, kabar buruknya adalah bahwa udara yang mengandung mikroplastik dapat membahayakan sistem pernapasan manusia.

Penelitian tersebut berlangsung pada tahun 2022 selama 12 bulan. Dari sampel yang dikumpulkan, ditemukan antara tiga hingga 40 partikel, dengan rata-rata sekitar 15 partikel per meter persegi setiap hari. "Bayangkan jika ada rumah seluas 1.000 meter persegi, maka bisa saja 15.000 partikel jatuh ke dalam rumah itu," ujar Muhamad Reza Cordova, peneliti BRIN dan ahli mikroplastik yang telah mempelajari partikel-partikel tersebut selama satu dekade terakhir.

Menurut World Health Organization (WHO), mikroplastik adalah partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 mm. Sampel yang ditemukan dalam riset ini memiliki ukuran mulai dari 200 mikron, yang lebih kecil dari milimeter, sehingga membutuhkan alat bantu seperti mikroskop untuk dilihat. Beberapa kalangan menyebut mikroplastik sebagai nanoplastik karena ukurannya yang tidak bisa dilihat langsung dengan mata telanjang.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini adalah berbentuk serat seperti benang, terutama dari material sintetis seperti poliester dan nilon. Ada juga serat lain yang diduga berasal dari putung rokok. Partikel lain yang ditemukan adalah polimer yang terkait dengan ban kendaraan. "Ada unsur polybutadiene, yaitu bahan sintetis yang digunakan untuk membuat ban kendaraan," jelas Reza.

Studi lain menunjukkan bahwa keausan ban kendaraan menyumbang sekitar 28% dari total mikroplastik yang masuk ke lingkungan secara global, yaitu sekitar 6 juta ton per tahun. Mikroplastik ini dilepaskan dari abrasi ban dan ditemukan di tanah, air, serta udara.

Mikroplastik dalam penelitian BRIN terkait erat dengan aktivitas manusia di darat. Akibatnya, partikel ini lambat laun terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, atau terbawa angin dan melayang di udara hingga bisa terhirup manusia.

Bagaimana mikroplastik bisa ada dalam air hujan?

Masih belum bisa dibuktikan dalam penelitian BRIN apakah uap air yang menguap saat proses pembentukan awan hujan mengandung mikroplastik atau tidak. "Butuh riset yang lebih panjang untuk membuktikannya," jelas Reza. Yang jelas, mikroplastik berada di antara awan dan daratan.

BRIN menggunakan alat perangkap hujan steril yang ditempatkan di atas gedung setinggi 28 meter di pesisir Jakarta. Tidak hanya air hujan, tetapi partikel lain seperti debu dan uap air juga bisa masuk ke alat tersebut. Sampel kemudian disaring dan diperiksa di laboratorium.

Secara umum, ketika seseorang menampung air hujan di ember, biasanya ada residu debu di dasar ember. Residu tersebut berasal dari debu yang ikut masuk ke ember saat rintik hujan membasahi Bumi. Seperti debu, Reza menjelaskan bahwa "mikroplastik mengambang, melayang di udara, lalu saat air hujan turun, tetesannya mendorong mikroplastik ke bawah."

Reza menjelaskan bahwa air hujan yang mengandung mikroplastik umumnya tidak bersifat racun di luar tubuh manusia. Karena mikroplastik merupakan pencemar fisik atau benda asing yang mencemari lingkungan. Namun, ia menegaskan bahwa masyarakat perlu waspada karena partikel mikroplastik tak kasat mata itu melayang di udara. "Partikel mikroplastik ini bisa masuk secara langsung lewat saluran pernapasan saat udara kering, atau tidak sengaja terkonsumsi."

Di Jakarta, indeks kualitas udara relatif buruk. Dalam kondisi lingkungan yang kering, polutan lain di udara menempel pada partikel mikroplastik karena adhesif yang ditambahkan saat produksi plastik. Sehingga, risiko gangguan saluran pernapasan meningkat ketika seseorang menghirup udara yang mengandung kombinasi polutan dan mikroplastik.

Namun, ketika hujan turun, air hujan berfungsi untuk membersihkan udara. "Sebenarnya air hujan berfungsi untuk membersihkan [udara]," tambah Reza.

Waspada terhadap mikroplastik dalam udara yang kita hirup

Dalam beberapa penelitian, mikroplastik dapat masuk ke sistem tubuh manusia melalui saluran pencernaan, permukaan kulit, hingga saluran pernapasan. Mikroplastik juga sudah ditemukan di plasenta bayi hingga pembuluh darah.

Penelitian BRIN bisa menjadi pengingat tentang efek berulang dari udara yang mengandung mikroplastik yang bisa dihirup manusia setiap harinya. Dalam penelitian lain pada 2018, mikroplastik terdeteksi dalam debu yang jatuh dari atmosfer di area Paris dan sekitarnya. Penelitian tersebut menyebut bahwa penghirupan serat dan partikel mikroplastik seringkali menyebabkan sesak napas akibat respons peradangan di saluran napas dan paru-paru.

Meski demikian, menurut WHO, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui dampak mikroplastik di dalam tubuh manusia.

Menurut dokter spesialis paru, Wiwin Is Efendi, efek mikroplastik yang terhirup manusia bisa bervariasi dari ringan hingga jangka panjang. Apalagi, mikroplastik ini bergabung dengan polutan udara lainnya dalam bentuk PM2.5 dan PM10. "Jika sistem mukus kita mendeteksi jumlah tertentu mikroplastik yang masuk ke saluran pernapasan, maka sistem akan memberikan sinyal seperti batuk untuk mengeluarkannya," kata dokter Wiwin ketika menggambarkan gejala paling ringan paparan mikroplastik saat terhirup manusia.

Jika terpapar terus-menerus, efeknya bisa mencapai tahap kronis, "mulai dari penyakit paru obstruktif kronis, sehingga saluran pernapasan menjadi sempit, dan di paru-paru sendiri bisa terjadi kerusakan." Risiko terparah, menurutnya, adalah kanker paru.

Kondisi ini juga berdampak bagi kelompok masyarakat yang sudah memiliki penyakit bawaan. "Orang-orang yang sudah punya asma, dan terpapar partikel [mikroplastik], asmanya juga bisa kambuh," terang dokter Wiwin.

Mikroplastik akan memperparah keadaan orang-orang yang memiliki komorbid atau penyakit-penyakit penyerta dan para manula, menurut dokter Wiwin. "Karena kemampuan sistem tubuh untuk 'membuang' mikroplastik dari dalam tubuh juga sudah berkurang," ujarnya.

Dia menambahkan, dalam keadaan normal, sistem pertahanan tubuh seseorang akan bereaksi ketika benda asing termasuk mikroplastik masuk ke dalam tubuhnya, dan membuang benda asing itu, salah satunya melalui saluran pencernaan.

Lewat keadaan itu, dokter Wiwin menyarankan seseorang yang berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk untuk mengenakan masker. Praktik yang sama yang bisa dilakukan ketika masa pandemi Covid-19. Sementara langkah lain yang bisa dilakukan adalah menjaga daya tahan tubuh dengan asupan makanan yang bergizi dan berolahraga, sehingga pertahanan tubuh dalam kondisi siap ketika ada 'serangan' mikroplastik masuk ke dalam tubuh kita.

Kesimpulan: Semoga informasi ini berguna bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar