Opini: Kelahiran Yesus Selamatkan Keluarga

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Opini: Kelahiran Yesus Selamatkan Keluarga, berikut adalah fakta yang berhasil kami himpun dari lapangan.
Opini: Kelahiran Yesus Selamatkan Keluarga

Perayaan Natal: Pesan Damai dan Keselamatan dalam Keluarga

Rohaniwan Keuskupan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores
aiotrade

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Natal adalah momen yang selalu dinantikan oleh umat Kristiani di seluruh dunia. Pada tanggal 25 Desember, kita merayakan kelahiran Yesus Kristus, yang menjadi simbol iman, damai, dan sukacita. Dalam perayaan ini, suasana hangat dan penuh sukacita memenuhi berbagai sudut kota, rumah, hingga hati setiap individu yang merayakannya. Natal bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga membawa pesan-pesan penting seperti damai, kasih, harapan, dan persaudaraan.

Pada saat Natal tiba, waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terkasih, saling berbagi hadiah, serta menebarkan kebaikan kepada sesama. Sebagaimana layaknya kelahiran seorang anak pasti disambut dengan sukacita dan gembira, maka peristiwa iman mengenang kelahiran Yesus juga selalu menyenangkan dan menyukakan hati. Karena Dia lahir dan tinggal bersama kita untuk membawa damai dan sukacita.

Hari Natal merupakan perayaan kehadiran Allah dalam Yesus Kristus yang lahir di tengah umat manusia, termasuk di tengah keluarga. Kita percaya bahwa karya keselamatan Allah terjadi dan dialami di tengah setiap keluarga. Tuhan Yesus lahir ke dunia ketika manusia atau setiap keluarga sibuk membangun tembok-tembok pemisah, perpecahan, dan konflik yang menyebabkan damai dan persaudaraan hilang dari hati manusia.

Kelahiran Tuhan Yesus mau meretas tembok pemisah dan konflik perpecahan antarmanusia itu dengan membangun jembatan kasih, damai, persaudaraan, dan pengampunan. Dialah Sang Imanuel, Allah beserta kita yang menampakkan wajah Allah yang akbar atau jauh dan mengaggumkan (Deus Tremendum) menjadi Allah yang akrab, dekat dan tinggal bersama manusia (Deus Fascinosum).

Hati kita semua bergembira dan bersukacita seperti para gembala di padang Efrata ketika mendengar warta para malaikat "Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Mesias, Tuhan di kota Daud” (Luk 2:11). Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) menetapkan Pesan Natal Nasional 2025 dengan tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21-24). Tema ini menjadi pedoman utama bagi gereja-gereja di seluruh Indonesia untuk merayakan Perayaan Natal dan rangkaian seremoni sukacita merayakan Natal.

Dengan itu, umat Kristiani disadarkan bahwa kelahiran Yesus bukan hanya sebuah peristiwa iman yang sakral, tetapi juga nyata dalam kehidupan keluarga masa kini. Tuhan sungguh hadir dalam dinamika rumah tangga, relasi, dan keseharian setiap anggota keluarga. Dalam Matius 1:21-24, diceritakan bahwa Allah merealisasikan janji keselamatan melalui kelahiran Yesus, Sang Imanuel – yang berarti 'Allah bersama kita' – dalam keluarga sederhana Maria dan Yusuf.

Dengan demikian, kisah ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus adalah wujud nyata dari pemenuhan janji keselamatan Allah. Nama Yesus tidak hanya menunjuk pada identitas dan karakter pribadi-Nya, melainkan lebih kepada peran-Nya sebagai Penyelamat yang membebaskan umat yang percaya dari dosa. Matius menekankan bahwa kelahiran Yesus sebagai Mesias, lahir dari rahim Maria yang masih perawan, merupakan penggenapan nubuat dalam Perjanjian Lama (bdk. Yesaya 7:14).

Allah melibatkan keluarga Maria dan Yusuf dalam rencana penyelamatan-Nya bagi seluruh manusia, meskipun prosesnya tidaklah mudah. Yusuf awalnya berencana menceraikan Maria secara diam-diam, namun ia membatalkan niat itu setelah mendengar pesan malaikat dalam mimpinya (Matius 1:20, 24). Keputusan Yusuf untuk menerima Maria sebagai istrinya menunjukkan keterbukaan hatinya sebagai orang yang percaya pada janji keselamatan Allah dan menantikan kedatangan Imanuel.

Ia menganggap pesan malaikat dalam mimpinya sebagai kebenaran, bahwa Allah sedang menggenapi rencana penyelamatan melalui keluarganya. Dengan demikian, Yusuf dan Maria menjadi contoh bagaimana keluarga yang taat kepada Allah bisa menjadi saluran kasih dan keselamatan bagi dunia (bdk. Matius 1:19-20). Kisah Maria dan Yusuf menggambarkan keluarga sebagai tempat pertama di mana karya keselamatan Allah diwujudkan.

Keteguhan hati Yusuf dalam menaati kehendak Allah menunjukkan bagaimana iman dan keberanian dapat membawa keluarga mengikuti rencana keselamatan Tuhan. Kelahiran Yesus: Menyelamatkan Keluarga. Perubahan sikap Yusuf setelah malaikat muncul dalam mimpinya menjadi momen pewahyuan, di mana Allah menyelamatkan keluarganya. Kehadiran malaikat membuatnya tetap setia menemani Maria.

Bagi kita, peristiwa Natal menginspirasi upaya menyelamatkan keluarga dari berbagai krisis hidup. Jadi, kelahiran Yesus dalam sebuah keluarga, serta cara Maria dan Yusuf meresponsnya dengan ketaatan, sangat relevan untuk menghadapi tantangan keluarga di zaman sekarang.

Krisis-krisis yang sering kali menghancurkan keluarga, seperti perpisahan atau perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, keterasingan karena kesulitan ekonomi, judi online (judol), pinjaman online (pinjol), narkoba, individualisme, dan materialisme, membuat keluarga kehilangan kehangatannya. Matius 1:21-24 mengajak kita untuk menjadikan keluarga sebagai ruang kehadiran Allah dan karya penyelamatan-Nya bagi manusia.

Dalam keluarga, suami dan istri memiliki peran yang setara dan bertanggung jawab terhadap pasangan, anak-anak, dan orang-orang yang ada di dalamnya. Keluarga adalah 'Gereja kecil' (ecclesia domestica), tempat kasih Kristus pertama kali dihidupi. Keluarga sebagai wujud gereja yang paling mendasar. Di sinilah, nilai-nilai Kristiani seperti kasih, ketulusan, pengampunan, dan pengharapan pertama kali ditanamkan dan dihidupi.

Perayaan Natal adalah momen tepat untuk merenungkan karya Allah yang menyelamatkan melalui pemulihan dan penguatan keluarga. Kelahiran Yesus Kristus membuktikan kehadiran Allah yang memulihkan, membebaskan, dan membimbing setiap keluarga. Maka, keluarga Kristiani diharapkan menjadi tempat di mana kehendak Allah didengarkan dan dijalankan, dengan nilai-nilai Kristiani yang dihidupi bersama.

Sebagai warga gereja, kita diajak untuk terlibat aktif, menunjukkan kepedulian atau sikap belarasa (compassion) dengan memberi dukungan nyata kepada keluarga yang menghadapi kesulitan. Kepedulian ini akan membawa dampak positif bagi Gereja, bangsa, dan dunia. Pesan Natal ini relevan bagi Gereja Indonesia dan umat manusia yang menghadapi krisis multidimensi—baik kebangsaan, kemanusiaan, ekologi, pendidikan, maupun budaya.

Akar persoalan ini seringkali adalah kecenderungan manusia yang lebih mengutamakan kehendak sendiri daripada kehendak Allah. Oleh karena itu, keluarga-keluarga perlu tekun mendengarkan dan mengutamakan Tuhan, agar mengalami keselamatan, memiliki ketahanan, dan menjadi berkat di tengah krisis. Karena keluargalah tempat Allah hadir dan berkarya, keluarga Kristiani semestinya didampingi dengan serius dan berkelanjutan, mulai dari persiapan pernikahan hingga perjalanan keluarga selanjutnya.

Semoga Natal tahun ini menjadi momen untuk menyelamatkan keluarga, bangsa, dan negara kita dari berbagai krisis yang melanda. Kelahiran Yesus meruntuhkan tembok-tembok krisis dengan membangun jembatan kasih, damai, persaudaraan, dan pengampunan. Kiranya keluarga-keluarga Kristiani mengalami kehadiran Tuhan, memulihkan hubungan dengan Allah dan sesama, mengikuti teladan Keluarga Kudus di Nazaret.

Melalui Natal, Kristus menyelamatkan keluarga kita, agar kita menjadi perpanjangan kasih Allah yang menyelamatkan dunia. Kiranya, dengan perayaan Natal ini, kita kembali mengalami kehadiran Allah yang menyelamatkan keluarga-keluarga kita. Semoga rumah kita, keluarga, komunitas, gereja, tempat kerja, bangsa, dan negara yang terluka oleh krisis, disembuhkan oleh kelahiran Yesus.

Kiranya setiap keluarga menjadi tempat di mana hubungan dengan Allah dan sesama dipulihkan, harapan dinyalakan, kasih dikuatkan, dan iman diteguhkan. Kiranya setiap anggota keluarga merasakan kehadiran Allah yang menyertai, memulihkan, dan menyelamatkan kita. Sebab, Tuhan Yesus telah lahir dan tinggal di tengah keluarga kita. Dialah Emanuel, Allah Berserta kita. Selamat merayakan Natal 2025 bagi segenap umat Kristiani. (*)

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Opini: Kelahiran Yesus Selamatkan Keluarga. Semoga menambah wawasan Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar