Kembali Beribadah, Jemaat Gereja St. Joseph Menghadapi Kekhawatiran dan Kepercayaan
Pada pagi hari Senin, jemaat gereja kembali datang ke Gereja St. Joseph di Bukit Timah untuk mengikuti misa, setelah sebelumnya gereja tersebut ditutup sementara akibat temuan benda mencurigakan di pekarangannya. Puluhan orang hadir dalam misa yang berlangsung pukul 6.30 pagi, yang merupakan pertama kalinya setelah penutupan pada tanggal 21 Desember 2025.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Benda yang ditemukan tersebut kemudian dipastikan tidak berbahaya. Dalam sambutannya di akhir kebaktian yang berlangsung selama setengah jam, Pendeta Peter Zhang menyampaikan rasa terima kasih kepada jemaat atas kesabaran dan pengertian mereka. Ia juga menyampaikan rasa syukur karena semua dalam keadaan sehat dan dapat melanjutkan perayaan misa.
"Kami lega karena kita semua dalam keadaan sehat dan dapat melanjutkan perayaan misa. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat-Nya dan karena telah menjaga keselamatan komunitas kita," ujar pendeta tersebut.
Di samping itu, ia menasihati umat paroki untuk tidak membuat spekulasi atau opini yang tidak berdasar. Pastor paroki Christopher Lee juga hadir dalam misa tersebut, memberikan dukungan dan kepastian kepada jemaat.
Pengalaman Jemaat yang Hadir
Nelson Quah, seorang pensiunan berusia 74 tahun, termasuk di antara jemaat yang hadir dalam kebaktian pukul 6.30 pagi. Ia biasanya menghadiri misa hampir setiap hari, tetapi tidak berada di gereja pada tanggal 21 Desember 2025 karena sakit. Quah mengatakan bahwa ia akan terus menghadiri gereja secara teratur seperti yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun, tetapi menyarankan agar langkah-langkah keamanan yang lebih ketat dapat diterapkan selama periode perayaan.
Ia merasa sedih dan khawatir ketika mengetahui tentang insiden tersebut. "Terjadi begitu cepat setelah insiden yang menimpa pendeta itu, dan ini terjadi lagi," katanya, merujuk pada insiden November 2024 ketika Pastor Lee ditikam saat kebaktian Sabtu malam.

Tanggapan dari Jemaat Lain
Bagi jemaat lain seperti Paul Yap, semuanya berjalan seperti biasa; ia mengatakan tidak terpengaruh dan akan terus pergi ke gereja setiap hari. "Pihak berwenang melakukan pekerjaan dengan baik dan kami juga memiliki tim keamanan yang bagus di sini," kata Yap.
Wee, seorang pensiunan berusia 79 tahun, juga tidak khawatir, dan berkata: "Kita memiliki Tuhan bersama kita."
Nyonya Cecille Solana, 60 tahun, seorang pengantar barang dari Filipina, mendengar tentang insiden tersebut dari media sosial dan berita ketika dia tiba di Singapura pada 21 Desember 2025 untuk mengunjungi putrinya. "Putri saya telah memperingatkan saya tentang kejadian itu dan menyuruh saya berhati-hati, tetapi saya tetap datang ke sini pagi ini karena keyakinan saya," katanya.
"Saya masih sangat bersemangat untuk menyelesaikan misa saya," tambah Madam Solana yang mengatakan bahwa dia akan terus pergi ke Gereja St. Joseph setiap hari sampai dia menyelesaikan doa Novena-nya sebuah devosi selama sembilan hari. "Saya bersyukur tidak ada yang terluka."
Penangkapan Sukarelawan Gereja
Seorang sukarelawan gereja berusia 26 tahun ditangkap berdasarkan undang-undang anti-terorisme pada 21 Desember setelah sebuah barang mencurigakan ditemukan di gereja tersebut sekitar pukul 7 pagi. Ia akan didakwa pada 22 Desember dengan tuduhan membuat ancaman teroris palsu.
Polisi mengatakan bahwa ia diyakini bertindak sendirian dan saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu adalah serangan bermotivasi agama atau tindakan teror.
Pada 21 Desember 2025, jemaat yang datang untuk misa Minggu pagi dievakuasi, dan Kelompok Pertahanan Kimia, Biologi, Radiologi, dan Bahan Peledak Angkatan Bersenjata Singapura diaktifkan. Polisi mengatakan bahwa benda tersebut, yang menyerupai alat peledak rakitan, dinilai sekitar pukul 10.40 pagi sebagai tiga gulungan kardus dan kawat yang direkatkan dengan selotip hitam, tanpa adanya unsur peledak.
Kendaraan tersebut kemudian dipindahkan dari lokasi kejadian dan operasi kepolisian berakhir sekitar pukul 5 sore. Tidak ada laporan korban luka. Gereja ditutup pada 21 Desember 2025, dan misa akan dilanjutkan pada 22 Desember 2025.
Komentar
Kirim Komentar